batampos – Realisasi investasi di Kota Batam, Kepulauan Riau, mencapai Rp29,89 triliun hingga Semester I 2026. Capaian tersebut menunjukkan pertumbuhan signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Berdasarkan data BP Batam, investasi tersebut terdiri atas Penanaman Modal Asing (PMA) Rp17,80 triliun dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) Rp12,09 triliun.
Secara kumulatif, realisasi investasi Semester I 2026 tumbuh 62,75 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Capaian tersebut sekaligus menunjukkan Batam masih menjadi salah satu daerah tujuan investasi strategis di Indonesia.
Triwulan II Tambah Rp12,41 Triliun
Pada Triwulan I 2026, investasi Batam tercatat mencapai Rp17,48 triliun.
Kemudian pada Triwulan II 2026, tambahan investasi mencapai Rp12,41 triliun. Dengan demikian, total investasi hingga akhir Semester I mencapai Rp29,89 triliun.
BP Batam menargetkan realisasi investasi sepanjang 2026 mencapai Rp70 triliun.
Dengan capaian Rp29,89 triliun hingga Semester I, realisasi investasi tersebut baru mencapai sekitar 42,7 persen dari target tahunan.
Artinya, masih terdapat ruang sekitar Rp40,11 triliun yang harus dikejar pada Semester II agar target Rp70 triliun dapat tercapai.
Investasi Serap 40.943 Tenaga Kerja
Pertumbuhan investasi tersebut juga diikuti peningkatan penyerapan tenaga kerja.
Sepanjang Semester I 2026, investasi di Batam tercatat menyerap 40.943 tenaga kerja. Jumlah tersebut meningkat 9.964 orang dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Penyerapan tenaga kerja menjadi salah satu indikator penting dari realisasi investasi karena menunjukkan aktivitas investasi tidak hanya berkaitan dengan masuknya modal, tetapi juga pembukaan kesempatan kerja.
Namun, besarnya penyerapan tenaga kerja tetap perlu diikuti penguatan keterlibatan tenaga kerja lokal agar manfaat ekonomi dapat semakin banyak dirasakan masyarakat Batam.
Amsakar: Investasi Tak Boleh Berhenti di Angka
Kepala BP Batam sekaligus Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, sebelumnya mengatakan pertumbuhan investasi harus diikuti kepastian berusaha dan pembangunan infrastruktur.
Menurutnya, pemerintah tidak boleh hanya mengejar besarnya nilai investasi yang tercatat di atas kertas.
"Kita tidak boleh berhenti pada angka. Yang paling penting adalah bagaimana investasi ini terus bergerak, proyeknya terealisasi, lapangan kerja tercipta, industri berkembang, dan memberikan multiplier effect bagi ekonomi Batam," ujar Amsakar.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa keberhasilan investasi tidak hanya diukur dari nilai modal yang masuk, tetapi juga dari realisasi proyek, penciptaan lapangan kerja, pertumbuhan industri, dan dampaknya terhadap aktivitas ekonomi masyarakat.
Dengan realisasi Rp29,89 triliun pada enam bulan pertama 2026, Batam telah mencapai sekitar 42,7 persen dari target investasi tahunan Rp70 triliun.
Tantangan berikutnya adalah menjaga momentum investasi sekaligus memastikan modal yang masuk mampu menciptakan lapangan kerja, memperkuat industri lokal, dan menghasilkan efek berantai yang lebih luas bagi ekonomi Batam. (*)
Editor : Putut Ariyo