batampos – Industri fesyen nasional terus menunjukkan pertumbuhan positif dan menjadi salah satu penopang ekonomi kreatif Indonesia. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat produk domestik bruto (PDB) industri fesyen mencapai Rp120,13 triliun pada triwulan I 2026.
Di tengah pertumbuhan tersebut, pola belanja masyarakat juga mengalami perubahan. Konsumen kini semakin banyak menemukan dan membeli produk fesyen melalui konten digital, seperti video pendek dan siaran langsung (LIVE), yang berkembang dalam ekosistem discovery commerce.
Fashion Category Strategy and Campaign Lead Tokopedia & TikTok Shop Indonesia, Claudia Elaine, mengatakan perilaku konsumen saat ini semakin dipengaruhi oleh konten digital yang menggabungkan hiburan dan aktivitas belanja.
"Kini, makin banyak konsumen yang mendapatkan inspirasi melalui video pendek dan sesi LIVE. Inklusivitas discovery commerce membuka peluang bagi brand fesyen lokal dari berbagai skala untuk menjangkau lebih banyak konsumen melalui konten, komunitas, dan aktivitas perdagangan dalam satu ekosistem yang terintegrasi," kata Claudia di Jakarta, Selasa (4/8).
LIVE Shopping Dongkrak Penjualan
Menurut Claudia, fitur LIVE Shopping menjadi salah satu pendorong pertumbuhan penjualan produk fesyen lokal.
Pada kuartal I 2026, jumlah pesanan melalui sesi LIVE meningkat 59 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Selain itu, TikTok Shop juga menghadirkan berbagai fitur, seperti kolaborasi dengan affiliate dan halaman khusus bagi brand lokal untuk memperluas jangkauan pasar.
Kategori fesyen tercatat sebagai salah satu sektor dengan pertumbuhan pesanan tertinggi melalui program affiliate.
Sepanjang 2025, jumlah pesanan dari affiliate di TikTok Shop meningkat 2,5 kali lipat dibandingkan 2024.
Riset Accenture Song bertajuk Shoppertainment: APAC's Trillion-Dollar Opportunity juga memperkirakan nilai ekonomi yang dipengaruhi kreator konten di kawasan Asia-Pasifik akan mencapai USD 1,2 triliun pada 2030, atau meningkat sekitar 1,4 kali dibandingkan 2025.
Beige Studio Raup Hingga 700 Pesanan per Hari
Salah satu brand lokal yang memanfaatkan discovery commerce adalah Beige Studio, yang turut berpartisipasi dalam Indonesia Fashion Week (IFW) 2026 bersama TikTok Shop.
Didirikan oleh Priscillia Wirjadinata saat masih berkuliah pada masa pandemi COVID-19, Beige Studio kini berkembang dari bisnis sampingan menjadi sumber penghasilan utama.
Brand fesyen perempuan tersebut memanfaatkan TikTok LIVE sebagai kanal utama peluncuran koleksi baru, sementara video pendek digunakan untuk menjangkau audiens yang lebih luas dan membangun kepercayaan konsumen.
Strategi tersebut berhasil meningkatkan penjualan hingga 700 pesanan per hari melalui TikTok Shop.
"Dukungan TikTok Shop memperkuat brand kami; saat kampanye tanggal kembar dan pay day, penjualan kami naik lebih dari 50 persen," ujar Priscillia.
Menurutnya, sistem perlindungan konsumen di platform juga menjadi faktor yang meningkatkan kepercayaan pembeli.
"Walau pengikut kami belum banyak, konsumen tetap yakin berbelanja karena merasa terlindungi oleh sistem di platform. Ini membuat kami #JualanNyaman di TikTok Shop," katanya.
Affiliate Jadi Motor Pertumbuhan UMKM Fesyen
Selain pelaku usaha, kreator konten atau affiliate juga dinilai berperan besar dalam memperkenalkan produk fesyen lokal kepada masyarakat.
Salah satunya Ireztia, kreator dengan lebih dari satu juta pengikut yang aktif mempromosikan produk fesyen muslim buatan UMKM Indonesia.
Menurut Ireztia, awalnya ia mempelajari sistem affiliate untuk mendukung bisnisnya sendiri. Namun, profesi tersebut berkembang menjadi peluang untuk membantu pelaku UMKM memperluas pasar.
"Awalnya, aku ingin belajar bagaimana affiliate bekerja karena ingin pakai untuk brand sendiri. Ternyata ketagihan, dan dari situ mulai serius menjalani profesi ini karena bisa sekaligus bantu brand UMKM fashion di Indonesia," ujarnya.
Ia menegaskan selalu menyeleksi produk berdasarkan kualitas, ulasan pelanggan, reputasi toko, serta memilih toko berstatus Mall untuk menjaga kepercayaan audiens.
Menurutnya, dukungan platform juga berdampak signifikan terhadap performa penjualan.
"Tanpa dukungan platform, ROI yang aku dapat biasanya sekitar 10 kali, tapi dengan dukungan platform angkanya bisa naik 30 sampai 40 kali. Perbedaannya terasa banget," tutupnya. (*)
Editor : Putut Ariyo