batampos – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mendorong penguatan investasi China di Indonesia, termasuk pengembangan kawasan industri di Batam, dalam pertemuannya dengan Menteri Perdagangan China Wang Wentao di Shanghai, Jumat (17/7).
Dalam pertemuan tersebut, Airlangga mengatakan kedua pihak membahas implementasi nota kesepahaman (MoU) yang telah ditandatangani antara Kementerian Perdagangan China dan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI, salah satunya terkait program Two Countries Twin Parks (TCTP).
"Pembicaraan dengan Menteri Perdagangan Wang Wentao adalah kami membahas MoU yang sudah ditandatangani antara Kementerian Perdagangan dan Kemenko Perekonomian, salah satunya soal Two Countries Twin Parks," ujar Airlangga.
Menurut Airlangga, salah satu pembahasan utama adalah pengembangan kawasan industri di Batam. Pemerintah Indonesia mengusulkan agar perusahaan-perusahaan China yang beroperasi di luar Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) juga dapat memperoleh fasilitas yang setara dengan perusahaan di dalam kawasan tersebut.
Ia menyebut kerja sama yang telah disepakati melalui MoU tersebut memiliki nilai investasi sekitar 2,5 miliar dolar AS.
Selain membahas kawasan industri, kedua negara juga mengevaluasi kerja sama di sektor industri, perdagangan, dan ekonomi digital.
China Mitra Ekonomi Strategis
Airlangga menegaskan China masih menjadi mitra dagang terbesar Indonesia. Sepanjang 2025, nilai perdagangan bilateral kedua negara mencapai 167,48 miliar dolar AS, dengan ekspor Indonesia ke China meningkat 16,7 persen.
Sementara itu, perdagangan Indonesia dengan Hong Kong mencapai sekitar 6 miliar dolar AS, sehingga total perdagangan Indonesia dengan China dan Hong Kong mencapai sekitar 173 miliar dolar AS.
Dari sisi investasi, realisasi investasi China di Indonesia pada 2025 mencapai sekitar 7,58 miliar dolar AS, sedangkan investasi Hong Kong sebesar 10,1 miliar dolar AS. Dengan demikian, total investasi dari China dan Hong Kong mencapai sekitar 18 miliar dolar AS, menjadikan kawasan tersebut sebagai sumber investasi asing terbesar bagi Indonesia.
Airlangga dijadwalkan melanjutkan agenda diplomasi ekonominya dengan bertemu Menteri Luar Negeri China Wang Yi di Shanghai pada Sabtu (18/7).
Bahas AI dan Transformasi Digital
Selain bertemu Menteri Perdagangan China, Airlangga juga melakukan pertemuan dengan dua perusahaan teknologi asal China, yakni Huawei dan ByteDance.
Pertemuan tersebut membahas peluang kerja sama di bidang kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), pembangunan infrastruktur digital, pengembangan talenta digital, serta peningkatan investasi teknologi di Indonesia.
Dalam pertemuan dengan Huawei, pemerintah menawarkan kerja sama pada empat bidang utama, yakni investasi infrastruktur AI dan komputasi awan (cloud), pengembangan talenta digital dan keamanan siber, percepatan digitalisasi pemerintahan dan UMKM, serta penerapan solusi energi hijau untuk pusat data (data center).
Airlangga mengatakan, setelah Indonesia menjadi salah satu negara pendiri World AI Cooperation Organization (WAICO), pemerintah ingin mempercepat kolaborasi teknologi dengan mitra global.
"Huawei merupakan mitra strategis yang potensial untuk mendukung transformasi digital nasional melalui kemampuan di bidang AI, infrastruktur telekomunikasi, dan komputasi awan," ujarnya.
ByteDance Perluas Kolaborasi
Dalam pertemuan terpisah, Airlangga mengapresiasi komitmen investasi ByteDance di Indonesia, terutama melalui Tokopedia dan TikTok Shop yang dinilai telah memperkuat ekosistem perdagangan digital nasional.
Pemerintah juga mendorong ByteDance memperluas kerja sama dalam pengembangan Large Language Models (LLM), machine learning, dan generative AI, termasuk peluang membangun pusat riset AI di Indonesia.
Menurut Airlangga, Indonesia memiliki potensi besar sebagai pusat pengembangan teknologi digital karena didukung pasar yang luas, talenta digital yang terus berkembang, serta komitmen pemerintah membangun ekosistem AI yang inklusif.
Ia berharap kemitraan dengan Huawei dan ByteDance, serta keikutsertaan Indonesia dalam WAICO, dapat mempercepat transfer teknologi, memperkecil kesenjangan teknologi global, sekaligus meningkatkan daya saing ekonomi digital nasional. (*)
Editor : Jamil Qasim