batampos - Tekanan biaya hidup di Kota Batam kembali menguat. Inflasi tahunan (year on year/y-on-y) pada September 2026 mencapai 3,65 persen, dengan kenaikan harga terutama terjadi pada transportasi, pangan, konsumsi di luar rumah, hingga kebutuhan perawatan pribadi.
Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batam mencatat, Indeks Harga Konsumen (IHK) naik dari 109,67 pada September 2025 menjadi 113,67 pada September 2026. Secara bulanan, Batam juga mengalami inflasi sebesar 0,26 persen.
Kepala BPS Kota Batam Devi Indriastuti mengatakan, kenaikan harga pada September terjadi pada hampir seluruh kelompok pengeluaran.
“Perkembangan harga berbagai komoditas pada September 2026 secara umum menunjukkan adanya kenaikan jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya,” kata Devi, Jumat (2/10).
Dari 11 kelompok pengeluaran yang mengalami inflasi tahunan, kelompok transportasi menjadi salah satu penyumbang terbesar. Indeks kelompok ini naik 6,17 persen dan memberikan andil 0,83 persen terhadap inflasi tahunan Batam.
Tekanan juga datang dari kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang naik 7,95 persen serta kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran yang meningkat 5,49 persen.
Sementara itu, kelompok makanan, minuman dan tembakau naik 4,19 persen secara tahunan. Kelompok ini menjadi penyumbang terbesar terhadap inflasi Batam dengan andil 1,22 persen.
Baca Juga: Sensus Ekonomi 2026 di Batam Capai 90 Persen, BPS Kejar Responden yang Sulit Ditemui
Sejumlah komoditas yang dominan mendorong inflasi tahunan antara lain emas perhiasan, angkutan udara, bensin, nasi dengan lauk, daging ayam ras, beras, sigaret kretek mesin (SKM), sewa rumah, tulang sapi, air kemasan, cabai rawit, udang basah, minyak goreng, ikan selar atau ikan tude, sepeda motor, ikan kembung, semangka, serta pelumas atau oli mesin.
Namun, tidak semua komoditas mengalami kenaikan harga. BPS mencatat sejumlah komoditas justru memberikan tekanan deflasi, di antaranya cabai merah, bayam, kangkung, buncis, telur ayam ras, bawang merah, wortel, kol putih, cabai hijau, kentang, ketimun, dan bawang putih.
Pergerakan harga selama September juga cukup dinamis. Secara bulanan, kelompok makanan, minuman dan tembakau mengalami inflasi 0,91 persen dengan andil 0,27 persen terhadap inflasi bulanan.
Kangkung menjadi salah satu komoditas yang mengalami kenaikan harga dengan andil 0,06 persen. Disusul cabai merah 0,04 persen, cabai rawit dan bayam masing-masing 0,03 persen, serta pepaya 0,02 persen.
Sebaliknya, penurunan harga angkutan udara, emas perhiasan, dan beras menjadi beberapa komoditas yang menahan laju inflasi bulanan.
Secara kumulatif sejak awal tahun, inflasi Batam hingga September 2026 tercatat 1,79 persen.
Inflasi tahunan September 2026 juga lebih tinggi dibandingkan periode yang sama dua tahun sebelumnya. BPS mencatat inflasi y-on-y Batam pada September 2025 sebesar 2,82 persen dan September 2024 sebesar 2,76 persen.
Dengan demikian, meski kenaikan harga dalam sebulan terakhir relatif terbatas, tekanan harga dalam setahun masih cukup kuat. Transportasi, pangan, konsumsi di luar rumah, dan kebutuhan pribadi menjadi sejumlah kelompok yang turut mendorong inflasi Batam. (*)
Editor : Yofi Yuhendri