Batampos – Musim kemarau yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Bintan berdampak langsung pada ketersediaan air bersih. Di Tanjunguban, Kecamatan Bintan Utara, krisis air membuat warga memilih solusi praktis: mencuci pakaian di jasa laundry.
Fenomena ini membawa berkah tersendiri bagi pelaku usaha laundry. Salah satunya Laundrybox yang berlokasi di Jalan Permaisuri, Tanjunguban, yang mengalami lonjakan jumlah pelanggan sejak pasokan air di rumah-rumah warga mulai berkurang.
Operator Laundrybox, Kurnia, mengatakan peningkatan pelanggan terjadi karena banyak warga kesulitan air akibat musim kemarau berkepanjangan.
“Pelanggan lama yang sudah jarang datang, tiba-tiba kembali antar baju untuk dicuci karena di rumahnya tidak ada air,” ujar Kurnia, Jumat (6/2/2026).
Menurutnya, jika biasanya usaha laundry ramai hanya pada akhir pekan, kini kondisi berbeda. Hari kerja pun tak lagi sepi pelanggan.
Baca Juga: Skandal Epstein Meledak, PM Inggris Keir Starmer Terancam Lengser
“Biasanya Sabtu dan Minggu yang ramai, bisa sampai buka 20 nota. Tapi sekarang hari biasa juga ramai, bisa sampai 9 nota. Satu pelanggan bahkan ada yang sampai 11 kilogram,” jelasnya.
Lonjakan pelanggan ini berdampak pada waktu penyelesaian laundry. Jika sebelumnya bisa lebih cepat, kini rata-rata waktu pengambilan menjadi dua hari. Meski demikian, Laundrybox tetap menyediakan layanan ekspres dengan waktu pengerjaan sekitar lima jam.
Di sisi lain, Kurnia mengakui usaha laundry juga ikut terdampak krisis air. Pasokan air dari PDAM tidak lagi mengalir normal seperti sebelum musim kemarau.
“Dulu air mengalir 24 jam, penampungan selalu penuh. Sekarang tidak sampai penuh,” katanya.
Ia mengaku sempat membeli air tangki dengan harga Rp70 ribu per tangki, namun biaya tersebut dinilai terlalu berat untuk operasional usaha dalam jangka panjang.
Sementara itu, salah satu warga Tanjunguban, Nopi, mengaku lebih sering membawa pakaian ke laundry sejak air sumur di rumahnya menyusut.
“Tidak ada air di rumah, jadi baju dibawa ke laundry saja. Air yang ada paling buat kebutuhan sehari-hari,” ungkapnya. (*)
Editor : Chahaya Simanjuntak