batampos - Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari Sumatera dan Kalimantan masih bergerak menuju Kepulauan Riau (Kepri). Meski konsentrasi partikel halus PM2.5 di Batam mulai menurun pada Jumat (9/10/2026) pagi, kualitas udara masih berada dalam kategori tidak sehat.
Di tengah kondisi tersebut, Dinas Kesehatan (Dinkes) Batam mencatat 412 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) pada 7 Oktober 2026. Sebanyak 198 kasus atau hampir separuhnya dialami warga berusia 19–59 tahun.
Berdasarkan pemantauan kualitas udara, konsentrasi PM2.5 di Batam mencapai 99,2 mikrogram per meter kubik (µg/m³) pada Jumat pukul 08.00 WIB. Angka ini turun dibandingkan konsentrasi pada tengah malam yang mencapai sekitar 119 µg/m³, kemudian meningkat menjadi 125 µg/m³ pada pukul 04.00 WIB sebelum turun kembali menjadi sekitar 113 µg/m³ pada pukul 07.00 WIB.
Meski menunjukkan penurunan, konsentrasi PM2.5 tersebut masih perlu diwaspadai. Data AirVisual yang dikutip dalam pemantauan menunjukkan indeks kualitas udara Batam sempat berada di kisaran 187 pada Jumat pukul 22.00 WIB, masuk kategori tidak sehat.
Asap Sumatera dan Kalimantan Bergerak Menuju Kepri
Forecaster BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Hang Nadim Batam, Addini, mengatakan asap yang terpantau di wilayah Kepri merupakan gabungan dari kebakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan.
“Sebaran asap berasal dari gabungan kebakaran hutan di Pulau Sumatera dan Pulau Kalimantan yang bergerak menuju Kepri,” kata Addini.
Berdasarkan pemantauan BMKG, kecepatan angin di wilayah Kepri berkisar 3–15 kilometer per jam, dengan arah angin dari tenggara hingga barat daya. Sementara itu, sebaran asap terpantau bergerak ke arah barat laut hingga timur laut.
Pergerakan asap dipengaruhi dinamika atmosfer dan keberadaan sumber kebakaran. Karena itu, perubahan konsentrasi polutan di Batam masih bergantung pada kondisi cuaca dan aktivitas kebakaran di wilayah sumber.
Addini mengatakan, keberadaan sumber kebakaran membuat sebaran asap sulit dipastikan.
“Untuk sebaran asap tidak bisa diprediksi. Jika sumber asap masih ada, asap akan tetap ada,” ujarnya.
Dalam pembaruan pemantauan BMKG pada Jumat pukul 08.00 WIB, tidak ditemukan titik panas atau hotspot di tujuh kabupaten dan kota di Kepri, yakni Batam, Tanjungpinang, Bintan, Karimun, Lingga, Natuna, dan Kepulauan Anambas.
Namun, tidak ditemukannya titik panas di wilayah Kepri bukan berarti daerah ini terbebas dari dampak karhutla. Asap dari kebakaran di luar daerah tetap dapat terbawa angin dan memengaruhi kualitas udara.
Dinkes Batam Catat 412 Kasus ISPA
Di tengah kondisi udara yang perlu diwaspadai, Dinkes Batam mencatat 412 kasus ISPA pada 7 Oktober 2026. Kelompok usia produktif menjadi kelompok dengan jumlah kasus terbanyak.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Batam, Melda Sari, mengatakan perkembangan kasus ISPA terus dipantau melalui laporan seluruh puskesmas.
“Kasus ISPA ini terus kita pantau dari laporan puskesmas. Perkembangannya memang masih naik turun,” kata Melda.
Berdasarkan kelompok umur, warga berusia 19–59 tahun menyumbang 198 kasus. Berikutnya, anak usia 5–9 tahun sebanyak 69 kasus, balita 64 kasus, kelompok usia 10–18 tahun sebanyak 50 kasus, serta warga berusia di atas 60 tahun sebanyak 31 kasus.
Data tersebut menunjukkan kasus ISPA ditemukan pada berbagai kelompok usia, termasuk anak-anak dan lansia yang perlu mendapat perhatian dalam kondisi kualitas udara memburuk.
Meski demikian, data yang tersedia belum cukup untuk menyimpulkan bahwa paparan asap karhutla menjadi penyebab langsung jumlah kasus ISPA tersebut. Diperlukan pemantauan lebih lanjut terhadap kualitas udara dan perkembangan kasus penyakit di fasilitas kesehatan.
Sei Panas Catat Kasus ISPA Terbanyak
Berdasarkan wilayah layanan kesehatan, Puskesmas Sei Panas mencatat jumlah kasus ISPA terbanyak, yakni 41 kasus. Posisi berikutnya ditempati Puskesmas Mentarau dengan 37 kasus dan Puskesmas Sei Langkai sebanyak 31 kasus.
Puskesmas Sekupang mencatat 30 kasus, Tanjung Buntung 29 kasus, dan Lubukbaja sebanyak 26 kasus. Sementara itu, wilayah Galang mencatat jumlah kasus paling sedikit, yakni satu kasus.
Secara keseluruhan, kasus ISPA tersebut tersebar di 21 puskesmas di Batam. Dinkes mengandalkan laporan fasilitas kesehatan untuk memantau perubahan jumlah kasus, kelompok usia yang terdampak, serta wilayah yang membutuhkan perhatian lebih.
Melda mengatakan pemantauan dilakukan dari hari ke hari untuk menentukan langkah tindak lanjut sesuai perkembangan di lapangan.
“Iya, kita terus monitor. Kalau ada peningkatan, datanya akan kita lihat dari puskesmas dan kita tindak lanjuti sesuai kondisi di lapangan,” ujarnya.
Cara Mengurangi Risiko Paparan Asap Karhutla
Kualitas udara dengan konsentrasi PM2.5 tinggi perlu menjadi perhatian karena partikel berukuran sangat kecil dapat masuk ke saluran pernapasan. Anak-anak, lansia, serta orang dengan gangguan pernapasan atau penyakit jantung termasuk kelompok yang perlu lebih berhati-hati.
Untuk mengurangi paparan asap dan polusi udara, masyarakat dapat melakukan sejumlah langkah berikut:
Membatasi aktivitas fisik di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk.
Menggunakan masker yang mampu menyaring partikel halus, seperti respirator N95 atau KN95, saat harus beraktivitas di luar.
Menutup pintu dan jendela apabila udara di luar tercemar, serta menggunakan penyaring udara dalam ruangan jika tersedia.
Memantau pembaruan kualitas udara dan mengikuti imbauan pemerintah setempat.
Segera mencari pertolongan medis apabila mengalami sesak napas, nyeri dada, atau keluhan pernapasan yang memburuk.
Melda juga mengimbau warga yang mengalami gangguan kesehatan setelah terpapar asap agar segera mendatangi fasilitas kesehatan terdekat.
Pemantauan kualitas udara dan kasus ISPA akan menjadi bagian penting dalam mengantisipasi dampak asap karhutla di Batam. Selama sumber kebakaran masih ada dan asap masih berpotensi terbawa angin menuju Kepri, masyarakat perlu tetap waspada terhadap perubahan kondisi udara. (*)
Editor : Putut Ariyo