Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

Cegah Cerai Sejak Dini, Kemenag Batam Turun Tangan Edukasi Remaja soal Pernikahan

Rengga Yuliandra • Selasa, 13 Mei 2025 | 07:10 WIB
ilustrasi
ilustrasi

batampos – Angka perceraian yang terus naik setiap tahun bikin Kementerian Agama (Kemenag) Kota Batam makin serius ambil langkah. Bukan cuma menyasar pasangan suami istri dan calon pengantin, kini remaja sekolah pun mulai jadi target edukasi lewat program bimbingan pernikahan dini.

Kepala Kantor Kemenag Batam, Budi Dermawan, menjelaskan bahwa edukasi ke remaja ini bagian dari strategi jangka panjang membangun keluarga yang kuat. Edukasi langsung diberikan di sekolah, dan program ini jadi prioritas dalam pembinaan keluarga.

“Remaja itu calon pasangan masa depan. Kalau mereka nggak paham arti pernikahan, tanggung jawab, dan dinamika rumah tangga sejak awal, potensi konflik ke depan bisa besar,” ujar Budi, Senin (12/5).

Program ini dirancang untuk membentuk kesiapan mental, emosional, dan spiritual remaja sebelum mereka masuk ke jenjang pernikahan. Materinya beragam, mulai dari cara menyelesaikan konflik, komunikasi yang sehat dalam keluarga, hingga ajaran agama seputar pernikahan dan hak-hak pasangan.

Tak hanya untuk remaja, Kemenag juga rutin mengadakan bimbingan pranikah buat para calon pengantin di KUA tiap kecamatan. Ini jadi salah satu syarat wajib sebelum menikah.

“Untuk yang sudah menikah pun kami adakan bimbingan keluarga sakinah. Terakhir kami laksanakan saat Ramadan lalu, diikuti 10 pasangan,” tambahnya.

Langkah ini jadi respons atas tingginya angka perceraian di Batam. Data dari Pengadilan Agama Batam mencatat ada 690 kasus perceraian sejak Januari sampai April 2025.

Untuk membantu pasangan yang sedang menghadapi masalah rumah tangga, Kemenag mengandalkan peran Badan Penasihatan, Pembinaan, dan Pelestarian Perkawinan (BP4). Lembaga ini jadi tempat curhat, konsultasi, hingga mediasi agar perceraian bisa dihindari.

“Sampai 9 Mei 2025, BP4 sudah menangani 11 pasangan. Masalahnya macam-macam, mulai dari selingkuh, KDRT, sampai komunikasi yang nggak nyambung,” jelas Budi.

Dalam mediasi, pasangan dipanggil ke kantor Kemenag dan diberi pendampingan serta nasihat. Banyak dari mereka akhirnya menemukan solusi dan memilih tetap mempertahankan rumah tangga.

“Memang nggak semua selesai sekali duduk. Tapi selama kedua pihak mau berusaha, kami bantu cari solusi yang realistis biar masalah nggak terulang,” katanya.

Budi menegaskan, pembinaan keluarga bakal terus digencarkan sebagai upaya memperkuat struktur sosial. Menurutnya, keluarga harmonis dimulai dari edukasi yang tepat, bahkan sejak remaja.

“Ketahanan keluarga itu pondasi masyarakat. Kami nggak mau cuma menangani yang sudah bermasalah, tapi juga mencegah dari awal supaya generasi muda kita siap membina rumah tangga,” tutupnya.

Editor : Putut Ariyo
#nikah #kemenag