batampos – Upaya mencari metode baru untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melahirkan istilah ubi bombing. Metode ini memanfaatkan tepung ubi dan tepung singkong sebagai bahan pemadam alternatif selain water bombing.
Konsep tersebut mendapat perhatian Presiden Prabowo Subianto dalam Rapat Penanganan Karhutla di Sumatera Selatan (Sumsel), Senin (24/8). Prabowo meminta inovasi tersebut diuji untuk mengetahui efektivitasnya dalam menangani kebakaran di area luas.
Dilansir Kaltim Post (Batam Pos Group), Selasa (25/8), Prabowo bahkan meminta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengecek kemungkinan pengembangan serta produksi bahan tersebut.
Baca Juga: Jakarta-Bogor Tak Harus Naik Mobil, Ini 7 Pilihan Transportasinya
“Seperti alat pemadam kebakaran, ya yang kita bayangkan. Itu kan yang keluar kan zat kimia, benar nggak? Coba dicek ya. Coba dicek BRIN. Apakah bisa produksi atau kita sourcing,” kata Prabowo.
Lantas, bagaimana ubi bombing bekerja?
Tepung ubi dan tepung singkong dapat dibentuk menjadi bola-bola kecil atau disiapkan dalam formula yang menyerupai bahan pemadam pada Alat Pemadam Api Ringan (APAR). Bahan tersebut juga dapat diaplikasikan menggunakan alat semprot.
Konsep ini dinilai menarik karena berpotensi menjadi alternatif dalam kondisi tertentu ketika pemadaman membutuhkan metode selain air. Namun, penggunaannya untuk karhutla berskala besar masih memerlukan serangkaian pengujian.
Efektivitas bahan harus diuji berdasarkan luas area terbakar, ukuran bahan, volume yang digunakan, serta metode distribusinya. Pemerintah juga ingin mengetahui kemungkinan bahan tersebut digunakan dari udara menggunakan helikopter atau pesawat.
Prabowo meminta dilakukan uji coba menggunakan pesawat M17 yang selama ini digunakan untuk operasi water bombing.
Baca Juga: Kubu Febrie Adriansyah Klaim Temukan 40 Dugaan Pelanggaran dalam Proses Hukum
“Kalau M17 itu 4 ton water bombing. Mungkin ubi serbuk, tepung ini kita uji coba efektif luasnya berapa. M17 cukup efektif?” ujar Prabowo.
Berawal dari Inovasi Babinsa
Pangdam II/Sriwijaya, Mayjen TNI Ujang Darwis, mengatakan bahan pemadam berbasis tepung singkong tersebut merupakan inovasi anggota Babinsa di Lubuklinggau.
Namun, inovasi tersebut masih menghadapi kendala kapasitas produksi. Saat ini jumlah produksi belum mampu memenuhi kebutuhan dalam skala besar.
“Memang kapasitas produksinya masih kecil, Bapak. Kalau memang ada ini kami akan coba secara besar sehingga nanti ini juga sudah disampaikan kepada BNPB,” kata Ujang.
Baca Juga: Anak 7 Tahun Ditinggal Ayah Sendirian di Gunung Fuji karena Kelelahan
Meski demikian, penerapan ubi bombing dalam operasi karhutla belum dapat langsung menggantikan water bombing. Metode tersebut masih membutuhkan pengujian untuk memastikan keamanan, efektivitas, kapasitas produksi, dan kemampuan menjangkau area kebakaran yang luas. (*)
Editor : M Tahang