batampos - Indonesia kini menguasai sekitar 41 persen pasar nikel dunia. Besarnya pangsa tersebut menjadi modal penting bagi Indonesia untuk memperkuat posisi dalam rantai pasok nikel global.
Namun, penguasaan pasar tersebut dinilai belum cukup. Indonesia perlu memperkuat penguasaan teknologi, memperluas pasar, menjaga stabilitas harga, serta memastikan nilai tambah komoditas nikel lebih banyak dinikmati di dalam negeri.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, mengatakan pemerintah perlu menjaga konsistensi kebijakan hilirisasi nikel. Menurut dia, larangan ekspor bijih nikel telah mendorong investasi smelter sekaligus meningkatkan nilai tambah di dalam negeri.
”Indonesia juga telah berubah dari pengekspor bijih menjadi pusat produksi olahan,” kata Yusuf saat dihubungi, Senin (28/9).
Menurut Yusuf, keberhasilan kebijakan hilirisasi nikel yang ditangani pemerintah membuat posisi tawar Indonesia semakin kuat di pasar global. Karena itu, penataan produksi melalui Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) dinilai penting untuk menjaga keseimbangan antara pasokan dan permintaan.
Pengendalian produksi dapat membantu menjaga harga nikel tetap stabil. Namun, penetapan kuota produksi juga perlu mempertimbangkan kebutuhan bahan baku industri pengolahan di dalam negeri.
”Pengurangan volume dapat meningkatkan penerimaan negara jika mampu mengangkat harga, tetapi kuota tidak boleh terlalu ketat hingga smelter kekurangan bahan baku,” imbuhnya.
Hilirisasi nikel sejauh ini memberikan sejumlah dampak ekonomi, antara lain peningkatan investasi, ekspor, penerimaan negara, serta penciptaan lapangan kerja di kawasan industri.
Yusuf menilai capaian tersebut masih dapat diperkuat melalui pengendalian produksi yang tepat, insentif fiskal yang terarah, serta peningkatan standar lingkungan dan ketenagakerjaan.
”Pangsa 41 persen merupakan modal tawar yang besar, tetapi baru menjadi kekuatan ekonomi jika Indonesia menguasai teknologi, memperluas pembeli, menjaga harga, dan mempertahankan lebih banyak nilai tambah di dalam negeri,” jelasnya.
Produksi Nikel Olahan Melonjak
Analis Senior Indonesia Strategic and Economics Action Institution, Ronny P. Sasmita, mengatakan industri nikel Indonesia mengalami perkembangan signifikan dalam satu dekade terakhir.
Berdasarkan data Our World in Data yang bersumber dari British Geological Survey, produksi nikel olahan Indonesia melonjak lebih dari 60 kali lipat, dari sekitar 22 ribu ton pada 2014 menjadi lebih dari 1,4 juta ton pada 2023.
”Jadi, kalau parameternya adalah kemampuan mengubah bijih menjadi produk olahan di dalam negeri, hilirisasi jelas menghasilkan transformasi struktural,” ujar Ronny.
Ronny juga menyoroti besarnya dampak ekonomi dari kebijakan hilirisasi. Pada semester I 2026, investasi hilirisasi tercatat mencapai Rp300,1 triliun atau sekitar 29,7 persen dari total investasi nasional.
Sementara itu, sepanjang 2025, investasi hilirisasi mencapai Rp584,1 triliun.
“Masuknya investasi tersebut menciptakan efek berganda berupa pembangunan kapasitas industri, penciptaan lapangan pekerjaan, peningkatan nilai ekspor, serta semakin dalamnya basis manufaktur nasional,” pungkasnya. (*)
Editor : Putut Ariyo