batampos – Keresahan menyelimuti warga Tanjunguban, Kecamatan Bintan Utara, setelah kemunculan seekor buaya di saluran air dekat permukiman. Meski belum ditemukan kembali, ancaman satwa liar itu membuat warga bergerak cepat.
Pada Minggu (12/4), warga secara swadaya menyisir parit-parit di sekitar lingkungan tempat tinggal mereka. Penyisiran difokuskan pada titik-titik yang dipenuhi semak, lubang air, serta jalur aliran yang berpotensi menjadi tempat persembunyian buaya.
Ketua RT setempat, Januaris, mengatakan pencarian dilakukan menyeluruh dari area tikungan jalan yang kerap tergenang hingga ke belakang kawasan perumahan.
Baca Juga: Tambang Pasir Laut di Bintan Picu Konflik, Nelayan Terbelah dan Resah
“Kami telusuri dari bawah Perumahan Oeban Village sampai ke area belakang Perumahan PBI,” ujarnya.
Warga tidak hanya mengamati permukaan air, tetapi juga membuka semak dan memeriksa setiap celah di sepanjang parit.
Upaya penyisiran yang berlangsung selama beberapa jam belum membuahkan hasil. Namun, warga memastikan pencarian akan terus dilanjutkan dengan melibatkan pihak kelurahan.
Kepala UPT Damkar Tanjunguban, Panyodi, menyatakan pihaknya juga telah melakukan pengecekan di lokasi yang sama, namun belum menemukan keberadaan buaya.
Di tengah situasi ini, warga diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama terhadap aktivitas anak-anak di sekitar saluran air.
Baca Juga: Harga Ayam di Tanjungpinang Turun Jadi Rp42 Ribu, Tapi Daya Beli Melemah
“Untuk sementara jangan biarkan anak-anak bermain di parit atau area yang berdekatan dengan air,” ujar Panyodi.
Keresahan warga bermula dari video penampakan buaya yang viral di media sosial. Dalam rekaman singkat tersebut, seekor buaya terlihat berada di parit yang dekat dengan permukiman.
Salah satu warga, Yono, mengaku awalnya mengira hewan tersebut adalah biawak. Namun, saat didekati, hewan itu membuka mulut lebar sehingga ia menyadari bahwa itu adalah buaya.
Kemunculan satwa liar di lingkungan permukiman ini menjadi peringatan serius bagi warga, khususnya yang tinggal di dekat aliran air dan kawasan semak. (*)
Editor : M Tahang