batampos – Indonesia terus memperluas akses pasar produk furnitur dan interior ke Korea Selatan. Upaya tersebut dilakukan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Seoul bersama Kementerian Perdagangan dengan membawa 13 perusahaan Indonesia ke ajang Korea International Furniture and Interior Fair (KOFURN) 2026.
Duta Besar RI untuk Republik Korea Cecep Herawan mengatakan keikutsertaan Indonesia dalam salah satu pameran furnitur dan interior utama di Korea Selatan tersebut menjadi bagian dari strategi diplomasi ekonomi.
Selain memperkuat branding produk Indonesia, pameran tersebut menjadi kesempatan bagi pelaku usaha nasional bertemu calon pembeli dan mitra bisnis dari Korea Selatan.
"Keikutsertaan Indonesia di KOFURN merupakan bagian dari upaya konkret diplomasi ekonomi untuk membawa lebih banyak produk nasional bernilai tambah masuk ke pasar Korea," kata Cecep melalui pernyataan pers yang diterima di Jakarta, Jumat (28/8).
Menurutnya, Indonesia ingin membangun citra produk yang kuat sekaligus menciptakan hubungan bisnis berkelanjutan antara pelaku industri kedua negara.
Paviliun Indonesia Lebih Luas
Pada KOFURN 2026, produk-produk Indonesia ditampilkan melalui Paviliun Indonesia yang memiliki luas 144 meter persegi.
Ukuran tersebut meningkat dibandingkan penyelenggaraan KOFURN 2025 yang menggunakan area seluas 108 meter persegi.
Beragam produk furnitur dan interior ditampilkan untuk memenuhi kebutuhan berbagai segmen pasar, mulai dari rumah tinggal, perkantoran, hotel, kafe, hingga furnitur untuk hewan peliharaan.
Paviliun Indonesia mengedepankan sejumlah keunggulan produk nasional, terutama dari sisi material alami, craftsmanship, desain, dan aspek keberlanjutan.
Produk furnitur yang ditampilkan antara lain menggunakan kayu, rotan, kombinasi kayu dan logam, kayu jati, hingga kayu jati daur ulang.
Sementara produk interior memanfaatkan berbagai material khas Indonesia bernilai tambah, seperti rotan, eceng gondok, seagrass, pelepah pisang, mending, dan capiz shell.
Peluang dari Tren Konsumen Korea
Cecep menilai karakter produk Indonesia tersebut menjadi modal penting untuk memasuki pasar Korea Selatan yang semakin memperhatikan aspek desain, kualitas, fungsi, dan keberlanjutan.
"Kombinasi ini memberikan peluang besar bagi furnitur Indonesia untuk memenuhi kebutuhan pasar Korea yang dinamis dan inovatif," ujarnya.
Selain mengejar transaksi selama pameran, Indonesia juga membidik kerja sama jangka panjang.
Peluang tersebut mencakup kemitraan bisnis, pengembangan desain bersama, hingga integrasi industri furnitur Indonesia dan Korea Selatan.
KOFURN 2026 berlangsung pada 27-30 Agustus 2026 di Korea International Exhibition Center (KINTEX), Gyeonggi, Korea Selatan.
IK-CEPA Buka Akses Tarif
Peluang ekspor furnitur Indonesia ke Korea Selatan juga semakin terbuka melalui implementasi Indonesia-Korea Comprehensive Economic Partnership Agreement (IK-CEPA).
Melalui perjanjian tersebut, hampir seluruh produk furnitur asal Indonesia telah mendapatkan eliminasi tarif bea masuk hingga 0 persen di pasar Korea Selatan.
Keuntungan tarif tersebut memberikan ruang lebih besar bagi produk furnitur Indonesia untuk bersaing dengan produk dari negara lain.
Namun, masih terdapat satu pos tarif untuk produk furnitur dan interior berbahan baku kayu hasil refabrikasi yang dikenakan bea masuk sebesar 5 persen.
Preferensi tarif melalui IK-CEPA dinilai dapat menjadi salah satu keunggulan bagi eksportir Indonesia sekaligus mendorong peningkatan perdagangan produk bernilai tambah antara kedua negara.
Dengan kombinasi akses tarif, desain, material alami, dan kekuatan craftsmanship, industri furnitur Indonesia memiliki peluang untuk memperluas penetrasi pasar Korea Selatan sekaligus membangun jaringan bisnis jangka panjang. (*)
Editor : Putut Ariyo