Batampos - Pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump terkait perang Iran menunjukkan pesan yang berubah-ubah. Selama dua minggu perang berlangsung, selama itu pulah pimpinan Pemerintah AS itu memberikan pernyataan yang terkadang saling bertentangan mengenai tujuan, skala, dan durasi operasi militer.
Sejak serangan militer AS dimulai pada 28 Februari 2026, para pejabat Gedung Putih menyampaikan berbagai alasan berbeda tentang mengapa operasi dilakukan dan bagaimana perang tersebut akan berakhir.
Pada awalnya, Trump menyebut serangan itu sebagai operasi tempur besar yang akan berlangsung sekitar empat hingga lima minggu. Namun dalam perkembangannya, ia juga mengatakan perang tersebut sudah dimenangkan. Meski begitu, Trump kembali mengungkapkan, AS masih perlu menyelesaikan pekerjaan.
Baca Juga: Isi BBM di SPBU Sagulung, Sedan Tiba-tiba Terbakar
Di sisi lain, sejumlah pejabat tinggi Negara Adidaya itu menyatakan operasi dapat berakhir dalam waktu dekat, tetapi juga membuka kemungkinan tindakan militer lebih lanjut jika dianggap diperlukan.
Serangan Mendadak Picu Perdebatan Publik
Keputusan pemerintahan Trump melancarkan serangan terhadap Iran pada dini hari 28 Februari lalu, mengejutkan warga dunia, khususnya warga yang ia pimpin. Langkah tersebut dinilai bertolak belakang dengan agenda kampanye Trump yang mengusung slogan America First dan kritiknya terhadap keterlibatan militer AS di luar negeri.
Meski Trump sempat menyinggung Iran dalam pidato State of the Union Address, ia tidak meminta persetujuan Kongres sebelum memulai operasi militer.
Presiden juga tidak melakukan kampanye publik secara panjang untuk menjelaskan alasan perang tersebut kepada masyarakat.
Baca Juga: Idulfitri Tinggal Menghitung Hari, ASN Anambas Belum Terima THR
Kini pemerintah AS menghadapi tantangan untuk meyakinkan publik yang mulai skeptis, terutama setelah harga bahan bakar meningkat akibat konflik tersebut.
Mengutip hasil jajak pendapat NBC News yang dirilis pekan lalu menunjukkan, sekitar 54 persen pemilih tidak menyetujui penanganan perang oleh Trump dan menilai AS seharusnya tidak mengambil tindakan militer terhadap Iran.
Menanggapi kritik soal pesan pemerintah yang dianggap tidak konsisten, juru bicara Gedung Putih Karoline Leavittmenyebut narasi tersebut sebagai cerita palsu.
"Pemerintah AS secara konsisten menargetkan tiga tujuan utama operasi militer yang disebut Operation Epic Fury, yaitu menghancurkan kemampuan rudal Iran, melumpuhkan angkatan lautnya, dan memastikan kelompok sekutu Iran tidak lagi dapat mengancam kawasan," ujarnya. (*)
Editor : Chahaya Simanjuntak