batampos – Pelantar kayu di Kampung Tanjungtalok, Desa Teluk Sasah, Kecamatan Seri Kuala Lobam, Kabupaten Bintan, roboh dan mengganggu aktivitas nelayan setempat.
Peristiwa tersebut terjadi sebelum Lebaran. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian itu, namun dampaknya dirasakan langsung oleh nelayan yang selama ini bergantung pada pelantar untuk aktivitas bongkar muat hasil tangkapan.
“Pelantar roboh sendiri. Kejadiannya sebelum Lebaran, tidak ada korban,” ujar Johan, nelayan setempat, Jumat (3/4).
Baca Juga: Mengenal Jong, Warisan Budaya Pesisir Kepulauan Riau
Pelantar tersebut selama ini digunakan sebagai tempat tambat sampan sekaligus akses nelayan membawa hasil tangkapan ke darat. Warga dari luar juga kerap memanfaatkannya untuk memancing.
Sejak pelantar roboh, nelayan mengalami kesulitan, terutama saat air laut surut. Mereka terpaksa mengangkut hasil tangkapan secara manual.
“Kalau air surut, kami harus angkut ikan karena pelantar sudah tidak bisa dipakai,” tambahnya.
Pelantar tersebut diketahui dibangun pada awal 2000-an dan sempat direhabilitasi sekitar lima tahun lalu. Nelayan berharap pemerintah dapat membangun kembali pelantar secara permanen agar lebih aman dan tahan lama.
Baca Juga: Belum Tuntas! Tiga Perkara Perdata Nany Widjaja di PN Surabaya Masih Berjalan
Sekretaris Desa Teluk Sasah, Pratiwi, membenarkan kejadian tersebut. Ia menyebut pelantar roboh pada 11 Maret 2026.
Pemerintah desa bersama perangkat RT/RW, pihak kecamatan, dan dinas terkait telah turun langsung ke lokasi untuk melakukan pengecekan.
“Kami sudah melaporkan kejadian ini ke pihak kecamatan untuk tindak lanjut,” ujarnya. (*)
Editor : M Tahang