Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

Travel Agent Wisata di Batam Kesulitan Jual Paket Wisata

Yashinta • Senin, 3 Juni 2024 | 09:28 WIB
Kawasan Nagoya Batam, saat malam hari, Sabtu (25/5). Kawasan ini seringkali menjadi tempat jujugan wisatawan baik domestik maupun mancanegara yang berkunjung ke Bata
Kawasan Nagoya Batam, saat malam hari, Sabtu (25/5). Kawasan ini seringkali menjadi tempat jujugan wisatawan baik domestik maupun mancanegara yang berkunjung ke Bata

batampos - Harga tiket kapal Feri Batam-Singapura yang mencapai hampir Rp800 ribu untuk pulang pergi ternyata tak hanya dikeluhkan masyarakat Batam, namun juga warga negara Singapura. Sebab kenaikan harga tiket itu hampir 3 kali lipat sebelum pandemi Covid-19 melanda. Bahkan untuk harga tiket Batam-Malaysia jauh lebih murah, meski dengan jarak tempuh 3 kali lebih jauh dibanding Batam-Singapura.

Adalah Suhriyah, 58, salah satu warga negara Singapura yang keheranan dengan tingginya harga tiket feri Singapura-Batam dibanding sebelum pandemi Covid-19. ”Kenapa mahal sangat sekarang tiket feri ke Batam,” katanya saat ditemui di Pelabuhan Feri Batam Center, beberapa waktu lalu.

Ini dibenarkan Ketua ASPABRI (Asosiasi Pariwisata Bahari Indonesia) Kepri, Surya Wijaya. Surya mengatakan, banyak dapat informasi terkait keluhan wisman (wisatawan mancanegara), terutama warga negara Singapura karena mahalnya harga tiket feri internasional. Padahal jika dibanding dengan maskapai di daerah lain untuk menuju luar negeri tak sampai Rp300 ribu untuk sekali penerbangan.

”Iya benar, karena harga tiket sudah tidak logis. Masa harga tiket feri Batam-Singapura atau sebaliknya, lebih mahal dari tiket pesawat PKU-KL hanya Rp300 ribu one way,” ungkapnya.
Menurut dia, pihak travel agent hanya mengikuti kebijakan sesuai aturan dari pemerintah. Termasuk harga tiket dan kebijakan lainnya, karena itu adalah domain pemerintah.

”Kami hanya mengikuti apa yang ditentukan pemerintah.Tugas travel agent adalah menjual, dan jika produk kami tidak layak dijual, jangan salahkan kami jual produk luar negeri,” sebutnya.
Dikatakan Surya, konsep sederhana menjual paket wisata sangat gampang. Jika harga tiket pesawat atau kapal lebih dari 25 persen dibanding harga paket, maka paket wisata mudah dijual. Namun jika melebihi itu, paket sulit dijual kecuali untuk paket khusus biasanya harga tidak menjadi masalah.

”Banyak contoh destinasi keren di Kepri, namun sulit dijual. Karena harga akomodasi tiketnya di atas 50 persen,” tegasnya.

”Kunjungan wisman yang saat ini, bisa dua kali lipat jika harga tiket ferinya masuk akal,” ungkap Surya.

Sementara, Kepala Dinas Pariwisata Kota Batam, Ardiwinata, mengatakan, jumlah wisman khusus Kota Batam terus mengalami kenaikan. Karena Kota Batam memiliki daya tarik berbeda dengan daerah lain di Kepri.

”Untuk wisata kuliner dan destinasi, Kota Batam sangat menarik. Buktinya, setiap tahun angka kunjungan terus meningkat,” ungkap Ardi.

Disinggung terkait harga tiket yang tak masuk akal, menurut Ardi, hal itu sudah pernah diusahakan oleh pemerintah. Namun dalam hal ini, ada beberapa sisi yang harus diperhatikan karena berkaitan dengan bisnis.

”Untuk harga tiket sudah pernah diusahakan, namun tenyata kenaikan harga tiket itu ada perhitungan bisnis. Dan hal ini yang harus diperhatikan dari dua sisi, karena menyangkut biaya operasional di dua negara,” ucap Ardi.

Menurut Ardi, saat ini yang dikeluhkan tak hanya harga tiket, namun juga permasalahan tarif Visa on Arrival (VoA). Terkait VoA, Ardi menga-takan bahwa Pemko Batam juga sudah menyurati Kemenkumham.

”Karena menurut Kementerian Pariwisata, regulasinya ada di Kemenkumham, dan ini yang sedang kami tunggu, suratnya sudah sampai, tinggal menunggu balasan,” jelasnya.

Terkait kunjungan wisatawan ke Batam, BPS Kota Batam mencatat hingga Maret 2024, total jumlah kunjungan wisatawan mencapai 296.259 kunjungan. Untuk Januari 2024, tercatat sebanyak 78.759 kunjungan, Februari 112.669 kunjungan, dan Maret 104.831 kunjungan.

Sepi, Hotel Melati Banting Harga

Sementara itu, pengunjung hotel melati di Kota Batam kini jauh menurun. Menyiasati hal itu, hotel kelas melati menawarkan tarif lebih murah 50 persen, khusus untuk pengunjung longstay atau menginap per bulan.

Biasanya, tarif hotel melati tersebut Rp120-140 ribu per malam. Sedangkan untuk longstay Rp70 ribu per malam atau Rp2,1 juta per bulannya.

”Sekarang kalau tamu (menginap) per hari jarang. Banyak yang longstay,” ujar Rani, resepsionis hotel melati di kawasan Pelita, Lubukbaja kepada Batam Pos, Minggu (2/6).

Ia menjelaskan penurunan tarif tersebut sengaja diberikan agar pengunjung hotel tetap ramai. Mayoritas, tamu hotel tersebut merupakan pekerja dari Malaysia dan wanita pros-titusi online.

”Banyak yang passing dari Malaysia juga nginap di sini. Ya daripada kamar kosong,” katanya.
Menurut dia, penurunan pengunjung disebabkan banyaknya hotel bertarif murah dengan kualitas lebih baik. ”Banyak hotel sekarang. Kalau per hari banyak di OYO itu orang,” ungkapnya.
Sedang Asnah, salah satu pengunjung hotel melati di kawasan Pelita mengaku sengaja memilih lokasi tersebut karena tarif yang murah. Untuk kamar yang dihuninya, Asnah mendapatkan fasilitas kasur, AC, toilet, dan lemari.

”Kan cuma passing ke Batam, nanti balek lagi ke Malaysia. Yang penting bisa tidur istirahat,” katanya.

Hal senada dikatakan Maya, penghuni hotel melati di kawasan Nagoya. Ia mengaku sudah setahun menginap di hotel tersebut untuk mencari tamu atau pria hidung belang.

”Dibandingkan kos, enakan di sini (hotel melati). Kedengeran sama tamu lebih elite aja,” akunya.
Pantauan Batam Pos, beberapa hotel melati di Nagoya juga memasang spanduk di depan hotel. Spanduk tersebut bertuliskan tarif menginap longstay lebih murah. (*)

Editor : Putut Ariyotejo
#wisata #batam