Trump Bentuk Dewan Perdamaian untuk Gaza, Namun Mandatnya Dipertanyakan
Chahaya Simanjuntak• Selasa, 20 Januari 2026 | 12:30 WIB
MENTERI Luar Negeri Irlandia Helen McEntee. F Ali Moustafa/Getty Images via ABC News
Batampos - Presiden Amerika SerikatDonald Trumpmeluncurkan inisiatif baru bernama“Board of Peace”atau Dewan Perdamaian yang awalnya ditujukan mengawasi rekonstruksi dan stabilisasiGaza. Namun, kini menghadapi tantangan dari sejumlah sekutu internasional yang mempertanyakan mandat dan cakupannya yang terlihat lebih luas dari tujuan awalnya.
Trump dijadwalkan mengadakanupacara penandatanganan resmipembentukan Dewan Perdamaian ini pada acaraWorld Economic Forum di Davos, Swissdalam beberapa hari mendatang, dengan membawa sejumlah tokoh penting dari berbagai negara sebagai anggota eksekutifnya.
Dalam salinan rancangan piagam Dewan Perdamaian yang beredar secara daring menunjukkan, badan baru ini bukan hanya fokus pada rekonstruksiGaza, tetapi bahkan berperan lebih luas dalam upaya penyelesaian konflik global di masa depan.
Beberapa pejabat internasional menyatakan kekhawatiran karena mandat ini tampak melampaui tujuan awalnya dan dapat bertabrakan dengan peranPerserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Menurut piagam yang beredar, Dewan Perdamaian seharusnya menjadi organisasi internasional yang berupaya mempromosikan stabilitas, mengembalikan pemerintahan yang sah, serta menjamin perdamaian yang berkelanjutan di wilayah yang terkena dampak konflik.
Namun, Menteri Luar Negeri IrlandiaHelen McEnteememperingatkan, organisasi ini tampaknya memiliki mandat yanglebih luasdaripada sekadar melaksanakan rencana perdamaian di Gaza.
"Perserikatan Bangsa-Bangsa memiliki mandat unik untuk menjaga perdamaian dan keamanan internasional, serta legitimasi untuk mempertemukan negara-negara dalam mencari solusi bersama atas tantangan yang dihadapi secara kolektif. Meskipun tidak sempurna, PBB dan supremasi hukum internasional kini lebih penting daripada sebelumnya," ujarnya seperti dikutip dari ABC News, Selasa (20/1/2026) siang.
Respons Berbagai Negara Beragam
Beberapa negara yang menerima undangan mengenai peluncuran badan baru ini, yakni Argentina, Belarus, Kanada, Australia, Mesir, Hungaria, Pakistan, Yordania, Turki, Israel, dan India. Meski pun begitu, banyak pemimpin enggan memberikan dukungan publik secara eksplisit. Rusia juga dikonfirmasi menerima undangan dan sedang mempertimbangkan tawaran tersebut.
Sementara itu, sejumlah negara lainnya masih berhati-hati karena kekhawatiran tentang perluasan peran Dewan Perdamaian di luar isu Gaza dapat menggantikan atau menyaingi peranPBB dalam penyelesaian konflik internasional.
Piagam rancangan juga mencakup susunan komite eksekutif yang diperkirakan akan mencakup tokoh-tokoh internasional, termasuk mantan Perdana Menteri InggrisTony Blair, Perdana Menteri KanadaMark Carney, serta sejumlah pejabat tinggi dari pemerintahan AS.
Walaupun banyak rincian tetap belum dikonfirmasi, ide dasar Dewan Perdamaian adalah menciptakan badan internasional yang lebihproaktif dan fleksibeldalam menangani konflik dibanding struktur multilateralis tradisional.
Trump sendiri, mempromosikan Dewan Perdamaian sebagai langkah penting dalam rencana perdamaian yang lebih luas untuk kawasanTimur Tengah, khususnya menanggapi konflik berkepanjangan di Gaza dan rekomendasi forum internasional lainnya. (*)