batampos - Belasan ekor monyet terlihat berkeliaran di area Komplek Rumah Dinas Polda Kepri, Jumat (12/9). Kehadiran satwa liar itu hampir setiap hari muncul untuk mencari makanan di tong sampah hingga pohon buah di sekitar perumahan.
Pantauan di lapangan, monyet-monyet tersebut melompat dari atap rumah ke rumah lain, bahkan berjalan di kabel listrik. Ada yang berukuran kecil hingga besar. Beberapa di antaranya nekat masuk ke pekarangan rumah hingga mengais sisa makanan di belakang rumah warga komplek.
Risa, salah seorang warga yang datang ke Polda Kepri mengaku kaget melihat banyaknya monyet yang berkeliaran. Meloncat dari satu atap ke atap lainnya, hingga berjalan di kabel listrik.
“Saya kaget, tiba-tiba ada monyet turun dari pohon ke halaman rumah polisi itu. Ada yang loncat ke atap dan buka tong sampah,” ujarnya.
Ternyata, fenomena ini hampir setiap hari terjadi. Terutama saat pagi hingga sore hari. Mereka datang bergerombol dalam jumlah belasan ekor.
Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Batam, BKSDA Riau, Tommy Sinambela, membenarkan adanya laporan masyarakat terkait kawanan monyet di sekitar Komplek Polda Kepri. Menurutnya, keberadaan satwa liar tersebut tidak lepas dari perubahan fungsi lahan di sekitar kawasan hutan.
“Kalau satwa masuk ke perumahan, itu karena habitatnya terganggu. Bisa saja ada aktivitas alat berat atau pembukaan lahan. Secara alami, monyet mencari sumber makanan baru,” jelas Tommy.
Ia mengatakan, BKSDA beberapa kali menurunkan tim untuk menangani konflik satwa liar di Batam. Sepanjang 2025, tercatat sudah dua kali tim diturunkan ke wilayah Mapolda. Penanganan dilakukan dengan pemasangan perangkap untuk kemudian melepasliarkan satwa ke kawasan konservasi di Muka Kuning.
“Kami pernah mengevakuasi emapt ekor dari Mapolda Kepri, karena ada laporan,” tegasnya.
Namun, kata Tommy, tidak semua monyet yang terlihat akan dievakuasi. Selama masih ada hutan di sekitar komplek, BKSDA memilih melakukan edukasi kepada masyarakat.
“Kalau habitatnya masih ada, kita tidak bisa langsung evakuasi. Prinsipnya hidup berdampingan. Yang penting jangan diberi makan dan sampah di sekitar rumah jangan dibiarkan terbuka,” terangnya.
Ia menambahkan, laporan serangan monyet kepada warga di Batam sepanjang 2025 belum ada. Satwa itu hanya masuk ke pemukiman untuk mencari makanan. Beberapa titik yang rawan konflik dengan monyet berada di Batam Center, Batuaji, dan Nongsa.
“Kami mengimbau masyarakat tidak memberi makan monyet. Kalau ada buah di pekarangan bisa jadi incaran. Sampah pun harus segera dibuang agar tidak memancing mereka,” kata Tommy.
BKSDA menekankan, konflik manusia dan satwa akan terus meningkat jika perubahan fungsi lahan terus terjadi.
“Kalau hutan di sekitar bandara atau komplek habis dibuka, ya kita angkat tangan. Habitat mereka hilang, otomatis satwa mencari ruang hidup baru ke permukiman,” tegasnya. (*)