Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Ateng Hartono mengatakan, surplus neraca perdagangan pada Agustus 2026 terutama ditopang oleh perdagangan komoditas nonminyak dan gas bumi (nonmigas).
"Pada kondisi Agustus tahun 2026 ini mengalami surplus sebesar USD3,55 miliar," ujar Ateng dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (1/10).
Ateng menjelaskan, surplus kumulatif Januari-Agustus 2026 ditopang kinerja perdagangan nonmigas yang mencatat surplus USD28,54 miliar. Sementara itu, perdagangan komoditas minyak dan gas bumi (migas) masih mengalami defisit sebesar USD21,29 miliar.
"Adapun untuk komoditas penyumbang surplus pada nonmigas ini terutama dari lemak dan minyak hewani atau nabati di HS 15, kemudian bahan bakar mineral di HS 27, dan juga besi dan baja di HS 72," ujarnya.
Dari sisi ekspor, nilai ekspor kumulatif Januari-Agustus 2026 mencapai USD193,64 miliar, atau meningkat 4,74 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut terutama didorong ekspor nonmigas yang naik 5,48 persen menjadi USD185,63 miliar.
Berdasarkan sektor, industri pengolahan mencatat nilai ekspor terbesar, yakni USD159,55 miliar atau meningkat 7,87 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Tiga negara tujuan utama ekspor nonmigas Indonesia sepanjang Januari-Agustus 2026 adalah Tiongkok dengan nilai USD47,44 miliar atau 25,55 persen, Amerika Serikat USD22,41 miliar atau 12,07 persen, dan India USD12,77 miliar atau 6,88 persen.
Sementara itu, nilai impor kumulatif Januari-Agustus 2026 mencapai USD186,39 miliar, meningkat 19,84 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kenaikan tersebut berasal dari impor nonmigas yang tumbuh 16,83 persen menjadi USD157,09 miliar dan impor migas yang meningkat 39,03 persen menjadi USD29,30 miliar.
Berdasarkan penggunaan, impor bahan baku/penolong menjadi komponen terbesar dengan nilai USD133,38 miliar atau naik 20,67 persen. Selanjutnya, impor barang modal mencapai USD36,75 miliar, meningkat 18,82 persen, sedangkan impor barang konsumsi tercatat USD16,27 miliar atau naik 15,48 persen.
Tiongkok masih menjadi negara asal utama impor nonmigas Indonesia sepanjang Januari-Agustus 2026 dengan nilai USD66,64 miliar atau 42,42 persen.
Posisi berikutnya ditempati Jepang dengan nilai USD8,88 miliar atau 5,65 persen dan Australia sebesar USD7,31 miliar atau 4,65 persen.
Adapun surplus perdagangan nonmigas sepanjang Januari-Agustus 2026 terutama berasal dari sejumlah komoditas utama, yakni lemak dan minyak hewani/nabati sebesar USD24,91 miliar, bahan bakar mineral USD18,84 miliar, besi dan baja USD12,10 miliar, nikel dan barang daripadanya USD8,38 miliar, serta alas kaki USD4,33 miliar.(*)
Editor : Cipi Ckandina