batampos - Dunia kembali dihadapkan pada kemunculan subvarian baru COVID-19 yang dijuluki “Cicada”.
Varian ini menjadi sorotan karena memiliki jumlah mutasi yang tinggi dan diduga mampu menyebar lebih cepat dibandingkan beberapa varian sebelumnya.
Secara ilmiah dikenal sebagai BA.3.2 dari turunan Omicron. Pertama kali ditemukan di Afrika Selatan pada November 2024.
Varian Cicada telah terdeteksi di setidaknya 23 negara. Ditemukan melalui berbagai metode pemantauan seperti sampel pasien, pelancong, hingga air limbah.
Di beberapa wilayah Eropa, varian bahkan dilaporkan menyumbang hingga 30% kasus COVID-19.
Julukan Cicada diberikan karena pola kemunculannya yang unik. Varian sempat tidak terlihat dalam waktu lama.
Kemudian, muncul kembali dan menyebar dengan cepat yang mirip dengan siklus serangga cicada. Varian juga memiliki jumlah mutasi yang cukup tinggi, terutama pada protein spike.
Para ilmuwan menemukan bahwa varian BA.3.2 memiliki sekitar 70 - 75 mutasi pada protein spike.
Berpotensi meningkatkan penularan, memungkinkan infeksi ulang, dan mengurangi efektivitas sebagian imunitas.
Gejala varian Cicada umumnya mirip dengan COVID-19, dikutip dari The Times of India:
- Sakit tenggorokan
- Batuk kering
- Demam dan menggigil
- Pilek atau hidung tersumbat
- Kelelahan dan nyeri otot
Subvarian ini diklasifikasikan sebagai varian yang masih dalam pemantauan dan bukan varian yang perlu diwaspadai serius saat ini.
Mayoritas kasus yang terjadi tampak bersifat ringan hingga sedang. Namun, ada sejumlah perbedaan antara subvarian BA.3.2 cicada dan BA.3 yang kemungkinan dapat menyebar lebih mudah atau menyebabkan infeksi ulang.
Individu yang termasuk kelompok berisiko tinggi, seperti lansian, ibu hamil, dan orang dengan sistem imun lemah perlu menyadari potensi penyebaran varian ini yang lebih cepat.(*)
Editor : Juliana Belence