Program MBG Bantu Peternak Ayam Petelur di Bintan, Produksi Telur Lokal Terserap Pasar
Slamet Nofasusanto• Selasa, 13 Januari 2026 | 13:45 WIB
PETERNAK ayam petelur, Erdis Suhendri menunjukkan telur dari kandangnya di Desa Kuala Sempang, Kecamatan Seri Kuala Lobam, Senin (12/1/2026) sore. F.Slamet Nofasusanto/Batam Pos.
Batampos - ProgramMakan Bergizi Gratis (MBG)memberikan dampak positif bagi peternak ayam petelur di Kabupaten Bintan. Salah satunya dirasakan peternak diDesa Kuala Sempang, Kecamatan Seri Kuala Lobam, yang kini memiliki pasar tetap untuk hasil produksi telur mereka.
Ketua Kelompok Mawar Jingga,Erdis Suhendri, mengatakan program MBG membantu peternak lokal dalam memasarkan telur sekaligus meningkatkan pendapatan. Usaha ayam petelur yang dikelolanya merupakan bantuan dari pemerintah pusat.
Dengan populasi sekitar600 ekor ayam petelur, Erdis mampu memproduksi lebih dari400 butir telur per haridengan ukuran nomor 3. Telur-telur tersebut sebagian disalurkan untuk memenuhi kebutuhan program MBG.
“Tujuan dari program ini paling tidak bisa menstabilkan harga telur di lingkungan sekitar,” ujar Erdis.
Menurutnya, keberadaan program MBG membuat peternak tidak lagi kesulitan mencari pasar. Selain memenuhi kebutuhan masyarakat sekitar, Erdis juga telah menyuplai telur ke salah satuSatuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG)untuk mendukung pelaksanaan MBG.
“Kita utamakan dulu kebutuhan masyarakat di sekitar kita, baru ke MBG,” katanya.
Erdis menyebut, suplai telur untuk program MBG dilakukansekali dalam sepekandengan jumlah sekitar1.000 butir telur, disesuaikan dengan kemampuan produksi yang ada.
“Kita sanggupi sesuai kemampuan,” tambahnya.
Ia menilai program MBG merupakan program yang sangat baik, namun perlu didukung dengan keterbukaan dan manajemen yang tertata. Erdis berharap, ke depan MBG dapat bekerja sama dengan lebih banyak masyarakat danpelaku UMKM lokaldalam pengadaan bahan pangan.
“Kebutuhan MBG sangat besar. Akan lebih baik jika melibatkan lebih banyak masyarakat dan UMKM untuk pengadaan bahan pokok,” ujarnya.
Menurut Erdis, kebutuhan telur dalam program MBG idealnya dapat dipenuhi oleh peternak lokal. Selain membantu kelancaran program, hal ini juga berdampak langsung pada peningkatan pendapatan peternak.
“Seperti kami, kebutuhan telur bisa kami suplai walau sedikit. Jadi kami tidak susah-susah lagi mencari tempat menjual telur,” tutupnya.
Ia juga berharap kerja sama serupa dapat diperluas ke sektor pertanian, sepertipetani sayur mayur, agar hasil pertanian lokal dapat terserap optimal melalui program MBG. (*)