Batampos – Pemilihan Paus dalam Gereja Katolik bukan sekadar pemungutan suara biasa. Proses pemilihan ini dikenal juga dengan istilah konklaf. Konklaf ini sarat dengan tradisi, simbolisme, dan kerahasiaan tinggi.
Konklaf telah digunakan selama berabad-abad untuk memilih pemimpin spiritual bagi lebih dari 1,4 miliar umat Katolik di seluruh dunia.
Konklaf berasal dari Bahasa Latin cum clave, yang secara harfiah diartikan "dengan kunci". Nama ini merujuk pada kegiatan karantina atau pengurungan para kardinal pemilih di tempat tertutup, di dalam Kapel Sistina, Kota Vatikan.
Mereka akan terkurung sampai berhasil memilih paus baru. Tujuannya, mencegah pengaruh dari luar dan menjaga integritas selama proses pemilihan berlangsung.
Baca Juga: Mengenal Apa itu Konklaf, Pemilihan Paus Baru Sebagai Kepala Gereja Umat Katolik di Vatikan Dimulai
Siapa yang berhak ikut konklaf? Menurut hukum kanon Katolik, hanya kardinal yang berusia di bawah 80 tahun yang diizinkan mengikuti konklaf. Mereka dikenal sebagai kardinal elektor. Saat ini, dari sekitar 250 kardinal di seluruh dunia, hanya 133 yang memenuhi syarat untuk memberikan suara.
Sebelum konklaf dimulai, para kardinal bersumpah menjaga kerahasiaan dan menyerahkan seluruh alat komunikasi. Mereka kemudian dikarantina di akomodasi khusus di dalam Vatikan, tanpa akses ke media massa atau internet saat proses pemungutan suara berlangsung.
Pemungutan suara dilakukan di Kapel Sistina, di bawah lukisan terkenal Penghakiman Terakhir karya Michelangelo.
Pemilihan dilakukan secara rahasia menggunakan kertas suara. Untuk terpilih menjadi Paus, seorang kandidat harus memperoleh mayoritas dua pertiga dari suara para kardinal. Demikian dilansir dari Vatican News.
Jika dalam satu putaran tidak ada kandidat yang memenuhi syarat, pemungutan suara akan dilanjutkan dua kali di pagi hari dan dua kali di sore hari setiap hari hingga paus baru terpilih.
Terpilih atau belumnya paus, ditandai dengan dua simbol. Dimana, setelah setiap sesi pemungutan suara, kertas suara dibakar. Asap dari cerobong Kapel Sistina menjadi sinyal bagi dunia:
- Asap hitam: Tidak ada paus yang terpilih.
- Asap putih: Paus baru telah dipilih.
Tradisi ini memungkinkan umat Katolik dan masyarakat dunia menantikan hasil konklaf dengan penuh harapan dan doa.
Baca Juga: Pesan Pak Polisi sembena Hujan dengan Curah Tinggi
Sejarah Singkat Konklaf
Konklaf pertama kali diselenggarakan secara formal, pada 1274 oleh Paus Gregorius X melalui dekrit Ubi Periculum. Sebelumnya, pemilihan paus bisa berlangsung berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun karena pengaruh politik dan perbedaan pendapat antar kardinal. Aturan konklaf dibuat untuk mempercepat proses dan menjaga independensi gereja dari tekanan eksternal.
Secara teori, siapa pun yang beragama Katolik dan pria dapat menjadi paus. Namun dalam praktiknya, paus selalu dipilih dari kalangan kardinal.
Paus Fransiskus, yang wafat pada 21 April 2025, adalah paus pertama dari Amerika Latin dan paus non-Eropa pertama dalam lebih dari 1.200 tahun. Hal ini membuka kemungkinan yang lebih luas untuk calon paus dari Asia dan Afrika. (*)
Editor : Chahaya Simanjuntak