Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

Fenomena La Nina dan IOD Negatif Akibatkan Asia Tenggara Termasuk Indonesia Alami Musim Hujan dan Banjir Paling Ekstrem

Chahaya Simanjuntak • Rabu, 26 November 2025 | 19:56 WIB

 

TANGKAPAN Layar dari banjir Bandang dan Tanah longsor yang terjadi di Kecamatan Batangtoru, Tapsel, Sumatera Utara, Selasa (25/11/2025)
TANGKAPAN Layar dari banjir Bandang dan Tanah longsor yang terjadi di Kecamatan Batangtoru, Tapsel, Sumatera Utara, Selasa (25/11/2025)

Batampos - Negara-negara di kawasan Asia Tenggara tengah menghadapi musim hujan besar dalam beberapa dekade yang mengakibatkan banjir besar, badai beruntun, dan pengungsian massal yang melanda dari Vietnam, Thailand, Filipina, hingga beberapa kawasan di Indonesia. Para ahli menyebut kondisi ini sebagai akibat pertemuan dua kekuatan iklim besar yang jarang terjadi secara bersamaan.

Dalam beberapa pekan terakhir, wilayah selatan Thailand, Vietnam, Filipina, Malaysia, hingga beberapa kawasan di Indonesia dilanda hujan ekstrem yang memutus akses, merusak infrastruktur, dan memaksa jutaan orang mengungsi. Ratusan korban jiwa dilaporkan, sementara kerusakan ekonomi mencapai ratusan juta dolar.

Situasi paling parah terlihat di Vietnam, di mana hujan tanpa henti membanjiri hingga 200.000 rumah dan menewaskan sedikitnya 90 warga. Negara itu juga dihantam 14 topan hanya dalam satu tahun, memicu banjir bersejarah di sejumlah daerah aliran sungai dengan ketinggian yang melampaui rekor.

Baca Juga: 6 Cara Melindungi Diri dari Phishing dan Spoofing

Filipina tidak luput dari bencana. Dua topan kuat yakni Kalmaegi dan Fung-wong  menerjang negara itu dalam waktu berdekatan, memaksa lebih dari 1,5 juta orang mengungsi. Pakar iklim menyebut Fung-wong sebagai “super topan” dengan ukuran yang seolah menelan seluruh wilayah Filipina.

Thailand selatan juga mengalami hujan terberat dalam 300 tahun. Kota Hat Yai terendam hingga ratusan milimeter air, memutus akses jalan utama dan membuat ribuan warga serta wisatawan terjebak. Pemerintah Thailand telah menetapkan status darurat dan mengerahkan militer untuk membantu evakuasi.

Malaysia berada dalam kondisi siaga tinggi. Lebih dari 3.000 titik rawan banjir dipantau, sementara puluhan ribu warga ditempatkan di pusat pengungsian akibat hujan lebat yang terus berlangsung di beberapa negara bagian.

Kondisi ini juga turut memukul Indonesia, terutama di kawasan Sumatera Barat dan Sumatera Utara. Wilayah Padang di Sumatera Barat mengalami banjir besar akibat hujan intens dan luapan sungai. Sebanyak 27.433 warga dari sembilan kecamatan terdampak, dengan rumah hanyut, puluhan rumah rusak, fasilitas umum lumpuh, dan sejumlah ruas jalan longsor. Pemerintah Provinsi Sumbar telah menetapkan status tanggap darurat hingga 8 Desember 2025 mendatang.

Di Sumatera Utara, hujan ekstrem memicu banjir bandang dan longsor di tujuh wilayah Sibolga serta wilayah Tapanuli, seperti Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, dan Tapanuli Selatan, Selasa (25/11/2025). Bencana ini merusak rumah, memutus jalan dan jembatan, serta memaksa warga mengungsi. Data sementara dari BNPB dan laporan dari kantor berita Antara, mencatat adanya puluhan korban jiwa, luka-luka, dan ratusan warga yang terdampak langsung akibat terjangan banjir mendadak.

Melansir dari Channel News Asia, apa yang terjadi di Asia Tenggara saat ini, berdasarkan pernyataan para ahli, akibat hujan ekstrem ini dipicu oleh bertemunya dua fenomena iklim besar, yakni La Nina dan Indian Ocean Dipole (IOD) negatif yang menciptakan kondisi kelembapan luar biasa di atmosfer. Laut yang menghangat memperkuat penguapan dan meningkatkan intensitas presipitasi di seluruh kawasan.

Perubahan iklim global semakin memperburuk situasi. Suhu yang terus meningkat membuat atmosfer mampu menahan lebih banyak uap air, sehingga hujan deras dan banjir besar menjadi lebih sering terjadi. Asia, menurut pakar, memanas hampir dua kali lebih cepat dibanding rata-rata global.

Dengan La Nina yang diperkirakan bertahan hingga awal 2026, para ahli memperingatkan, risiko banjir dan longsor akan terus meningkat, terutama karena tanah di banyak wilayah sudah jenuh air. Tanpa investasi besar dalam sistem adaptasi, kawasan ini akan semakin rentan.

Pemerintah di negara-negara terdampak kini fokus pada respons darurat, mulai dari evakuasi hingga penyediaan tempat penampungan. Namun, pakar mengingatkan, bahwa tantangan terbesar bukan hanya menghadapi bencana tahun ini, tetapi memastikan bahwa musim badai berikutnya tidak membawa dampak yang lebih destruktif. (*)

 

Editor : Chahaya Simanjuntak
#indonesia #fenomena alam #banjir #Banjir di Asia Tenggara #asia tenggara #perubahan iklim #bencana alam