Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

Waduk Sei Jago Menyusut, PDAM Tanjunguban Batasi Jam Aliran Air

Slamet Nofasusanto • Selasa, 10 Februari 2026 | 11:30 WIB
Kondisi ketinggian air waduk Sei Jago yang terus menyusut akibat kemarau berkepanjangan. F. Slamet Novasusanto/Batam Pos
Kondisi ketinggian air waduk Sei Jago yang terus menyusut akibat kemarau berkepanjangan. F. Slamet Novasusanto/Batam Pos

batampos – Kemarau berkepanjangan membuat kondisi Waduk Sei Jago di Desa Lancang Kuning, Kabupaten Bintan, semakin mengkhawatirkan. Ketinggian air waduk yang menjadi sumber utama air baku wilayah Tanjunguban kini tersisa sekitar 47 sentimeter, memicu ancaman krisis air bersih bagi ribuan warga.

Berdasarkan pantauan di lapangan, setiap hari tinggi muka air Waduk Sei Jago terus menyusut sekitar 2 hingga 3 sentimeter. Belum turunnya hujan dalam beberapa pekan terakhir memperparah kondisi waduk yang sudah berada pada level kritis.

Akibat penyusutan tersebut, PDAM Tirta Kepri Cabang Tanjunguban terpaksa menurunkan debit air sekaligus membatasi jam pendistribusian air ke pelanggan.

“Distribusi air terpaksa dikurangi agar ketersediaan air di Waduk Sei Jago tetap terjaga,” kata Kepala Cabang PDAM Tirta Kepri Tanjunguban, Sugito, Senin (9/2/2026).

Saat ini, aliran air hanya tersedia mulai pukul 04.00 WIB hingga 15.00 WIB. Kondisi ini jauh berbeda dari situasi normal, di mana layanan distribusi air berlangsung selama 24 jam.

Sugito menjelaskan, langkah pembatasan dilakukan untuk memastikan sekitar 2.960 pelanggan aktif PDAM di wilayah Tanjunguban tetap memperoleh pasokan air bersih, meski dalam jumlah terbatas.

Selain faktor kemarau panjang, penyusutan air waduk juga dipicu kebocoran pada struktur Waduk Sei Jago. Upaya perbaikan sebelumnya belum sepenuhnya efektif, bahkan titik kebocoran dilaporkan semakin meluas.

“Perbaikan waduk memang perlu segera dilakukan untuk menekan laju penyusutan air. Kami juga mengimbau masyarakat agar menggunakan air seperlunya selama musim kemarau,” ujarnya.

Di sisi lain, warga mulai mengeluhkan kualitas air yang dinilai menurun. Ali, warga Tanjunguban, menyebut air PDAM yang diterima belakangan ini tampak keruh, terutama sejak kemarau melanda.

“Airnya keruh. Sudah disaring tetap keruh, jadi tangki air harus sering dibersihkan,” keluhnya.

Ia berharap PDAM Tirta Kepri dapat mencari sumber air alternatif untuk mengantisipasi krisis air bersih yang berpotensi semakin parah.

“Mungkin bisa bekerja sama dengan SPAM di Lobam yang air bakunya masih melimpah, supaya masalah ini bisa diatasi,” pungkasnya. (*)

Editor : M Tahang
#Waduk Sei Jago #PDAM Tanjunguban #krisis air