Sembawang Shipyard Bersiap Tutup pada 2028, Warisan Maritim Singapura Akan Disulap Jadi Kawasan Wate

jpg • Dipublikasikan Rabu, 9 September 2026 | 05:32 WIB
Suasana Seatrium Admiralty Yard, bekas Sembawang Shipyard di Singapura, yang akan menghentikan operasional secara bertahap sebelum kawasan seluas 86 hektare itu dikembangkan menjadi destinasi waterfront modern pada 2028. Foto: CNA/Seatrium
Suasana Seatrium Admiralty Yard, bekas Sembawang Shipyard di Singapura, yang akan menghentikan operasional secara bertahap sebelum kawasan seluas 86 hektare itu dikembangkan menjadi destinasi waterfront modern pada 2028. Foto: CNA/Seatrium

batampos – Setelah menjadi bagian penting dari sejarah industri maritim Singapura selama hampir satu abad, Sembawang Shipyard kini memasuki babak terakhir perjalanannya. Galangan kapal legendaris yang kini beroperasi di bawah Seatrium akan menghentikan aktivitasnya secara bertahap sebelum lahannya diserahkan kepada pemerintah pada 2028 untuk dikembangkan menjadi kawasan waterfront terpadu. Demikian seperti ditulis CNA.

Bagi ribuan pekerja yang pernah mengabdikan hidupnya di lokasi tersebut, penutupan galangan kapal bukan sekadar perubahan fungsi lahan, melainkan berakhirnya sebuah warisan yang telah membentuk identitas maritim Singapura.

Salah satunya adalah Wang Huiping, Vice President Marketing Repairs & Upgrades Seatrium, yang telah bekerja di galangan itu sejak lulus kuliah pada 1993.

Meski nama resminya telah berubah menjadi Admiralty Yard lebih dari satu dekade lalu, banyak sopir taksi di Singapura masih menyebutnya sebagai Sembawang Shipyard.

"Rasanya sangat nostalgis. Dulu tempat ini selalu ramai dengan kapal dan pekerja. Sekarang suasananya jauh lebih sepi, seperti sedang menghitung hari menuju penutupan," ujarnya.

Kawasan Baru Bernilai Sejarah

Lahan seluas sekitar 86 hektare, hampir setara dengan luas Jurong Lake Gardens, akan diubah menjadi kawasan mixed-use waterfront yang menggabungkan hunian, pusat kuliner, area komersial, ruang publik, hingga fasilitas rekreasi.

Rencana tersebut diumumkan Perdana Menteri Lawrence Wong dalam National Day Rally 2025.

Pemerintah Singapura menegaskan sejumlah bangunan bersejarah tetap akan dipertahankan, termasuk King George VI Dock, yang pernah menjadi dry dock terbesar di dunia ketika selesai dibangun.

Berbagai konsep tengah dipertimbangkan, mulai dari ruang konser terbuka, arena olahraga, pusat seni pertunjukan, hingga kawasan publik yang tetap menampilkan identitas maritim Sembawang.

Dibangun Inggris Sejak 1938

Sejarah Sembawang Shipyard dimulai pada 1938, ketika Inggris membangun pangkalan angkatan laut terbesar di kawasan Asia untuk melayani kapal perang Kerajaan Inggris.

Selama Perang Dunia II, kawasan tersebut dikuasai Jepang sebelum kembali ke tangan Inggris pada 1945.

Pada 1968, Inggris menyerahkan pangkalan tersebut kepada Pemerintah Singapura hanya dengan nilai simbolis 1 dolar Singapura.

Tiga tahun kemudian, fasilitas itu resmi beroperasi sebagai Sembawang Shipyard, menandai transformasi dari pangkalan militer menjadi galangan kapal komersial.

Selama puluhan tahun berikutnya, galangan kapal tersebut berkembang menjadi salah satu pusat reparasi kapal terbesar di kawasan.

Berkembang dari Perbaikan Kapal hingga Industri LNG

Awalnya, Sembawang Shipyard hanya menangani perbaikan kapal tanker, kapal curah, dan kapal kontainer.

Namun seiring meningkatnya kemampuan teknologi, Seatrium mulai mengembangkan layanan bernilai tinggi seperti konversi kapal LNG menjadi Floating Storage Regasification Unit (FSRU), pembangunan fasilitas Floating LNG (FLNG), hingga renovasi dan perpanjangan usia kapal pesiar.

Menurut Wang, keberhasilan tersebut bukan terjadi secara kebetulan.

Perusahaan secara aktif membangun fasilitas dan menjalin hubungan jangka panjang dengan pelanggan untuk menarik proyek-proyek strategis dari berbagai negara.

Warisan yang Ingin Tetap Hidup

Bagi para pekerja, yang paling penting bukan sekadar mempertahankan bangunan tua, tetapi menjaga cerita di baliknya.

Asisten Vice President Operations Seatrium, Choo Xin Jian, berharap mesin-mesin berusia hampir satu abad yang masih digunakan hingga kini tetap dipertahankan sebagai bagian dari sejarah.

Beberapa crane di kawasan itu bahkan telah beroperasi sejak 1934 dan masih digunakan untuk mengangkat komponen kapal berukuran besar.

Menurut Choo, setelah Inggris meninggalkan Singapura, para pekerja lokal harus mempelajari sendiri cara mengoperasikan mesin-mesin tersebut karena tidak ada buku panduan maupun manual yang ditinggalkan.

Hingga kini, banyak peralatan lama tetap digunakan karena masih memenuhi standar operasional dan dinilai lebih efisien dibanding menggantinya dengan mesin baru.

"Ketika seseorang sudah memiliki ikatan dengan sebuah mesin, ia akan berusaha menjaganya tetap berfungsi. Di situlah kebanggaan itu lahir," katanya.

Operasi Dipindahkan ke Tuas

Sementara proses penutupan berlangsung, seluruh proyek dan tenaga kerja secara bertahap dipindahkan menuju Tuas Boulevard Shipyard, galangan kapal terpadu milik Seatrium di bagian barat daya Singapura.

Fasilitas baru tersebut memiliki luas hampir tiga kali lipat dibanding kawasan Sembawang sehingga akan menjadi pusat utama aktivitas perusahaan di masa depan.

Meski demikian, bagi banyak pekerja yang menghabiskan puluhan tahun kariernya di Admiralty Yard, perpindahan tersebut tetap menghadirkan rasa kehilangan.

Bagi Wang Huiping, harapannya sederhana.

Ia berharap generasi mendatang yang akan tinggal atau berkunjung ke kawasan waterfront baru itu tetap mengetahui bahwa lokasi tersebut bukan sekadar sebidang tanah yang dibangun ulang, melainkan salah satu saksi perjalanan Singapura menjadi kekuatan maritim dunia. (*)

Editor : Putut Ariyo
Sembawang Shipyard Seatrium Waterfront Sejarah Maritim singapura