batampos- Meskipun menjamurnya menu khusus sarapan pagi, namun salah satu kuliner legendaris di Tanjungpinang yaitu lontong usus, tetap digemari.
Kuliner klasik lontong usus yang telah ada sejak 1975 di Tanjungpinang ini, tetap menjadi pilihan dan menu favorit masyarakat sebagai makanan pembuka pada pagi hari.
Lebih kurang lima dekade, kuliner khas berbahan lontong dan usus buatan tangan Nuraini (Almarhumah), kini masih eksis dan tetap menyimpan cita rasa dan cerita dari generasi ke generasi.
Aroma kuah santan yang gurih berpadu dengan wangi rempah, membuat siapa saja akan tergiur untuk merasakan lezatnya lontong usus.
Meski tampilannya sederhana, makanan pembuka pagi ini menyimpan sejuta rasa dan cita rasa yang tidak akan lekang oleh waktu.
Lontong usus pertama kali dipopulerkan oleh Almarhumah Nuraini sejak awal tahun 1975. Berawal dari dapur rumahnya, Almarhumah membawa dagangannya ke Pasar Baru Jalan Pelantar II Tanjungpinang.
Lambat laun, kelezatan dan cita rasa lontong usus buatan Almarhumah dikenal oleh masyarakat luas. Kini, usaha itu diteruskan oleh generasi kedua, yang tetap menjaga resep dan cara masak seperti aslinya.
"Awalnya, ibu kami berjualan lontong usus di Pasar Baru tahun 1975, kemudian pindah ke Jalan Pasar Ikan. Kini menetap di pertokoan depan SMA Negeri 2 Jalan Basuki Rahmat Tanjungpinang," kata Dewi, 50, anak dari Almarhumah Nuraini, Rabu (30/7).
Dewi menjelaskan, lontong usus bukan sekadar sarapan. Makanan ini terdiri dari potongan lontong yang disiram kuah kuning santan kental berisi nangka, kacang panjang dan buncis. Lengkap dengan usus sapi berisi telur yang dimasak empuk dan berempah bumbu.
Untuk menambah cita rasa, lontong usus dipadu dengan kerupuk merah atau jingga sebagai pelengkap, menjadikannya menu yang kaya rasa dan mengenyangkan.
"Kami juga menyediakan menu nasi dan lontong rendang, lontong ayam gulai kampung, lontong tunjang dan lontong telur," jelasnya.
Baca Juga: Gudang Logistik Segera Dibangun di FTZ Dompak, Tanjungpinang, Nilai Investasi Capai Rp10 Miliar
Saat ini, Dewi bersama suaminya Rizal, masih mengolah lontong usus memakai resep lama, bumbu dan rempah-rempah yang digiling sendiri. Usus direbus lama agar empuk dan bersih.
"Santannya juga dari kelapa parut, bukan santan instan,” ungkap Dewi.
Sejak tahun 1975 hingga kini, lontong usus tidak pernah sepi, terutama saat pagi menjelang. Para pelanggan datang dari berbagai penjuru kota, bahkan ada yang sengaja membawa pulang ke luar kota sebagai oleh-oleh.
"Alhamdulillah, banyak pelanggan tetap yang sudah menyantap lontong usus ini sejak kecil. Sekarang mereka mengajak anak dan cucu Sarapan di sini," ucap Dewi bersyukur. (*)
Editor : Tunggul Manurung