batampos – Kebutuhan air bersih di Kota Batam terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk dan investasi yang berkembang pesat. Saat ini, jumlah pelanggan air telah mencapai sekitar 342 ribu sambungan, dengan penambahan rata-rata 12 ribu pelanggan baru setiap tahun.
Kondisi ini membuat pengelolaan air tidak bisa lagi bergantung pada satu solusi semata.
Deputi Bidang Pelayanan Umum BP Batam, Ariastuy Sirait, mengatakan kebutuhan air di Batam akan terus meningkat, sehingga diperlukan pendekatan yang lebih komprehensif dan berkelanjutan.
“Ke depan, kebutuhan air di Batam akan terus naik seiring pertumbuhan penduduk dan investasi. Karena itu, pendekatannya tidak bisa hanya satu solusi,” ujarnya, Rabu (8/4).
Menurut Ariastuy, pembangunan waduk baru tetap menjadi salah satu solusi utama. Namun, keterbatasan lahan di Batam menjadi tantangan tersendiri, di samping waktu pembangunan yang panjang dan biaya yang besar.
Karena itu, BP Batam mendorong strategi gabungan melalui beberapa pendekatan.
Pertama, optimalisasi waduk yang sudah ada, termasuk peningkatan kapasitas serta pengurangan kebocoran air.
Kedua, pembangunan waduk baru secara selektif di lokasi yang masih memungkinkan, seperti di wilayah Pulau Galang.
Ketiga, pemanfaatan sumber air alternatif melalui teknologi desalinasi air laut atau Sea Water Reverse Osmosis (SWRO), serta pengolahan air limbah domestik yang dikembalikan ke waduk.
Keempat, membuka peluang kerja sama dengan daerah lain seperti Bintan dan Lingga, sepanjang memungkinkan dari sisi teknis, ekonomi, dan regulasi.
Selain peningkatan kapasitas, tantangan lain juga datang dari kondisi daerah tangkapan air (DTA) yang berada di bawah pengelolaan SPAM BP Batam. Kawasan ini mencakup area hutan di sekitar waduk yang berfungsi sebagai penyangga ketersediaan air.
Pada awal 2026, cuaca panas ekstrem memicu kebakaran di sejumlah wilayah DTA. Hingga 30 Maret, tercatat sekitar 51 hektare area terdampak kebakaran yang tersebar di enam lokasi waduk.
Secara keseluruhan, terdapat sedikitnya 14 titik kebakaran, meliputi Pulau Rempang, kawasan Duriangkang dengan enam lokasi, Tembesi empat lokasi, serta Nongsa dan Sei Harapan.
Untuk mengatasi dampak tersebut, SPAM BP Batam menjalankan program rehabilitasi hutan dan reboisasi setiap tahun dengan melibatkan berbagai pihak, seperti BPDAS Sei Jang, PT ABHu, PT Ecogreen, PT TDK, serta organisasi non-pemerintah.
Tahun ini, rehabilitasi dilakukan di area seluas sekitar 15 hektare, terutama pada wilayah yang terdampak kebakaran.
Selain itu, reboisasi juga akan diperkuat melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), dengan sejumlah perusahaan mulai menjajaki keterlibatan dalam pemulihan kawasan tersebut.
Dengan langkah ini, BP Batam berharap ketersediaan air tetap terjaga di tengah peningkatan kebutuhan, sekaligus memastikan pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan di masa depan. (*)