batampos - Nilai investasi yang masuk ke Batam terus mengalami peningkatan, terutama dari sektor industri berbasis teknologi seperti pusat data (data center). Meski membawa nilai investasi yang besar, sektor ini dinilai belum mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah signifikan.
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Kepulauan Riau, Diky Wijaya, mengatakan tren investasi di Batam saat ini didominasi oleh investasi padat modal yang mengandalkan teknologi dan infrastruktur. Di sisi lain, investasi padat karya seperti industri manufaktur masih menjadi sektor yang paling banyak membuka lapangan kerja.
"Sekarang memang banyak investasi padat modal seperti data center. Investasinya besar, tapi memang penyerapan tenaga kerjanya tidak begitu banyak," kata Diky, Minggu (2/8).
Menurut Diky, satu proyek data center dengan nilai investasi yang sangat besar umumnya hanya membutuhkan sekitar 200 hingga 300 pekerja selama operasionalnya. Kondisi tersebut berbeda dengan industri manufaktur yang mampu menyerap ribuan tenaga kerja.
Karena itu, pemerintah menilai strategi peningkatan investasi tidak hanya berfokus pada besarnya nilai modal yang masuk, tetapi juga harus mempertimbangkan dampaknya terhadap penciptaan lapangan kerja.
"Kalau padat karya, nanti yang manufaktur, pengolahan elektronik itu mungkin diperbanyak kembali untuk penerimaan kerja-kerja lokal," ujarnya.
Industri Teknologi Butuh SDM Berketerampilan Tinggi
Diky menjelaskan, perubahan struktur investasi tidak terlepas dari perkembangan teknologi. Industri data center membutuhkan pembangunan infrastruktur bernilai tinggi, namun setelah beroperasi jumlah pekerja yang dibutuhkan relatif sedikit.
Meski demikian, investasi padat modal tetap memberikan kontribusi terhadap perekonomian daerah, baik melalui penerimaan pajak maupun aktivitas ekonomi yang tumbuh di sekitar kawasan industri.
Menurutnya, kehadiran perusahaan-perusahaan teknologi global yang memanfaatkan fasilitas data center di Batam juga berpotensi memperkuat posisi kota tersebut sebagai salah satu pusat infrastruktur digital di Indonesia.
Namun, industri berbasis teknologi memiliki kebutuhan tenaga kerja yang berbeda. Perusahaan lebih banyak mencari tenaga teknis dengan kompetensi khusus dibanding pekerja umum.
"Penyerapan tenaga kerja untuk padat modal ini adalah pekerja yang punya skill. Rata-rata teknisi di situ," kata Diky.
Ia menyebut tenaga kerja yang dibutuhkan umumnya memiliki kemampuan di bidang teknologi informasi, informatika, teknik elektro, jaringan, hingga berbagai keahlian teknis lainnya yang mendukung operasional pusat data.
Pemerintah Dorong Penguatan Industri Padat Karya
Melihat kondisi tersebut, Diky menilai peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) lokal menjadi hal yang tidak bisa dipisahkan dari masuknya investasi teknologi ke Batam. Pemerintah perlu memastikan tenaga kerja di Kepulauan Riau memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri.
"Yang skill diutamakan. Jadi tenaga kerjanya rata-rata yang sudah punya skill," ujarnya.
Di sisi lain, pemerintah bersama pemerintah pusat dan BP Batam juga akan terus mendorong pengembangan industri padat karya, khususnya sektor manufaktur dan industri pengolahan, agar pertumbuhan investasi tetap diikuti peningkatan kesempatan kerja bagi masyarakat.
Menurut Diky, Batam selama ini dikenal sebagai kawasan industri manufaktur yang mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Oleh sebab itu, penguatan kembali sektor tersebut dinilai penting agar keseimbangan antara investasi dan penyerapan tenaga kerja tetap terjaga.
"Ke depan, padat karya di manufaktur, khususnya pengolahan, akan diperluas. Sistem manufaktur dan pengolahan yang ada di Batam ini akan lebih ditingkatkan lagi, sehingga lapangan pekerjaan juga lebih banyak," katanya. (*)
Editor : Putut Ariyo