Harga Minyak Dunia Turun, Brent ke USD 105 per Barel di Tengah Konflik Global

jpg • Dipublikasikan Kamis, 15 Oktober 2026 | 09:36 WIB
Ilustrasi kapal tanker melintas di Selat Hormuz (Ist)
Ilustrasi kapal tanker melintas di Selat Hormuz (Ist)

batampos - Harga minyak mentah dunia kompak melemah pada perdagangan Kamis (15/10) pagi, meski konflik di Rusia dan Timur Tengah terus mengancam pasokan energi global. Pelemahan terjadi pada minyak mentah Brent maupun West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat.

Mengutip data Investing pada pukul 07.45 WIB, harga minyak Brent turun 0,77 dolar AS atau 0,73 persen menjadi 105,27 dolar AS per barel. Pada perdagangan sebelumnya, harga Brent tercatat 106,50 dolar AS per barel.

Sementara itu, minyak mentah WTI melemah 0,63 dolar AS atau 0,66 persen ke level 94,46 dolar AS per barel. Angka tersebut turun dari 94,87 dolar AS per barel pada perdagangan sebelumnya.

Pelemahan harga minyak terjadi di tengah meningkatnya risiko gangguan pasokan akibat konflik geopolitik. Sejumlah insiden di jalur pelayaran strategis dan fasilitas energi turut menjadi perhatian pasar.

Selat Hormuz dan Serangan di Timur Tengah Jadi Sorotan

Mengutip Bloomberg, sebuah kapal kargo tenggelam setelah terkena proyektil yang belum diketahui saat melintasi Selat Hormuz. Pada saat yang sama, kelompok Houthi yang didukung Iran terus melancarkan serangan rudal dan drone ke sejumlah wilayah di Arab Saudi.

Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis bagi perdagangan minyak dunia. Gangguan keamanan di kawasan tersebut berpotensi memengaruhi pengiriman energi dan meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap ketersediaan pasokan.

Di Eropa Timur, Rusia menuduh Ukraina menyerang dua kilang minyak pada Rabu (14/10). Moskow menyebut serangan tersebut melanggar gencatan senjata energi yang diusung Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Perkembangan konflik tersebut membuat pasar minyak menghadapi ketidakpastian. Meski harga melemah pada perdagangan Kamis pagi, risiko gangguan pasokan masih menjadi faktor yang diperhatikan pelaku pasar.

Stok Minyak Global Menyusut

Tekanan pasokan juga tercermin dari penurunan persediaan minyak global selama konflik berlangsung. Menurut Badan Energi Internasional (IEA), persediaan minyak global yang terpantau telah berkurang sekitar 509 juta barel dibandingkan level sebelum konflik.

IEA juga memperingatkan bahwa persediaan minyak di darat mendekati level terendah dalam setidaknya satu dekade. Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap ketersediaan bahan bakar, terutama solar dan produk minyak lainnya.

Lembaga tersebut memperkirakan pasokan solar dan bahan bakar lain masih akan berada di bawah tekanan pada tahun depan.

Kepala Global Strategi Komoditas TD Securities, Bart Melek, memperingatkan bahwa serangan baru terhadap infrastruktur minyak di Timur Tengah dapat memperburuk kondisi pasar yang sudah ketat.

“Jika serangan baru terhadap infrastruktur minyak di Timur Tengah semakin mengganggu pasokan minyak di tengah pasar fisik yang sudah sangat ketat, biaya energi dan inflasi akan meningkat lebih tinggi,” ujar Melek.

Kenaikan biaya energi dapat merembet ke sektor lain melalui ongkos transportasi dan produksi. Dampaknya berpotensi menambah tekanan inflasi apabila gangguan pasokan berlangsung dalam waktu lama.

Persediaan Minyak Mentah AS Turun

Di Amerika Serikat, American Petroleum Institute (API) melaporkan persediaan minyak mentah nasional turun 11,1 juta barel pada pekan lalu. Angka tersebut berdasarkan dokumen yang dilihat Bloomberg.

Penurunan persediaan AS menjadi salah satu indikator yang diperhatikan pasar dalam menilai keseimbangan pasokan dan permintaan minyak.

Dengan konflik geopolitik yang masih berlangsung dan stok global yang menyusut, pergerakan harga minyak selanjutnya akan bergantung pada perkembangan keamanan jalur pelayaran, kondisi fasilitas energi, serta data persediaan minyak. (*)

Editor : Putut Ariyo
Minyak Brent Minyak WTI Pasokan Minyak selat hormuz harga minyak dunia