batampos – Cadangan air baku di Waduk Nongsa, Batam, Kepulauan Riau, terus menyusut. Kondisi ini membuat PT Air Batam Hilir (ABH) kembali menurunkan produksi air dari Instalasi Pengolahan Air Minum (IPAM) Nongsa menjadi 45 liter per detik.
Penurunan produksi tersebut dilakukan secara bertahap untuk memperpanjang ketahanan cadangan air baku. Jika tidak ada penambahan pasokan dari hujan atau sumber lain, cadangan air di Waduk Nongsa diperkirakan hanya mampu bertahan sekitar dua pekan.
PT ABH mengumumkan penyesuaian produksi tersebut pada Selasa (8/9/2026). Sebelumnya, produksi IPAM Nongsa berada di level 65 liter per detik pada 12 Agustus.
Produksi kemudian diturunkan menjadi 60 liter per detik pada 17 Agustus, kembali menjadi 50 liter per detik pada 24 Agustus, dan kini berada di angka 45 liter per detik.
“Untuk menjaga keberlangsungan layanan, maka dilakukan penyesuaian produksi secara bertahap seiring berkurangnya pasokan air baku di Waduk Nongsa,” demikian keterangan PT ABH melalui akun media sosial resminya.
Muka Air Waduk Nongsa Tinggal 6,33 Meter
Penyusutan cadangan air tersebut juga tercermin dari kondisi Waduk Nongsa. Berdasarkan pemantauan Badan Pengusahaan (BP) Batam, elevasi muka air waduk berada di angka 6,33 meter.
Angka tersebut masih terpaut 3,67 meter dari elevasi penuh waduk yang mencapai 10 meter.
Deputi Bidang Pengusahaan BP Batam, Denny Tondano, mengatakan kondisi muka air Waduk Nongsa terus dipantau untuk memastikan ketersediaan air baku bagi masyarakat.
“Kami terus memantau dinamika elevasi ini untuk memastikan operasional pengolahan air tetap berjalan aman,” kata Denny dalam keterangan tertulis, Minggu (6/9/2026).
Kondisi fisik waduk juga menunjukkan penyusutan yang cukup signifikan. Pantauan di lapangan pada Selasa sore memperlihatkan garis air mundur dari tepian waduk.
Bekas genangan meninggalkan sedimentasi yang membentang dari tepian menuju bagian tengah waduk. Sejumlah area yang sebelumnya terendam kini terlihat terbuka, dengan permukaan tanah yang retak dan mengeras.
Vegetasi berupa semak serta bibit pohon juga mulai tumbuh di sejumlah bagian yang sebelumnya menjadi area genangan.
El Niño hingga Kerusakan Daerah Tangkapan Air
PT ABH menyebut penyesuaian produksi dilakukan sebagai langkah antisipasi terhadap berkurangnya pasokan air baku akibat fenomena El Niño dan minimnya curah hujan di kawasan Nongsa.
Namun, persoalan Waduk Nongsa dinilai tidak hanya berkaitan dengan faktor cuaca.
Founder NGO Akar Bhumi Indonesia, Hendrik Hermawan, mengatakan kerusakan daerah tangkapan air (DTA) turut berpotensi mempercepat penyusutan cadangan dan sedimentasi waduk.
Menurut dia, pembukaan lahan di sekitar DTA dapat mengurangi kemampuan kawasan dalam menyerap dan menyimpan air sebelum dialirkan ke waduk.
“Kalau DTA-nya rusak, bagaimana air bisa masuk ke waduk?” kata Hendrik.
Ia juga menilai pembukaan lahan dan pelepasan kawasan hutan di sekitar DTA berpotensi meningkatkan material yang terbawa menuju waduk. Akibatnya, sedimentasi dapat mempercepat pendangkalan dan pada saat yang sama mengurangi kapasitas tampungan.
Hendrik mengatakan perubahan kawasan di sekitar Waduk Nongsa terlihat dalam waktu relatif singkat. Berdasarkan pemantauan Akar Bhumi, area yang mengalami penyusutan dan sedimentasi kini lebih luas dibandingkan sekitar sebulan sebelumnya.
Ia mendorong pemerintah mengevaluasi kembali kebijakan alokasi lahan serta pelepasan kawasan hutan yang berada di daerah tangkapan air.
“Kerusakan di sana salah satunya akibat kebijakan alokasi lahan dan pelepasan kawasan hutan,” ujarnya.
Cadangan Air Nongsa Diperkirakan Bertahan Dua Pekan
Juru Bicara PT ABH, Ginda Alamsyah, membenarkan produksi IPAM Nongsa sengaja diturunkan untuk memperpanjang daya tahan cadangan air baku.
Menurut Ginda, mempertahankan produksi pada tingkat sebelumnya akan membuat cadangan air waduk lebih cepat terkuras.
“Ini produksi kita turunkan. Kalau terus dipaksakan dengan produksi sebelumnya, ketahanan air waduk akan cepat habis,” kata Ginda.
Dalam kondisi saat ini, ABH memperkirakan cadangan air baku Waduk Nongsa hanya mampu bertahan sekitar dua pekan.
Perusahaan berharap hujan segera turun sehingga elevasi muka air waduk kembali meningkat.
Di sisi lain, ABH telah menyiapkan langkah antisipasi apabila kondisi terus memburuk. Salah satunya melalui rencana penyambungan dan pemanfaatan sumber air dari sistem Waduk Duriangkang.
“Sudah ada,” kata Ginda ketika ditanya mengenai persiapan menghadapi kemungkinan memburuknya kondisi Waduk Nongsa.
Penurunan produksi IPAM Nongsa berdampak langsung terhadap pelanggan yang berada dalam jalur suplai instalasi tersebut. ABH menyatakan jam layanan air akan disesuaikan.
Namun, perusahaan belum merinci pola distribusi baru, termasuk waktu aliran air tersedia dan durasi suplai kepada pelanggan.
Aktivis Minta Pemerintah Perbaiki DTA
Akar Bhumi Indonesia mendorong pemerintah tidak hanya mengandalkan hujan sebagai solusi terhadap persoalan pasokan air.
Menurut Hendrik, perlindungan daerah tangkapan air dan rehabilitasi kawasan harus menjadi bagian dari strategi jangka panjang pengelolaan sumber air Batam.
Ia mengusulkan pembentukan satuan tugas khusus untuk mengawasi DTA, tidak hanya di Waduk Nongsa tetapi juga waduk lain yang menjadi sumber air baku Batam.
BP Batam juga didorong memperketat pengawasan terhadap kawasan waduk dan daerah tangkapan air.
“Jangan hanya fokus pada Dam Nongsa. Dam-dam lainnya juga mengalami degradasi,” kata Hendrik.
Ia meminta pemerintah menghentikan okupasi kawasan hutan untuk aktivitas pertanian maupun penggunaan lain yang berpotensi mengganggu fungsi DTA.
Hendrik juga menyebut pendalaman waduk sebagai salah satu opsi untuk meningkatkan kapasitas tampungan. Namun, langkah tersebut membutuhkan biaya besar dan tidak dapat menggantikan upaya pemulihan ekosistem DTA.
“Menanam pohon sekarang memang bukan solusi untuk menyelesaikan masalah hari ini. Tapi itu langkah jangka panjang,” ujarnya.
Dalam jangka pendek, masyarakat juga didorong mengurangi konsumsi air.
Hendrik menilai pemerintah perlu menghitung kembali daya dukung sumber air Batam seiring terus berkembangnya investasi, terutama sektor yang membutuhkan air dalam jumlah besar.
“Kalau sumber air kita terbatas, sementara laju investasi terus berjalan, pemerintah harus menghitung kembali daya dukung sumber air,” katanya.
Data Center Nongsa Disiapkan Gunakan SWRO
Di tengah menyusutnya cadangan air baku Waduk Nongsa, pemerintah menyiapkan alternatif melalui teknologi Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) atau desalinasi air laut.
Skema ini diarahkan untuk memenuhi kebutuhan air bersih pusat data atau data center yang berkembang di kawasan Nongsa.
Sedikitnya dua perusahaan pengelola data center disebut telah mengajukan rencana pembangunan fasilitas SWRO. Langkah tersebut diharapkan dapat mengurangi tekanan terhadap sumber air baku konvensional di Batam.
Wali Kota Batam sekaligus Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, mengatakan dua perusahaan yang menyiapkan rencana tersebut adalah DayOne Batam dan PT Equator Gate System Batam.
Menurut Amsakar, pemerintah akan mempertimbangkan kesiapan pasokan listrik dan komitmen pemenuhan kebutuhan air sebelum memberikan persetujuan pengembangan data center.
“Kita menyatakan yes or no terhadap data center itu bilamana ketersediaan listriknya sudah oke dari PLN. Dan komitmen soal air bersihnya sudah oke,” kata Amsakar seusai rapat paripurna DPRD Kota Batam, Senin (7/9/2026).
Amsakar mengatakan DayOne telah memiliki memorandum of understanding (MoU) dengan PLN terkait kebutuhan listrik. Perusahaan tersebut juga disebut telah menyatakan kesanggupan membangun fasilitas SWRO.
“DayOne oke juga membangun SWRO. Yang penting pemerintah, dalam hal ini BP Batam, bisa support untuk segala jenis perizinan,” ujarnya.
Nilai pembangunan fasilitas SWRO yang disiapkan DayOne disebut mencapai sekitar Rp180 miliar.
Sementara itu, PT Equator Gate System Batam juga mulai menyusun perencanaan pembangunan SWRO untuk mendukung operasional pusat data kecerdasan buatan atau AI data center di Nongsa.
Air SWRO Berpeluang Dipakai Masyarakat
Pemerintah Batam membuka kemungkinan air hasil desalinasi tersebut tidak hanya digunakan untuk kebutuhan industri.
Jika kapasitas produksi SWRO lebih besar dibandingkan kebutuhan operasional data center, kelebihan produksinya berpotensi dimanfaatkan untuk kebutuhan masyarakat di sekitar kawasan.
“Jika itu bisa dilakukan, maka sangat mungkin kelebihan debit airnya dapat kita manfaatkan untuk kepentingan lokal,” kata Amsakar.
Menurut dia, skema tersebut dapat menjadi titik temu antara kebutuhan investasi dan kepentingan pelayanan publik.
SWRO merupakan teknologi yang menggunakan tekanan tinggi untuk memisahkan garam dan berbagai kandungan lain dari air laut melalui membran reverse osmosis. Air hasil pengolahan kemudian dapat dimanfaatkan sesuai standar kualitas dan kebutuhan pengguna.
Meski demikian, pemanfaatan air SWRO untuk masyarakat masih bergantung pada kapasitas fasilitas, kualitas air hasil pengolahan, jaringan distribusi, serta tata kelola setelah fasilitas tersebut diserahkan kepada BP Batam.
Kebutuhan Air Jadi Pertimbangan Pengembangan Data Center
Kondisi Waduk Nongsa menunjukkan tantangan yang dihadapi Batam dalam menjaga keseimbangan antara pertumbuhan investasi dan ketersediaan sumber daya air.
Pemerintah kini mendorong agar kebutuhan air menjadi salah satu pertimbangan penting dalam pengembangan data center di Nongsa.
Dengan kewajiban menyiapkan sumber air alternatif seperti SWRO, ekspansi industri yang membutuhkan air dalam jumlah besar diharapkan tidak semakin membebani sistem penyediaan air baku yang sudah ada.
Jika pembangunan fasilitas SWRO berjalan sesuai rencana dan menghasilkan kapasitas berlebih, sumber air hasil desalinasi tersebut berpotensi menjadi tambahan pasokan untuk kebutuhan masyarakat.
Namun, solusi tersebut tetap perlu berjalan beriringan dengan perlindungan daerah tangkapan air, pengendalian sedimentasi, efisiensi konsumsi, serta pengelolaan sumber air baku Batam secara berkelanjutan. (*)
Editor : Putut Ariyo