ISPA Terkait Kabut Asap Turun, dari 446 Jadi 239 Kasus

Muhammad Sya'ban • Dipublikasikan Jumat, 18 September 2026 | 17:30 WIB
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Batam Meldasari.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Batam Meldasari.


batampos - Laporan warga yang mengalami gangguan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang dikaitkan dengan kabut asap di Batam turun hampir separuh dalam dua hari. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam mencatat 446 orang melaporkan gangguan ISPA pada 14 September, kemudian turun menjadi 239 orang pada 16 September.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Batam, Melda Sari, mengatakan laporan tersebut dicatat setiap hari. Penurunan terjadi seiring kondisi kualitas udara yang mulai membaik setelah kabut asap menyelimuti Batam dalam beberapa hari terakhir.

“Dalam hal ini laporan kami buat per hari. Itu jauh turunnya,” kata Melda saat dikonfirmasi Batam Pos, Kamis (17/9) sore.

Menurut Melda, dalam tiga hari terakhir kondisi Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di Batam mulai menurun. Hingga Kamis, Dinkes belum menerima laporan terbaru terkait angka ISPU maupun jumlah warga yang mengalami ISPA.

Data terakhir pada Rabu (16/9) menunjukkan 239 orang melaporkan gangguan ISPA. Angka itu turun dibandingkan Senin (14/9), ketika 446 orang tercatat mengalami gangguan ISPA yang disebut berkaitan dengan kabut asap.

“Artinya berarti sudah lima puluh persen kan penurunannya. Karena ISPU-nya juga sudah mulai membaik dari beberapa hari sebelumnya,” ujar Melda.

ISPU memiliki sejumlah kategori kualitas udara, mulai dari baik, sedang, tidak sehat, sangat tidak sehat hingga berbahaya. Berdasarkan ketentuan pemerintah, ISPU 51–100 masuk kategori sedang, sedangkan 101–200 masuk kategori tidak sehat.

Baca Juga: Gaji 1.025 Pekerja Ghim Li Rp12 Miliar Belum Cair, Terkendala Surat Pernyataan

Melda mengatakan kondisi ISPU Batam sebelumnya berada di kisaran 60-an atau kategori sedang. Dalam kondisi tersebut, masyarakat masih dapat beraktivitas di luar, tetapi kelompok sensitif dianjurkan mengurangi aktivitas fisik yang terlalu lama atau berat.

“Kalau sedang sendiri artinya kurangi aktivitas keluar rumah. Kalau beraktivitas itu pakai masker. Jadi kurangi aktivitas di luar,” katanya.

Ratusan warga yang datang ke layanan kesehatan rata-rata mengalami keluhan ISPA. Dinkes masih memantau perkembangan kualitas udara dan laporan kesehatan dari fasilitas pelayanan kesehatan.

Melda mengatakan langkah antisipasi telah dilakukan melalui puskesmas. Edukasi kepada masyarakat juga terus berjalan sebagai tindak lanjut Surat Edaran Wali Kota Batam Nomor 47 tentang kesiapsiagaan menghadapi kondisi tersebut.

Menurut dia, sosialisasi tidak hanya ditujukan kepada masyarakat, tetapi juga fasilitas pelayanan kesehatan dan perkantoran.

“Yang artinya bagi masyarakat dan fasilitas badan kesehatan, dan kantor-kantor, sudah kita sebarkan surat edaran tersebut,” ujarnya.

Dinkes Batam juga membuka kemungkinan pembagian masker secara langsung di lapangan. Namun, langkah tersebut masih akan dilaporkan kepada Wali Kota Batam Amsakar Achmad untuk menentukan bentuk penanganan selanjutnya.

“Nanti kita akan sampaikan juga kepada Bapak Wali Kota, apakah memang mau dalam bentuk di jalan-jalan bagi masker atau bagaimana. Nanti kita akan laporkan dulu,” kata Melda. (*)

Editor : Yofi Yuhendri
kualitas udara ISPU ispa dinkes batam kabut asap