Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

Ekspor Batam Turun 3,06 Persen, Impor Melonjak 14,21 Persen pada Januari-Mei 2026

Rengga Yuliandra • Minggu, 5 Juli 2026 | 23:59 WIB
Aktivitas ekspor-impor di Pelabuhan Batam yang didukung program Authorized Economic Operator (AEO) untuk mempercepat layanan kepabeanan. (Istimewa)
Aktivitas ekspor-impor di Pelabuhan Batam yang didukung program Authorized Economic Operator (AEO) untuk mempercepat layanan kepabeanan. (Istimewa)

batampos – Kinerja perdagangan luar negeri Kota Batam selama Januari hingga Mei 2026 menunjukkan dinamika yang berbeda antara ekspor dan impor. Nilai ekspor tercatat mengalami penurunan dibandingkan periode yang sama tahun lalu, sedangkan impor justru tumbuh dua digit seiring meningkatnya kebutuhan bahan baku dan barang modal bagi sektor industri.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batam, Eko Aprianto, mengatakan nilai ekspor Batam selama lima bulan pertama 2026 mencapai US$7,859 miliar, turun 3,06 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang mencapai US$8,108 miliar.

Menurutnya, penurunan tersebut terutama dipicu melemahnya ekspor sektor nonmigas.

"Penurunan ekspor kumulatif Januari–Mei 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya disebabkan oleh menurunnya ekspor sektor nonmigas," ujar Eko, Minggu (5/7).

Baca Juga: Kabar Gembira Penggemar! Sekuel The Parent Trap Disebut Sedang Dikembangkan Disney

Nilai ekspor nonmigas tercatat sebesar US$7,501 miliar, turun 3,53 persen dibandingkan Januari–Mei 2025 yang mencapai US$7,775 miliar.

Sementara itu, secara bulanan, nilai ekspor Batam pada Mei 2026 tercatat US$1,468 miliar, turun 18,34 persen dibandingkan Mei tahun lalu. Ekspor nonmigas turun 21,20 persen menjadi US$1,369 miliar, sedangkan ekspor migas justru meningkat 64,99 persen menjadi US$98,45 juta.

Mesin Listrik Masih Mendominasi Ekspor

BPS mencatat kelompok mesin dan peralatan listrik (HS 85) masih menjadi komoditas ekspor nonmigas terbesar Batam dengan nilai mencapai US$4,058 miliar atau berkontribusi 54,09 persen terhadap total ekspor nonmigas.

Komoditas terbesar berikutnya meliputi mesin dan pesawat mekanik (HS 84) senilai US$932,69 juta, berbagai produk kimia (HS 38) sebesar US$417,62 juta, barang dari besi dan baja (HS 73) sebesar US$368,59 juta, serta minyak dan lemak hewan atau nabati (HS 15) senilai US$343,51 juta.

Selain itu, perangkat optik, tembakau, kakao, bahan kimia organik, serta plastik dan produk turunannya juga menjadi penyumbang ekspor Batam.

Di tengah tren penurunan ekspor, komoditas ikan dan udang (HS 03) justru mencatat pertumbuhan positif. Nilai ekspornya mencapai US$8,47 juta, meningkat 28,34 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Amerika Serikat Masih Jadi Pasar Utama

Amerika Serikat tetap menjadi negara tujuan ekspor terbesar Batam sepanjang Januari–Mei 2026 dengan nilai mencapai US$2,083 miliar, atau berkontribusi 26,50 persen terhadap total ekspor.

Meski masih menjadi pasar utama, nilai ekspor ke negara tersebut turun 0,95 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Posisi berikutnya ditempati Singapura dengan nilai ekspor US$1,858 miliar atau menyumbang 23,63 persen, disusul India, Tiongkok, Jepang, Australia, Belanda, Filipina, Malaysia, dan Uni Emirat Arab.

Sepuluh negara tersebut menyerap sekitar 81,87 persen dari total ekspor Batam selama lima bulan pertama tahun ini.

Baca Juga:  Indonesia Raih Tiga Medali di World Climbing Series Krakow 2026, Robby/Desak Persembahkan Perak Estafet Campuran

Dari sisi pelabuhan, Pelabuhan Batu Ampar masih menjadi gerbang utama ekspor dengan nilai mencapai US$5,396 miliar. Selanjutnya Pelabuhan Sekupang sebesar US$1,238 miliar, Pelabuhan Kabil/Panau US$743,51 juta, Pelabuhan Belakang Padang US$365,32 juta, dan Bandara Hang Nadim US$97,22 juta.

Kelima pintu ekspor tersebut menyumbang 99,74 persen dari total nilai ekspor Batam.

Impor Tumbuh Dua Digit

Berbeda dengan ekspor, nilai impor Batam justru menunjukkan pertumbuhan yang cukup tinggi.

Selama Januari–Mei 2026, nilai impor mencapai US$8,295 miliar, meningkat 14,21 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pada Mei 2026 saja, nilai impor tercatat US$2,105 miliar, naik 19,81 persen dibandingkan Mei 2025.

Impor nonmigas meningkat 19,26 persen menjadi US$2,085 miliar, sedangkan impor migas melonjak 132,48 persen menjadi US$19,69 juta.

Komoditas impor terbesar masih didominasi kelompok mesin dan peralatan listrik (HS 85) dengan nilai US$3,567 miliar, atau sekitar 43,30 persen dari total impor nonmigas.

Sementara itu, Tiongkok menjadi negara asal impor terbesar Batam dengan nilai mencapai US$3,525 miliar, setara 42,50 persen dari total impor selama Januari–Mei 2026.

Untuk pintu masuk barang, Pelabuhan Batu Ampar kembali menjadi gerbang utama impor dengan nilai US$5,355 miliar, diikuti Pelabuhan Sekupang US$2,359 miliar, Pelabuhan Kabil/Panau US$323,96 juta, Pelabuhan Pulau Sambu US$238,93 juta, serta Bandara Hang Nadim US$9,52 juta.

Menurut BPS, tingginya aktivitas impor menunjukkan masih kuatnya kebutuhan industri manufaktur di Batam terhadap bahan baku dan barang modal. Kondisi tersebut mencerminkan aktivitas produksi industri yang tetap berjalan dan menjadi penopang utama perekonomian Kota Batam, meski kinerja ekspor pada awal tahun mengalami perlambatan. (*)

Editor : Putut Ariyo
#Impor Batam #Perdagangan Luar Negeri #industri Batam #bps batam #ekspor batam