Rupiah Bertanda Tangan Perry Warjiyo dan Purbaya Masih Dicetak, Ini Penjelasan BI

jpg • Dipublikasikan Kamis, 24 September 2026 | 21:56 WIB
Uang dengan tandatangan Purbaya
Uang dengan tandatangan Purbaya

batampos - Bank Indonesia (BI) memastikan pencetakan uang Rupiah dengan tanda tangan Gubernur BI periode sebelumnya Perry Warjiyo dan Menteri Keuangan periode sebelumnya Purbaya Yudhi Sadewa masih dilakukan.

Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan, pencetakan uang kartal dengan tanda tangan pejabat sebelumnya merupakan bagian dari proses rutin pengadaan dan pencetakan uang yang dilakukan bank sentral.

Menurutnya, pencetakan uang tidak dilakukan sekaligus pada awal atau akhir tahun. Proses tersebut berlangsung secara bertahap sesuai dengan kebutuhan uang kartal di masyarakat.

"Hari ini, kalau enggak salah, hari ini terbit yang seri baru, tanda tangan dari Pak Menteri Keuangan yang lama dan Bapak Gubernur juga yang sebelumnya. Jadi hari ini keluar, hari ini atau beberapa hari yang lalu, tapi itu sudah ada," ujar Destry dalam konferensi pers di Kantor BI, Jakarta, Kamis (24/9/2026).

Destry menegaskan, penerbitan uang dengan tanda tangan pejabat sebelumnya tidak berkaitan dengan pergantian pimpinan di BI maupun pemerintah.

"Ya, jadi itu hal yang biasa. Sebenarnya bukan cetak uang ya, memang itu tugas kami, kan harus selalu tiap tahun itu ada masanya. Jadi nyetak tuh enggak langsung jebret gitu di awal tahun atau di akhir tahun, enggak, tapi ada tahapan-tahapannya," katanya.

Pencetakan Uang Disesuaikan Kebutuhan Masyarakat

Destry menjelaskan, kebutuhan terhadap uang kartal masih tetap ada meskipun penggunaan transaksi digital terus berkembang.

Uang tunai masih dibutuhkan terutama oleh masyarakat di wilayah yang akses terhadap layanan dan infrastruktur transaksi digitalnya belum sepenuhnya merata.

Karena itu, BI secara berkala menghitung kebutuhan uang kartal untuk memastikan ketersediaan uang Rupiah di masyarakat tetap mencukupi.

Sebelum menentukan jumlah uang yang akan dicetak, BI juga berkoordinasi dengan pemerintah untuk memperkirakan kebutuhan uang beredar dalam periode tertentu.

Pembahasan tersebut mencakup target jumlah uang beredar yang ditetapkan BI, rencana penerbitan surat utang pemerintah, hingga kebutuhan uang kartal dalam bentuk uang kertas dan uang logam.

“Misalnya biasanya pertemuan tuh akan di akhir tahun gitu ya, akhir tahun, oke BI punya target money supply seperti ini, pemerintah punya target issue bond seperti apa, nah itu kemudian kita diskusikan, termasuk di situ adalah berapa banyak BI berencana untuk mengeluarkan uang kartal ya, atau mencetak uang kertas dan uang logam gitu,” ungkapnya.


Mengapa Uang Lama Masih Dicetak?

Pencetakan uang dengan tanda tangan pejabat sebelumnya pada dasarnya mengikuti tahapan produksi yang telah ditetapkan BI. Pergantian pejabat tidak serta-merta membuat seluruh proses pencetakan uang yang sedang berjalan harus dihentikan.

Dengan mekanisme tersebut, uang Rupiah yang diterbitkan dapat memiliki tanda tangan pejabat yang berbeda sesuai periode penerbitan dan tahapan produksinya.

Destry kembali menegaskan bahwa kondisi tersebut merupakan bagian dari mekanisme rutin pengelolaan uang Rupiah.

"Jadi, itu bukan hal yang luar biasa, tapi itu hal yang rutin biasa," pungkasnya. (*)

Editor : Putut Ariyo
Purbaya Yudhi Sadewa Perry Warjiyo Uang Kartal bank indonesia rupiah