Ketua ISEI Cabang Batam, Suyono Saputra, mengatakan pemadaman tidak hanya menghentikan aktivitas usaha, tetapi juga memicu biaya tambahan untuk pemulihan produksi, penggantian bahan baku yang rusak, hingga pengoperasian generator set (genset).
“Hitungan sementara kerugian finansial oleh pelaku usaha industri dan jasa perdagangan diperkirakan mencapai Rp233 miliar dalam 12 jam pemadaman. Itu belum termasuk kerugian oleh masyarakat rumah tangga,” ujarnya, Selasa (13/10/2026).
Estimasi tersebut menggunakan produk domestik regional bruto (PDRB) Batam sekitar Rp200 triliun per tahun sebagai dasar perhitungan. Dengan asumsi tersebut, aktivitas ekonomi rata-rata diperkirakan mencapai Rp548 miliar per hari atau Rp274 miliar dalam 12 jam.
Namun, tidak seluruh nilai aktivitas ekonomi itu otomatis hilang akibat pemadaman. Perhitungan ISEI menggunakan asumsi faktor kehilangan (loss factor) untuk memperkirakan bagian aktivitas ekonomi yang benar-benar terdampak.
Sektor manufaktur menjadi salah satu penyumbang terbesar potensi kerugian. Dengan kontribusi sekitar 56 persen terhadap PDRB Batam, nilai aktivitas sektor tersebut selama 12 jam diperkirakan mencapai Rp153,4 miliar. Jika 70 persen aktivitasnya hilang akibat pemadaman, potensi kerugian diperkirakan sebesar Rp107,4 miliar.
Besarnya dampak berbeda pada setiap perusahaan, bergantung pada jenis produksi dan tingkat ketergantungan terhadap listrik. Suyono mencontohkan, pabrik dengan 500 pekerja berpotensi mengalami kerugian Rp300 juta hingga Rp400 juta jika operasional terhenti selama 12 jam.
Kerugian juga dapat berlanjut setelah listrik kembali menyala. Pada industri tertentu, produksi tidak bisa langsung dilanjutkan karena mesin harus diperiksa, suhu produksi dikembalikan ke kondisi normal, atau bahan baku yang rusak harus diganti.
ISEI Batam memperkirakan kerugian akibat kerusakan bahan baku dan pemulihan proses produksi mencapai Rp32,2 miliar.
Suyono mencontohkan industri elektronik yang menggunakan oven bersuhu lebih dari 200 derajat Celsius. Ketika listrik terputus, bahan baku di jalur produksi berisiko rusak. Perusahaan juga membutuhkan waktu tambahan untuk mengembalikan kondisi mesin dan melakukan sterilisasi ulang menggunakan bahan kimia.
Perusahaan yang mengandalkan genset harus menanggung biaya tambahan untuk membeli solar. Pengeluaran tersebut menambah beban operasional di luar kerugian akibat produksi yang terhenti.
Sementara itu, sektor jasa, pusat perbelanjaan, dan perdagangan diperkirakan mengalami potensi kerugian sekitar Rp60,3 miliar.
Aktivitas bongkar muat di pelabuhan juga berpotensi terhambat selama pemadaman. Pengiriman kontainer ke Singapura dan Malaysia dapat tertunda, sehingga mengganggu jadwal logistik dan kegiatan usaha yang bergantung pada kelancaran arus barang.
Suyono mengingatkan kerugian berpotensi bertambah jika pemadaman bergilir kembali terjadi setelah sistem kelistrikan berangsur pulih.
“Jika hari ini dan hari-hari berikutnya pemadaman bergilir masih terjadi, maka kerugian yang harus ditanggung pelaku usaha akan makin besar,” katanya.
Menurut dia, listrik merupakan kebutuhan dasar rumah tangga maupun pelaku usaha dan industri. Pemadaman berkepanjangan akan semakin membebani sektor industri.
“Listrik itu kebutuhan dasar baik untuk rumah tangga maupun pelaku usaha/industri. Jika pemadaman bergilir ini berlangsung lama maka pasti akan mengakibatkan kerugian bagi industri,” ujarnya.
ISEI Soroti Risiko terhadap Kepercayaan Investor
Selain kerugian langsung, Suyono menyoroti dampak jangka panjang pemadaman terhadap kepercayaan investor. Gangguan listrik berskala luas dinilai dapat memunculkan pertanyaan mengenai kemampuan Batam menyediakan pasokan energi yang andal untuk mendukung industri dan investasi digital.
“Yang paling gawat adalah citra Batam sebagai daerah tujuan investasi digital akan makin merosot karena investor akan berpikir ulang untuk melanjutkan rencana investasinya,” kata Suyono.
Ia menilai kepastian pasokan listrik menjadi pertimbangan penting bagi investor, terutama perusahaan yang membutuhkan daya besar dan kestabilan energi untuk menjalankan operasional.
“Kejadian kemarin menyisakan pertanyaan seberapa besar keandalan Batam untuk menyediakan listrik dalam skala besar,” ujarnya.
Meski demikian, tidak semua sektor mengalami dampak negatif. Suyono menyebut sejumlah hotel berbintang di Batam mengalami peningkatan tamu karena sebagian warga memilih menginap saat rumah mereka mengalami pemadaman.
Namun, peningkatan aktivitas perhotelan tersebut tidak serta-merta menutup kerugian yang dialami sektor industri, perdagangan, dan rumah tangga.
Suyono meminta PLN Batam menjelaskan secara terbuka penyebab pemadaman yang berdampak pada Batam, Bintan, dan Tanjungpinang. Ia juga menyoroti dugaan awal bahwa gangguan dipicu masuknya hewan liar ke area Gardu Induk Sungai Harapan.
“Mengenai isu adanya hewan liar yang masuk ke gardu induk sangat sulit diterima logika jika melihat dampak yang ditimbulkannya dirasakan oleh masyarakat di Batam, Bintan, dan Tanjungpinang,” tegasnya.
Pernyataan tersebut merupakan pandangan Suyono. Sebelumnya, PLN Batam menyebut masuknya hewan liar ke area Gardu Induk Sungai Harapan sebagai dugaan awal penyebab gangguan dan menyatakan penyelidikan masih berlangsung.
Hingga Selasa (13/10/2026), sistem kelistrikan dilaporkan berangsur pulih. Namun, pemulihan pasokan belum dengan sendirinya menjamin gangguan serupa tidak kembali terjadi.
Apindo Minta PLN Batam Evaluasi Sistem Kelistrikan
Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kota Batam, Rafki Rasyid, menyampaikan keprihatinan atas pemadaman berkepanjangan yang mengganggu aktivitas masyarakat dan dunia usaha.
Apindo belum dapat menghitung total kerugian akibat kejadian tersebut. Namun, Rafki menilai gangguan berskala besar berpotensi menggerus kepercayaan investor jika tidak dievaluasi secara menyeluruh.
“Pemadaman listrik ini menimbulkan dampak yang luas. Aktivitas masyarakat terganggu dan pelaku usaha yang bergantung pada pasokan listrik juga tidak bisa menjalankan aktivitasnya secara normal. Namun, saat ini kami belum bisa memperkirakan besarnya kerugian yang terjadi,” ujarnya.
Rafki menjelaskan dampak pemadaman tidak dirasakan secara merata. Sejumlah perusahaan manufaktur yang beroperasi di kawasan industri dengan pembangkit listrik sendiri relatif tidak mengalami gangguan berarti karena pasokan di kawasan yang memiliki wilayah usaha kelistrikan (Wilus) tetap terjaga.
Apindo memilih tidak menyalahkan PLN Batam maupun pihak lain. Rafki meyakini pemadaman tersebut bukan sesuatu yang disengaja dan mengapresiasi upaya petugas memulihkan pasokan listrik.
“Kami tidak ingin menyalahkan pihak mana pun. Kami meyakini gangguan ini bukan sesuatu yang disengaja. Kami mengapresiasi upaya seluruh pihak yang bekerja keras memulihkan pasokan listrik dan berharap pemulihan segera dituntaskan,” katanya.
Meski mengapresiasi upaya pemulihan, Apindo meminta PLN Batam memastikan pasokan listrik kembali normal serta mengevaluasi penyebab gangguan dan sistem kelistrikan agar kejadian serupa tidak terulang.
“Evaluasi menyeluruh perlu dilakukan agar kejadian seperti ini tidak kembali terjadi. Persoalan keandalan listrik harus menjadi perhatian serius karena dapat menggerus kepercayaan investor terhadap Batam sebagai daerah tujuan investasi,” tegasnya.
Apindo juga mengapresiasi rencana pemberian kompensasi sebesar 10–25 persen kepada pelanggan terdampak. Rafki berharap pelaksanaannya dilakukan secara adil dan menjangkau seluruh pelanggan yang memenuhi ketentuan.
“Kami mengapresiasi rencana pemberian kompensasi kepada pelanggan terdampak. Kami berharap pelaksanaannya dilakukan secara adil sehingga seluruh pelanggan yang berhak bisa mendapatkannya,” ujarnya.
Rafki turut menyayangkan beredarnya hoaks terkait pemadaman listrik. Informasi yang belum terverifikasi dinilai dapat memperbesar keresahan masyarakat dan menimbulkan kekhawatiran di kalangan investor.
Karena itu, ia mengimbau pelaku usaha dan investor tetap tenang serta tidak mudah terpengaruh kabar yang belum dipastikan kebenarannya.
Ia juga mengajak semua pihak menjaga kekompakan dan tidak saling menyalahkan.
“Dalam menghadapi persoalan seperti ini, semua pihak perlu menjaga kekompakan dan menyikapinya dengan jernih. Jangan sampai kita saling menyalahkan, apalagi saling menjatuhkan, sehingga kondisi Batam menjadi tidak kondusif,” katanya.
Terkait manajemen PLN Batam saat ini, Rafki menyatakan Apindo memberikan dukungan karena melihat perkembangan positif dibandingkan periode sebelumnya. Menurut dia, gangguan yang berasal dari faktor eksternal di luar kendali manajemen tidak bisa serta-merta dibebankan kepada pimpinan perusahaan.
“Kami mendukung kepemimpinan manajemen PLN Batam saat ini karena kami melihat ada perkembangan yang lebih baik dibandingkan sebelumnya. Jika gangguan terjadi akibat faktor dari luar yang berada di luar kendali manajemen, tentu persoalan tersebut perlu dilihat secara jernih,” ujarnya.
Kadin: Dampak Blackout Meluas hingga UMKM dan Pekerja Digital
Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kota Batam, Roma Nasir Hutabarat, turut menyoroti dampak pemadaman listrik terhadap dunia usaha.
Menurut dia, keandalan pasokan listrik merupakan salah satu penopang utama kegiatan industri, penciptaan lapangan kerja, pariwisata, dan kepercayaan investor.
Dampak blackout, kata Nasir, tidak hanya dirasakan perusahaan manufaktur, tetapi juga hotel, restoran, kafe, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta pelaku perdagangan daring. Pekerja ekonomi digital, termasuk pengemudi ojek daring dan kurir, juga berpotensi terdampak ketika aktivitas usaha dan layanan terganggu.
“Gangguan listrik bukan hanya persoalan teknis, tetapi dapat berdampak luas terhadap produksi, pelayanan, pendapatan pekerja, dan aktivitas ekonomi masyarakat,” kata Nasir, Selasa (13/10/2026).
Ia meminta PLN Batam mengevaluasi sistem kelistrikan secara menyeluruh untuk mengidentifikasi penyebab gangguan sekaligus menentukan langkah pencegahan. Kadin juga mendorong penguatan infrastruktur listrik agar mampu mengimbangi pertumbuhan industri, investasi, perdagangan, logistik, dan pariwisata di Batam.
Nasir mengatakan Kadin Batam telah berupaya menemui pimpinan PLN Batam dan menghubungi bagian hubungan masyarakat untuk memperoleh penjelasan resmi. Namun, hingga keterangannya disampaikan, Kadin belum mendapatkan konfirmasi karena pihak terkait masih berada di lapangan.
Menurut dia, pelaku usaha membutuhkan informasi yang jelas mengenai penyebab pemadaman, perkembangan pemulihan, dan langkah pencegahan agar kejadian serupa tidak terulang.
PLN juga diminta menyampaikan informasi secara transparan mengenai wilayah terdampak, penanganan gangguan, serta estimasi waktu pemulihan apabila tersedia.
Kadin turut mendorong penguatan koordinasi antara PLN Batam, pemerintah, pengelola kawasan industri, dan pelaku usaha. Pemetaan dampak ekonomi terhadap industri, UMKM, pariwisata, dan pekerja ekonomi digital dinilai perlu dilakukan sebagai bahan evaluasi bersama.
Selain menormalkan pasokan listrik, Nasir berharap PLN mempertimbangkan pemberian kompensasi kepada masyarakat terdampak. Ia menegaskan sorotan Kadin bukan untuk menyudutkan pihak tertentu, melainkan mendorong penyelesaian yang berpihak pada kepentingan masyarakat dan dunia usaha.
“Batam membutuhkan pasokan listrik yang andal agar tetap kompetitif sebagai pusat industri, perdagangan, logistik, dan pariwisata,” ujarnya.
DPRD Kepri Minta Keandalan Listrik Diperkuat
Ketua DPRD Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), Iman Sutiawan, juga meminta PLN Batam melakukan evaluasi menyeluruh. Evaluasi tersebut mencakup penguatan keandalan jaringan dan pasokan listrik agar gangguan serupa tidak kembali terjadi.
“Keandalan listrik merupakan faktor penting untuk menunjang aktivitas masyarakat sekaligus menjaga keberlangsungan industri dan dunia usaha di Batam,” ujarnya di DPRD Batam, Senin (12/10).
Menurut Iman, kepastian pasokan listrik perlu menjadi perhatian karena berpengaruh langsung terhadap aktivitas masyarakat dan daya saing kawasan industri di Batam.
Polda Kepri Kerahkan Personel Selama Blackout
Sementara itu, Polda Kepri mengerahkan personel untuk berpatroli, mengatur lalu lintas, dan mengamankan objek vital nasional menyusul pemadaman listrik yang melanda Batam, Tanjungpinang, dan Kabupaten Bintan pada Senin (12/10/2026).
Kapolda Kepri, Irjen Suhendri, mengatakan hingga Selasa (13/10/2026), polisi belum menerima laporan kecelakaan lalu lintas, pencurian, maupun kejadian menonjol lainnya yang berkaitan dengan situasi tersebut.
“Alhamdulillah, selama kejadian padamnya listrik tersebut hingga hari ini, kami tidak menerima laporan adanya kecelakaan lalu lintas ataupun pencurian ataupun kasus menonjol lainnya,” kata Suhendri, Selasa (13/10/2026).
Menurut dia, personel disiagakan untuk menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat selama gangguan pasokan listrik.
Kapolda juga meminta PLN segera mengidentifikasi penyebab gangguan secara pasti dan menyiapkan langkah antisipasi agar kejadian serupa tidak terulang.
Ia mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terprovokasi informasi yang belum terverifikasi. Warga Batam, Tanjungpinang, dan Bintan diminta memastikan kebenaran informasi sebelum menyebarkannya.
“Mari kita jaga bersama Kepulauan Riau, khususnya Kota Batam, Bintan, dan Kota Tanjungpinang, untuk tetap aman, tertib, dan damai,” ujarnya.
Kepala Bidang Humas Polda Kepri, Kombes Nona Pricillia Ohei, mengingatkan masyarakat agar memanfaatkan layanan kepolisian 110 jika membutuhkan bantuan atau ingin melaporkan gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat. Layanan tersebut dapat diakses selama 24 jam tanpa biaya.
Amsakar Pastikan Listrik Batam Kembali Normal
Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, memastikan pasokan listrik di Batam telah kembali normal setelah gangguan yang terjadi sejak Senin (12/10/2026). Ia meminta masyarakat tetap tenang dan tidak mudah mempercayai informasi yang menyebutkan Batam berpotensi kembali mengalami pemadaman listrik atau blackout selama beberapa hari ke depan.
Amsakar mengatakan Pemerintah Kota Batam terus berkoordinasi dengan PT PLN Batam untuk memantau penanganan gangguan dan memastikan pasokan listrik kembali pulih. Koordinasi dilakukan bersama Direktur Utama PLN Batam, Kwin Fo, beserta jajarannya.
“Sejak kemarin (12/10), kami terus mendorong dan berkoordinasi dengan Direktur Utama PLN Batam, Bapak Kwin Fo, beserta jajarannya. Alhamdulillah, seluruh tim teknis terkait bergerak cepat dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mengatasi gangguan tersebut,” ujar Amsakar, Selasa (13/10/2026).
Berdasarkan informasi yang disampaikan PLN Batam, gangguan awal terjadi di wilayah Sekupang akibat masalah pada sistem kelistrikan. Dampaknya kemudian meluas ke sejumlah wilayah pelayanan lainnya di Batam.
Penanganan intensif menunjukkan perkembangan positif. Berdasarkan infografis kelistrikan PLN Batam pada Selasa (13/10/2026) pukul 04.00–05.00 WIB, sebanyak 406.083 dari total 411.219 pelanggan terdampak telah kembali mendapatkan pasokan listrik. Angka tersebut setara dengan sekitar 98,8 persen dari total pelanggan terdampak.
Dari sisi beban listrik, sebanyak 496,7 megawatt (MW) dari total 501,8 MW telah kembali menyala atau mencapai sekitar 99 persen. Seluruh 11 gardu induk dan 12 jaringan transmisi yang terdampak juga telah kembali beroperasi. Saat data tersebut dirilis, gangguan masih tercatat pada satu penyulang di jaringan distribusi.
Amsakar menyebutkan, berdasarkan informasi terbaru yang diterimanya, pemulihan pasokan listrik di Batam telah mencapai 100 persen. Karena itu, ia meminta masyarakat tidak resah oleh kabar yang menyebutkan Batam akan kembali mengalami blackout selama tiga hari.
“Berdasarkan informasi terkini yang kami terima, kondisi kelistrikan sudah kembali pulih 100 persen. Karena itu, masyarakat tidak perlu khawatir dengan informasi yang menyebutkan Batam akan mengalami blackout selama tiga hari ke depan. Informasi tersebut tidak benar,” tegasnya.
Ia mengimbau masyarakat lebih cermat menerima dan menyebarkan informasi, terutama yang berkaitan dengan layanan publik. Warga diminta memeriksa kebenaran kabar melalui kanal resmi PLN Batam dan tidak langsung mempercayai informasi yang belum terverifikasi.
Menurut Amsakar, kepastian pemulihan pasokan listrik penting karena berkaitan langsung dengan aktivitas masyarakat, kegiatan usaha, serta pelayanan dasar lainnya.
“Semoga dengan kembali normalnya pasokan listrik, seluruh aktivitas masyarakat dapat berjalan lancar, termasuk pelayanan dan suplai air bersih. Kami berharap masyarakat tetap tenang dan bersama-sama menjaga situasi tetap kondusif,” katanya.
Pemko Batam akan terus memberikan dukungan, memfasilitasi, dan berkoordinasi dengan pihak terkait untuk memantau layanan serta memastikan kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi. (*)
Editor : Putut Ariyo