batampos – Kasus dugaan penggelapan dana umrah yang melibatkan Hanania Group PT Khazanah Tamma Internasional terus menjadi perhatian publik. Kerugian yang dialami para jemaah diperkirakan mencapai Rp100 miliar.
Sejumlah korban mengaku tidak pernah menaruh kecurigaan terhadap perusahaan tersebut karena citra dan reputasi yang dibangun selama ini dinilai sangat meyakinkan. Selain memiliki izin resmi, Hanania Travel juga dikenal luas melalui promosi yang melibatkan artis dan selebgram, serta pernah meraih penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI).
Salah seorang korban, Anny Rofi, mengatakan keputusannya memilih Hanania Travel didasarkan pada rekam jejak perusahaan yang terlihat kredibel. Menurutnya, status akreditasi yang dimiliki menjadi salah satu pertimbangan utama sebelum mendaftar paket umrah.
“Sebagai calon jemaah, kami melihat kredibilitas travel dari akreditasi yang diterbitkan pemerintah melalui penyelenggara perjalanan ibadah umrah. Hanania saat itu memiliki akreditasi B sehingga dianggap cukup terpercaya,” ujarnya dalam keterangan di Jakarta Selatan, Senin (1/6/2026).
Anny menjelaskan, selain memiliki akreditasi resmi, Hanania Travel juga aktif melakukan promosi di berbagai platform media sosial dengan menggandeng figur publik. Hal tersebut semakin meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap perusahaan tersebut.
Menurutnya, banyak calon jemaah merasa yakin karena melihat banyaknya testimoni keberangkatan serta rekam jejak perusahaan yang telah memberangkatkan ribuan peserta umrah. Bahkan, Hanania disebut pernah memperoleh penghargaan dari MURI yang semakin memperkuat citra positif perusahaan di mata masyarakat.
Kondisi itu membuat sebagian besar korban tidak melihat adanya tanda-tanda masalah yang dapat mengarah pada dugaan penipuan atau penggelapan dana.
Saat ini, para korban melalui tim kuasa hukum terus memperjuangkan hak mereka dan meminta aparat penegak hukum mengusut tuntas kasus tersebut. Mereka juga berharap dana yang telah disetorkan dapat dipertanggungjawabkan dan para jemaah memperoleh kejelasan terkait nasib keberangkatan maupun pengembalian dana.
Kasus ini menjadi pengingat bagi masyarakat untuk lebih cermat dalam memilih biro perjalanan umrah, tidak hanya berdasarkan popularitas, promosi figur publik, maupun penghargaan yang dimiliki, tetapi juga memperhatikan transparansi pengelolaan dana dan rekam jejak perusahaan secara menyeluruh. (*)
Editor : Jamil Qasim