Erupsi Anak Krakatau Ganggu Penerbangan, Pariwisata dan MICE Batam Mulai Terdampak

Antara • Dipublikasikan Senin, 7 September 2026 | 15:31 WIB
Wali Kota Batam Amsakar Achmad usai menghadiri konferensi pers pengungkapan 800 kilogram narkotika jenis ketamin HCL di Mapolda Kepri, Selasa (1/9). F. Jamaluddin/Batam Pos
Wali Kota Batam Amsakar Achmad. F. Jamaluddin/Batam Pos

batampos – Pemerintah Kota Batam, Kepulauan Riau, menilai gangguan penerbangan akibat erupsi Gunung Anak Krakatau mulai berdampak terhadap sektor pariwisata dan Meeting, Incentive, Convention and Exhibition (MICE) di Kota Batam.

Wali Kota Batam Amsakar Achmad mengatakan, pembatalan penerbangan yang berlangsung selama beberapa hari menghambat mobilitas masyarakat dari dan menuju Batam. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi aktivitas ekonomi daerah.

“Pasti berpengaruh. Menurut saya seluruh daerah MICE ketika aksesibilitas ini terganggu, jalur keluar masuk orang terganggu, sebagai pusat logistik juga jalur keluar masuk barang terganggu, tentu saja akan berpengaruh dengan pergerakan ekonomi di daerah,” kata Amsakar di Batam, Senin (7/9).

Gangguan penerbangan juga berdampak terhadap sejumlah agenda kerja sama yang telah dijadwalkan Pemkot Batam. Salah satunya pertemuan di Jakarta dengan Putri Ratu Swedia yang dilanjutkan dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) terkait kelistrikan.

“Ada beberapa agenda pertemuan di Jakarta, seperti pertemuan dengan Putri Ratu Swedia yang kemudian dilanjutkan dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) terkait kelistrikan,” ujarnya.

Meski demikian, agenda tersebut masih dapat diwakili oleh Wakil Wali Kota Batam Li Claudia Chandra yang saat ini berada di Jakarta.

Amsakar berharap dampak erupsi tidak berlangsung lama sehingga konektivitas penerbangan Batam dapat kembali normal dalam beberapa hari ke depan. Ia juga meminta pemerintah segera memberikan kepastian terkait pembukaan kembali jalur penerbangan dengan tetap mempertimbangkan kondisi udara dan aspek keselamatan.

“Harapan kita dua atau tiga hari ke depan sudah ada pengumuman resmi dari pemerintah untuk membuka kembali alur penerbangan kita,” katanya.

Menurut Amsakar, keputusan pembukaan kembali penerbangan harus mempertimbangkan berbagai indikator, mulai dari kondisi udara, pergerakan abu vulkanik hingga informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Di sisi lain, sektor pariwisata Batam sebenarnya tengah menunjukkan tren positif. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batam mencatat kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) sepanjang Januari-Juli 2026 mencapai 964.457 kunjungan.

Angka tersebut meningkat dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang tercatat sebanyak 861.997 kunjungan. Wisman yang berkunjung ke Batam masih didominasi wisatawan asal Singapura, Malaysia, dan China.

“Kalau dampak pembatalan penerbangan ini dan kaitannya dengan arus pariwisata, dipastikan terpengaruh,” kata Amsakar.

Ia menegaskan, gangguan penerbangan saat ini merupakan dampak faktor alam sehingga aspek keselamatan tetap harus menjadi prioritas. Namun, jika berlangsung terlalu lama, dampaknya terhadap konektivitas, sektor pariwisata, agenda MICE, serta pergerakan ekonomi Batam akan semakin besar.

Amsakar berharap penerbangan segera kembali normal agar berbagai agenda yang tertunda dapat dijadwalkan kembali dan aktivitas pariwisata serta MICE di Batam tidak mengalami gangguan berkepanjangan. (*)

Editor : Jamil Qasim
Erupsi Anak Krakatau Ganggu Penerbangan