batampos - Gelombang protes datang dari Jepang kepada OpenAI setelah peluncuran Sora 2.
Sora 2 merupakan kecerdasan buatan terbaru yang mampu membuat video animasi realistis dari teks.
Pemerintah Jepang dan sejumlah kreator anime menuding Sora 2 melanggar hak cipta karena menggunakan karakter anime dan manga tanpa izin resmi.
Pemerintah Jepang menyampaikan kekhawatiran serius mengenai teknologi seperti Sora 2 berpotensi merugikan industri kreatif Jepang yang selama ini dikenal sebagai pusat budaya pop dunia.
"Anime dan manga adalah warisan budaya yang tak tergantikan," kata Menteri Negara bidang Strategi Kekayaan Intelektual, Minoru Kiuchi, dikutip dari Japan Times, Jumat (17/10).
Sora 2 memungkinkan pengguna membuat video AI realistis hanya dengan perintah teks, namun para kritikus menilai belum ada pengalaman yang memadai, baik dalam hak cipta maupun sensitivitas terhadap keluarga tokoh publik yang keberatan karena adanya reanimasi wajah orang terkasih mereka.
Sejak rilis September lalu, banyak muncul konten video AI yang menampilkan karakter ikonik dari budaya pop Jepang, termasuk Pokemon, One Piece, dan Dragon Ball Z.
OpenAI Memberi Tanggapan
Pihak OpenAI menyatakan akan meninjau ulang kebijakan data pelatihan Sora 2. Perusahaan berjanji akan memberikan kontrol lebih besar kepada pemilik hak cipta agar dapat memilih apakah karya mereka boleh digunakan untuk pelatihan model AI.
"Kami akan memberikan pemegang hak cipta kontrol yang lebih mendetail atas pembuatan karakter, mirip dengan model opt-in untuk kemiripan wajah, tetapi dengan pengaturan tambahan," ujar CEO OpenaAI, Sam Altman, dikutip dari Japan Times.
Sora 2 melonjak ke tangga aplikasi Apple App Store di Amerika Serikat sejak rilis. Aplikasi ini belum tersedia untuk Android.
Industri anime dan manga Jepang sendiri bernilai lebih dari US$25 miliar per tahun. Pemerintah Jepang menyatakan tidak ragu mengambil langkah hukum jika pelanggaran terus terjadi.(*)
Editor : Juliana Belence