batampos – Pemerintah Kota Batam terus mendorong pelestarian budaya Melayu melalui pelatihan tata rias pengantin yang memadukan keterampilan merias dengan pemahaman adat istiadat perkawinan Melayu.
Kegiatan yang digelar Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Batam itu berlangsung di Hotel OS Style Batam pada 29 September hingga 5 Oktober 2026. Pelatihan bekerja sama dengan LKP Paloma Academy dan diikuti peserta yang dibekali keterampilan tata rias sekaligus pengetahuan tentang tradisi Melayu.
Ketua Tim Penggerak PKK (TP-PKK) Kota Batam, Erlita Amsakar, turut menghadiri kegiatan tersebut. Pelatihan ini diharapkan dapat memperkuat pelestarian budaya sekaligus meningkatkan keterampilan masyarakat agar berpeluang mengembangkan profesi atau usaha di bidang tata rias pengantin.
Peserta tidak hanya mempelajari teknik merias, tetapi juga mendapatkan materi mengenai adat istiadat dan filosofi perkawinan Melayu, perlengkapan adat, serta tahapan pelaksanaan tradisi perkawinan.
Materi praktik meliputi berandam, tepuk tepung tawar, pembuatan tepak sirih, pengenalan bentuk wajah, pemilihan warna dan karakter riasan, tata rias pengantin, sanggul lintang adat Melayu, hingga penggunaan busana Melayu lengkap.
Pada hari terakhir, peserta menjalani praktik merias pengantin menggunakan busana lengkap. Kegiatan dilanjutkan dengan peragaan busana atau fashion show sebagai bagian dari penilaian, sebelum ditutup dengan penyerahan sertifikat dan penghargaan.
Pelatihan Tata Rias Melayu Buka Peluang Usaha
Kepala Disbudpar Kota Batam, Ardiwinata, mengatakan pelatihan tersebut merupakan salah satu bentuk komitmen Pemko Batam dalam menjaga keberlangsungan budaya Melayu sekaligus meningkatkan keterampilan masyarakat.
“Pelatihan ini tidak hanya mengajarkan bagaimana merias pengantin, tetapi juga memberikan pemahaman tentang adat dan budaya Melayu. Jadi keterampilan yang didapat peserta memiliki nilai budaya sekaligus nilai ekonomi,” ujar Ardiwinata.
Menurut dia, tata rias pengantin Melayu merupakan bagian dari kekayaan budaya yang perlu terus diperkenalkan dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Di sisi lain, keterampilan tersebut memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi profesi maupun usaha.
Ardiwinata berharap peserta dapat menerapkan dan mengembangkan keterampilan yang diperoleh setelah pelatihan berakhir. Dengan begitu, manfaat kegiatan tidak hanya dirasakan selama pelatihan, tetapi juga berlanjut melalui aktivitas ekonomi dan pelestarian budaya.
“Harapan kita, peserta tidak berhenti setelah mengikuti pelatihan. Keterampilan ini bisa dikembangkan menjadi profesi, usaha, dan juga menjadi bagian dari upaya kita bersama untuk melestarikan budaya Melayu di Batam,” katanya.
Ia menambahkan, pelestarian budaya akan semakin kuat jika berjalan beriringan dengan pemberdayaan masyarakat. Karena itu, pelatihan semacam ini dinilai memiliki manfaat ganda, yakni menjaga warisan budaya sekaligus meningkatkan kapasitas sumber daya manusia.
“Budaya kita lestarikan, masyarakat kita tingkatkan keterampilannya, dan pada akhirnya dapat memberikan dampak positif terhadap ekonomi,” tuturnya.
Selaras dengan Program Pendidikan dan Keterampilan PKK
Sementara itu, keterlibatan Erlita Amsakar dalam kegiatan tersebut berkaitan dengan program pokok PKK, terutama bidang pendidikan dan keterampilan keluarga.
Pelatihan ini diharapkan memberikan bekal kepada peserta untuk mengembangkan kemampuan tata rias secara profesional sekaligus membuka peluang usaha. Materi mengenai filosofi perkawinan, perlengkapan adat, busana, dan tahapan tradisi Melayu juga menjadi bagian penting dalam penguatan pemahaman budaya.
Melalui kegiatan tersebut, Pemko Batam berharap pelatihan tata rias pengantin Melayu tidak hanya menghasilkan peserta yang terampil merias, tetapi juga masyarakat yang memahami nilai budaya di balik setiap rangkaian tradisi perkawinan Melayu. (*)
Editor : Putut Ariyo