batampos - Investasi pusat data atau data center menjadi salah satu sektor yang berkembang pesat di Batam. Badan Pengusahaan (BP) Batam mencatat 16 proyek data center masuk dalam pipeline investasi dengan total potensi investasi sekitar Rp500 triliun dalam hampir tiga tahun terakhir.
Dari 16 proyek tersebut, dua di antaranya telah beroperasi, yakni DayOne dan Golden Digital Gateway. Lima proyek masih dalam tahap konstruksi, tiga proyek berada pada tahap persiapan konstruksi, sementara enam lainnya masih dalam proses negosiasi.
Anggota/Deputi Bidang Investasi BP Batam Fary Djemy Francis mengatakan investasi data center menjadi salah satu sektor yang mengalami perkembangan pesat dalam beberapa tahun terakhir.
“Sekarang yang sedang booming di BP Batam ini berkaitan dengan investasi data center,” kata Fary saat menghadiri The Premier Manufacturing Expo in Batam, Selasa (29/9).
Menurut Fary, besarnya potensi investasi menunjukkan tingginya minat investor menjadikan Batam sebagai lokasi pengembangan pusat data. Namun, pertumbuhan tersebut tidak cukup hanya ditopang pembangunan fasilitas data center.
BP Batam juga mendorong tumbuhnya industri pendukung agar ekosistem pusat data di Batam ikut berkembang.
“Dan tentu kita tidak hanya berharap bahwa data center itu berdiri sendiri, nanti akan diikuti dengan industri pendukung data center,” ujarnya.
Proyek Data Center Bernilai Triliunan
Berdasarkan data BP Batam, sejumlah proyek yang masuk dalam pipeline memiliki nilai investasi besar.
DayOne menjadi salah satu proyek dengan nilai investasi terbesar, yakni sekitar USD12 miliar atau setara Rp216 triliun. Proyek ini dikembangkan di kawasan Industri Kabil dan Nongsa Digital Park (NDP).
Kemudian PT Equator Gate System Batam (EGSB) dengan rencana investasi sekitar USD5 miliar atau Rp88 triliun di kawasan Nongsa.
Altiva DC di kawasan Nongsa memiliki nilai investasi sekitar USD3 miliar atau Rp54 triliun. Sementara BW Digital di Nongsa Digital Park tercatat memiliki nilai investasi sekitar USD1,5 miliar atau Rp27 triliun.
NeutraDC Nxera Batam di kawasan Industri Kabil memiliki nilai investasi sekitar USD400 juta atau Rp7,2 triliun. Adapun Golden Digital Gateway di Nongsa Digital Park tercatat sekitar USD50 juta atau Rp900 miliar.
Selain proyek tersebut, pipeline BP Batam juga mencakup Princeton Digital Group (PDG), Pusat Data Nasional, Racks Central RCB1, Octagon DC, Infinity Links DC, Sembcorp DC, Data Center City, Farmsent, dan Global Data Center.
Data Center Dorong Kebutuhan Energi
Perkembangan investasi pusat data di Batam juga ditandai dengan masuknya proyek infrastruktur kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) berskala besar.
Firmus Technologies, perusahaan infrastruktur AI asal Australia yang didukung Nvidia, menggandeng DayOne untuk mengembangkan kampus Nvidia DSX AI Factory di Batam dengan kapasitas 360 megawatt (MW).
Proyek tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal I 2027 dan diproyeksikan menyediakan hingga 170.000 chip akselerator AI Nvidia secara bertahap pada 2027–2028.
Untuk mendukung pengembangan pusat data DayOne di Kabil Industrial Tech Park (KITP), PLN Batam dan DayOne sebelumnya menandatangani perjanjian jual beli tenaga listrik dengan kapasitas 511 MVA atau setara sekitar 450 MW.
Pasokan listrik tersebut akan diberikan secara bertahap pada 2026–2027.
Besarnya kebutuhan energi menunjukkan bahwa pertumbuhan data center tidak hanya membutuhkan lahan dan investasi. Infrastruktur listrik, air, jaringan telekomunikasi, serta utilitas pendukung lainnya juga menjadi bagian penting dalam pengembangan ekosistem pusat data.
Berdasarkan pemetaan BP Batam, kebutuhan daya untuk data center yang sudah beroperasi, memiliki komitmen investasi, maupun masih dalam tahap rencana mencapai sekitar 1,47 gigawatt (GW) IT. (*)
Fary mengatakan listrik dan air menjadi dua utilitas penting yang harus disiapkan agar pertumbuhan investasi data center tidak lebih cepat daripada kesiapan infrastruktur di Batam.
“Termasuk dalam kebutuhan juga tentang listrik dan air dengan segala teknologinya, sangat butuh untuk kita bisa mempercepat investasi di Batam,” katanya.
Karena itu, BP Batam terus membahas kebutuhan infrastruktur tersebut bersama para pemangku kepentingan. Langkah ini diperlukan agar ekspansi industri pusat data berjalan seiring dengan kesiapan utilitas.
Sebelumnya, Fary juga menekankan pentingnya kesiapan energi sebelum investasi baru masuk. BP Batam mendorong pembangunan infrastruktur utilitas dilakukan lebih dahulu sehingga kebutuhan listrik industri pusat data dapat dipenuhi secara andal.
“Jangan sampai investasi datang lebih cepat daripada kesiapan listrik. Infrastruktur harus mendahului pertumbuhan, bukan tertinggal di belakangnya,” katanya. (*)
Editor : Putut Ariyo