batampos – Hilirisasi timah Indonesia mulai diarahkan ke produk industri dengan nilai tambah lebih tinggi. PT Solder Tin Andalan Indonesia (STANIA), anak usaha PT Arsari Tambang, menggandeng Singapore Asahi Chemical & Solder Industries Pte. Ltd. atau Asahi Solder untuk mengembangkan produk solder dan material yang digunakan dalam industri elektronik.
Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) di pabrik STANIA, Batam, Jumat (11/9). Kemitraan mencakup pengembangan produk solder, teknologi, peningkatan kualitas, hingga perluasan pasar.
Kolaborasi ini menjadi bagian dari upaya memperkuat rantai hilirisasi timah di dalam negeri. Timah tidak hanya diposisikan sebagai komoditas, tetapi diolah menjadi material bernilai tambah yang dapat masuk ke rantai pasok manufaktur elektronik.
Direktur Utama PT Arsari Tambang sekaligus Wakil Presiden Direktur Arsari Group Aryo P. S. Djojohadikusumo mengatakan kerja sama STANIA dan Asahi Solder tidak semata-mata ditujukan untuk memperbesar bisnis solder.
Menurut dia, STANIA merupakan bagian dari ekosistem industri Arsari Group yang diarahkan untuk menghubungkan sumber daya alam dengan manufaktur dan teknologi.
“Kerja sama hari ini bukan hanya tentang pengembangan produk solder, tetapi merupakan bagian dari upaya membangun rantai nilai yang menghubungkan sumber daya alam, material bernilai tambah, manufaktur, hingga teknologi masa depan,” kata Aryo.
STANIA Kembangkan Produk Solder Bernilai Tambah
STANIA menjadi bagian dari ekosistem hilirisasi timah PT Arsari Tambang. Pabrik perusahaan di Batam diresmikan pada Juli 2025 dengan kapasitas awal mencapai 2.000 ton per tahun.
Saat ini, STANIA memproduksi solder bar dan mulai mengembangkan produk dengan nilai tambah yang lebih tinggi. Melalui kemitraan dengan Asahi Solder, perusahaan akan mengeksplorasi pengembangan berbagai produk solder, termasuk solder paste yang banyak digunakan dalam proses perakitan komponen elektronik.
Asahi Solder merupakan perusahaan asal Singapura yang bergerak di bidang soldering dan material electronic interconnect. Produk perusahaan digunakan untuk berbagai kebutuhan industri elektronik.
Managing Director Singapore Asahi Chemical & Solder Industries Pte. Ltd. Vincent Kho mengatakan kerja sama tersebut mempertemukan kemampuan manufaktur STANIA di Indonesia dengan pengalaman Asahi dalam pengembangan produk solder dan material interkoneksi elektronik.
“Indonesia memiliki potensi yang besar untuk mengembangkan industri hilir timah,” kata Vincent.
Ia menilai kombinasi kemampuan produksi di Indonesia dengan teknologi dan pengalaman Asahi dapat membuka peluang pengembangan produk bernilai tambah. Kolaborasi tersebut sekaligus berpotensi memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok industri elektronik global.
Timah hingga Ekosistem AI
Bagi Arsari Group, pengembangan industri solder memiliki keterkaitan dengan rencana membangun ekosistem teknologi di Indonesia.
Grup tersebut tengah mengembangkan RAIA Grid yang mencakup konektivitas, jaringan fiber, pusat data, cloud, high-performance computing (HPC), hingga kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Arsari Group juga menyiapkan kemampuan perakitan graphics processing unit (GPU) di Indonesia. Menurut Aryo, pengembangan teknologi tersebut membutuhkan dukungan rantai pasok industri yang kuat, termasuk ketersediaan material dan kemampuan manufaktur di dalam negeri.
“Kami ingin melihat timah Indonesia terus bergerak naik dalam rantai nilai—dari komoditas menjadi material bernilai tambah, kemudian terhubung dengan industri electronic manufacturing dan pada akhirnya mendukung ekosistem teknologi dan AI yang sedang dibangun di Indonesia,” ujarnya.
Dengan konsep tersebut, pengembangan industri solder tidak hanya ditempatkan sebagai bisnis pengolahan timah, tetapi sebagai salah satu mata rantai yang dapat menghubungkan sektor pertambangan dengan manufaktur elektronik dan industri teknologi.
Hilirisasi Timah Didorong Lebih Berkelanjutan
STANIA juga mengarahkan pengembangan fasilitas produksinya di Batam pada aspek keberlanjutan. Hilirisasi tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan nilai ekonomi timah, tetapi juga memperhatikan efisiensi energi, pengurangan emisi, dan aspek lingkungan.
Bagi Arsari Group, hilirisasi industri timah perlu berjalan beriringan dengan inovasi dan prinsip keberlanjutan. Dengan pendekatan tersebut, timah diharapkan tidak berhenti sebagai komoditas yang ditambang dan diperdagangkan, tetapi diproses lebih jauh di dalam negeri.
Kemitraan STANIA dan Asahi Solder menjadi salah satu langkah untuk memperpanjang rantai nilai tersebut, mulai dari timah menjadi material solder, masuk ke manufaktur elektronik, hingga membuka peluang dukungan terhadap pengembangan industri teknologi dan AI di Indonesia. (*)
Editor : Putut Ariyo