21 Hari Bertahan di Tenda, Pekerja Ghim Li Batam Menunggu Gaji dan Kepastian

Muhammad Sya'ban • Dipublikasikan Minggu, 27 September 2026 | 23:35 WIB
Para pekerja PT Ghim Li Indonesia, Batam, bergantian berjaga selama 21 hari di tenda biru perjuangan untuk menjaga aset perusahaan sekaligus menunggu pembayaran hak dan kepastian nasib mereka. Foto diambil Minggu (27/9). F: M. Sya’ban/Batam Pos
Para pekerja PT Ghim Li Indonesia, Batam, bergantian berjaga selama 21 hari di tenda biru perjuangan untuk menjaga aset perusahaan sekaligus menunggu pembayaran hak dan kepastian nasib mereka. Foto diambil Minggu (27/9). F: M. Sya’ban/Batam Pos

batampos – Panci berisi ikan belanak asam pedas mengepul di bawah tenda biru di depan PT Ghim Li Indonesia, Minggu (27/9). Olidawati sibuk menyiapkan makanan untuk rekan-rekannya yang berjaga.

Bukan suasana rumah yang membuat perempuan yang bekerja di bagian produksi sewing dan obras itu memasak di sana. Sudah 21 hari ia bersama ratusan pekerja lainnya bertahan di depan perusahaan, menunggu gaji dan kepastian atas persoalan ketenagakerjaan yang belum juga tuntas.

Hujan yang mengguyur Batam sejak pagi hingga sore membuat kondisi di bawah tenda semakin terbatas. Namun, dua tenda yang didirikan serikat pekerja SPSI dan F-SPMI tersebut tetap dipertahankan.

Sejak 7 September, para pekerja bergantian menjaga tenda sekaligus aset perusahaan. Mereka menyebutnya sebagai tenda perjuangan untuk memperjuangkan hak yang belum diterima. Persoalan itu menyangkut 1.025 pekerja PT Ghim Li Indonesia.

Penjagaan dilakukan bergiliran. Pekerja laki-laki lebih banyak mendapat jadwal malam, sedangkan pekerja perempuan berjaga sejak pagi hingga sore.

Pada Senin hingga Jumat, para pekerja tetap melakukan absensi. Sementara Sabtu dan Minggu tidak ada absensi karena hari libur.

Hari-hari di tenda dijalani dengan kondisi seadanya. Para pekerja memasak, makan, beristirahat, dan berbincang sambil menunggu kabar terbaru mengenai penyelesaian persoalan mereka.

Kebutuhan makanan dipenuhi dari bantuan masyarakat dan patungan sesama pekerja. Namun, bantuan tidak selalu datang setiap hari.

Olidawati mengatakan, dirinya telah bekerja di PT Ghim Li Indonesia sejak 2008. Selama 21 hari terakhir, sebagian waktunya dihabiskan di tenda tersebut.

“Sudah 21 hari kami bertahan di tenda,” kata Olidawati kepada Batam Pos, Minggu (27/9).

Ikan belanak yang dimasaknya hari itu merupakan bantuan dari masyarakat. Selain ikan, para pekerja juga menerima beras dan minyak goreng.

“Ada yang kasih ikan, ada yang kasih beras, ada yang kasih minyak makan,” ujarnya.

Persoalannya, bantuan tersebut tidak datang secara rutin. Dalam sehari, bantuan bisa datang dua kali. Namun, pada hari lain tidak ada sama sekali.

“Enggak pasti, kadang ada, kadang juga ada sama sekali. Kadang ada yang dua kali (datang kasih dalam sehari),” katanya.

Kondisi tersebut membuat para pekerja harus menghemat persediaan makanan. Olidawati mengaku mereka bahkan sempat beberapa hari hanya memasak mi instan karena tidak memiliki uang untuk membeli bahan makanan.

“Karena kemarin enggak ada donatur, kami enggak ada duit mau beli makan. Mau gajian belum ada, apa yang mau kami beli. Terpaksa masak mi instan,” ujarnya.

Bagi Olidawati, persoalan yang dihadapi pekerja bukan sekadar bagaimana bertahan makan di tenda. Di rumah, ada keluarga yang juga menunggu dan membutuhkan biaya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Ia berharap persoalan tersebut segera diselesaikan sehingga hak pekerja dapat dibayarkan.

“Percepatlah hak kami dibayar. Karena ibaratnya bukan untuk diri kami sendiri. Untuk keluarga kami juga ada di rumah,” katanya.

Menurut Olidawati, bantuan makanan memang membuat pekerja yang berjaga di tenda tetap bisa makan. Namun, bantuan itu tidak menyelesaikan kebutuhan keluarga mereka di rumah.

“Okelah kami di sini bisa makan karena ada donatur. Keluarga di rumah kami tidak tahu makan apa,” ujarnya.

“Ada yang kasih gorengan, ada yang kasih ikan kami masak. Tapi keluarga di rumah harus kita pikirkan. Di sini kami kenyang, tapi keluarga di rumah belum tentu tahu makan apa,” lanjutnya.

Pemerintah Telusuri Persoalan Pekerja

Di tengah penantian para pekerja, pemerintah masih menelusuri persoalan yang menyangkut 1.025 karyawan PT Ghim Li Indonesia.

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Kepri Diky Wijaya bersama tim kecil yang berkolaborasi dengan Pemerintah Kota Batam sebelumnya melakukan pemeriksaan ke Jakarta dan Bekasi pada Kamis (24/9).

Pemeriksaan tersebut dilakukan untuk menelusuri persoalan hak pesangon dan kompensasi pekerja, termasuk kaitannya dengan PT Gelora Indah Tunas.

Diky mengatakan, pemerintah masih berupaya mencari kejelasan mengenai persoalan yang dihadapi para pekerja.

Saat dikonfirmasi Batam Pos, Minggu (27/9), Diky menyebut pihaknya akan kembali bertemu dengan Pemko Batam untuk membahas perkembangan penanganan persoalan tersebut.

Pertemuan dijadwalkan berlangsung Senin (28/9) sekitar pukul 15.00 WIB.

“Besok sore kami akan gelar pertemuan dengan Pemko Batam membahas lanjut soal nasib karyawan itu,” kata Diky.

Sementara itu, dua tenda biru masih berdiri di depan PT Ghim Li Indonesia.

Di sana, para pekerja tetap bergantian berjaga. Mereka menunggu kepastian mengenai hak yang diperjuangkan sekaligus jawaban yang bisa dibawa pulang kepada keluarga. (*)

Editor : M Tahang
Ketenagakerjaan PT Ghim Li Indonesia Pekerja Ghim Li Batam pembayaran gaji