Batampos - Dinas Kesehatan (Dinkes) Bintan menyelidiki dugaan keracunan yang dialami puluhan warga Tanjunguban dan Seri Kuala Lobam.
Kejadian ini bermula setelah sejumlah warga mengeluhkan mual, pusing, muntah-muntah hingga diare diduga usai menyantap makanan dari hajatan di Tanjunguban.
Kepala Dinkes Bintan, Retno Riswati mengatakan, kasus ini pertama kali dilaporkan pada Minggu (12/4/2026), dimana beberapa orang mengalami gejala seperti mual, muntah, demam, dan diare.
"Benar telah terjadi dugaan kasus keracunan pangan pada sejumlah warga diduga setelah mengonsumsi makanan dari sumber yang sama," kata Retno, pada Selasa (14/4/2026).
Hanya saat disinggung, apakah makanan dari sumber yang sama itu berasal dari hajatan di Tanjunguban, Retno belum mau mengungkapkannya.
Hanya, Tim Dinkes Bintan telah turun melakukan penyelidikan epidemiologi untuk mengidentifikasi penyebab kejadian, melacak sumber makanan diduga terkontaminasi, dan mendata total korban terdampak.
Menurutnya, hasil penyelidikan ini sebagai dasar tindaklanjut upaya yang akan dilakukan Dinkes Bintan ke depan.
Selain itu, Dinkes juga telah menangani sampel makanan untuk diperiksa laboratorium.
"Sampel makanan telah dikirim untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium BPOM Batam lebih lanjut," kata Retno.
Retno memastikan, seluruh pasien telah mendapat penanganan medis di fasilitas kesehatan terdekat dan dalam kondisi terpantau.
Baca Juga: Akses Pemukiman Warga jadi Tantangan Damkar Saat Distribusi Air Bersih di Anambas
Dinkes juga berkoordinasi dengan pihak terkait, baik rumah sakit, puskesmas dan instansi terkait agar penanganan berjalan optimal dan kasus ini tak terulang.
Retno mengimbau kepada warga untuk memastikan makanan yang dikonsumsi dalam kondisi bersih, matang, dan higienis.
Selain itu, warga diminta menghindari konsumsi makanan yang telah basi atau disimpan terlalu lama.
"Segeralah memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala keracunan pangan," tambahnya.
Ia menegaskan, pihaknya akan terus memberikan pembaruan informasi kepada masyarakat seiring dengan perkembangan hasil investigasi. (*)
Editor : Chahaya Simanjuntak