Dapur MBG Tanjunguban Tutup 1,5 Bulan, Pekerja Buka Jasa Penitipan Anak demi Bertahan Hidup

Slamet Nofasusanto • Dipublikasikan Senin, 3 Agustus 2026 | 17:31 WIB
SPPG Tanjunguban 3, salah satu dapur MBG di Jalan Indunsuri, Tanjunguban, Kecamatan Bintan Utara terlihat berhenti beroperasi. F.Slamet Nofasusanto/Batam Pos
SPPG Tanjunguban 3, salah satu dapur MBG di Jalan Indunsuri, Tanjunguban, Kecamatan Bintan Utara terlihat berhenti beroperasi. F.Slamet Nofasusanto/Batam Pos

batampos – Penghentian operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tanjunguban Selatan 3 di Jalan Indunsuri, Tanjunguban, Kecamatan Bintan Utara, selama lebih dari 1,5 bulan mulai dirasakan para pekerjanya.

Salah satunya adalah Nur Rabiatul Adawiyah (24) atau akrab disapa Wia. Kehilangan pekerjaan akibat tutupnya dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) membuatnya harus mencari sumber penghasilan baru dengan membuka jasa penitipan anak di rumahnya di Jalan Mekarsari, Tanjunguban.

"Iya saya kehilangan pekerjaan. Rasanya seperti kehilangan separuh napas saya," ujar Wia.

Baca Juga: Bangun Data Center di Kabil, Longmotive Siapkan SDM Lokal Sambut Investasi Digital

Selama bekerja di dapur MBG sebagai petugas pemorsian makanan, upah yang diterimanya menjadi penopang utama kebutuhan sehari-hari, mulai dari membeli beras hingga membayar tagihan listrik.

"Sejak dapur MBG tutup, kondisi keuangan saya benar-benar kritis," ungkapnya.

Sebagai anak tunggal, Wia juga menjadi tulang punggung keluarga. Ayahnya yang sebelumnya bekerja sebagai petugas kebersihan di Pertamina kini sudah tidak bekerja, sedangkan ibunya merupakan ibu rumah tangga.

"Bapak sudah tidak kerja. Dulu bagian kebersihan di Pertamina. Ibu saya ibu rumah tangga," katanya.

Baca Juga: 17 ASN Pensiun, Amsakar Segera Rombak Pejabat Pemko Batam

Wia baru sekitar delapan bulan bekerja di dapur MBG dengan upah sekitar Rp120 ribu per hari. Sebelum bergabung dalam program tersebut, ia mengajar di salah satu lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Tanjunguban.

Kini, ia membuka jasa penitipan anak di rumah dengan tarif sekitar Rp100 ribu per hari, mulai pukul 08.00 hingga 17.00 WIB. Namun, jumlah anak yang dititipkan tidak menentu.

"Kadang ada, kadang tidak. Ada juga yang hanya menitipkan per jam," ujarnya.

Untuk menambah penghasilan, Wia juga bekerja paruh waktu sebagai asisten wedding organizer (WO).

Meski berusaha bertahan, ia berharap dapur MBG segera kembali beroperasi. Berbagai lamaran kerja telah dikirim ke sejumlah perusahaan, namun hingga kini belum membuahkan hasil.

"Saya sudah melamar kerja di beberapa perusahaan, tapi belum ada panggilan," kata mahasiswi Universitas Terbuka jurusan Manajemen itu.

Wia mengaku sempat mendatangi pihak SPPG untuk menanyakan kepastian operasional dapur MBG.

"Mereka bilang masih menunggu dari BGN. Katanya ada masalah karena salah input email, jadi prosesnya belum selesai," tuturnya.

Sebelumnya, Kepala SPPG Tanjunguban Selatan 3, Muhammad Arief, menjelaskan penghentian operasional berkaitan dengan proses pergantian Person in Charge (PIC) di Badan Gizi Nasional (BGN). Akses Virtual Account (VA) BGN disebut masih terhubung dengan alamat email yang bermasalah sehingga transaksi operasional belum dapat dilakukan.

"Ada kendala saat input email sehingga harus diurus ulang. Kami hanya meminta VA dikirim ke alamat email yang benar agar operasional bisa berjalan kembali. Pengajuan sudah dilakukan sejak bulan lalu, tetapi diminta menunggu karena BGN sedang melakukan pembenahan di pusat," jelas Arief.

Akibat penghentian operasional tersebut, sekitar 2.900 penerima manfaat dari 30 sekolah dan tiga posyandu di wilayah Bintan Utara dan Seri Kuala Lobam untuk sementara tidak lagi menerima layanan MBG. Selain itu, sekitar 48 pekerja dapur MBG juga terpaksa dirumahkan sambil menunggu operasional kembali berjalan. (*)

Editor : Jamil Qasim
dapur MBG SPPG