batampos– Demam Berdarah Dengue (DBD) kembali menunjukkan tren peningkatan di Kota Batam. Data terbaru dari RSUD Embung Fatimah mencatat puluhan pasien tengah dirawat intensif akibat serangan penyakit yang dibawa nyamuk Aedes aegypti tersebut. Lonjakan kasus ini menjadi perhatian serius pihak rumah sakit maupun masyarakat.
Humas RSUD Embung Fatimah, Ellin Sumarni, mengungkapkan bahwa jumlah pasien DBD yang ditangani pihaknya terus bertambah sejak awal September 2025. Menurutnya, kondisi ini menandakan bahwa pola penularan masih cukup tinggi, terutama di wilayah padat penduduk.
“Kasus yang masuk cukup fluktuatif, tapi cenderung meningkat. Kami mencatat lebih dari 30 pasien DBD sedang dalam perawatan,” ujarnya, Senin (15/9).
Ellin menjelaskan bahwa pasien yang dirawat berasal dari berbagai usia, mulai anak-anak hingga dewasa. Namun, kelompok anak-anak mendominasi jumlah penderita. Kondisi ini sesuai dengan karakteristik DBD yang lebih rentan menyerang anak akibat daya tahan tubuh yang belum sekuat orang dewasa. “Mayoritas pasien adalah anak usia sekolah dasar,” tambahnya.
RSUD Embung Fatimah, sebagai salah satu rumah sakit rujukan pemerintah di Batam, telah menyiapkan ruang perawatan khusus untuk pasien DBD. Selain itu, tenaga medis juga terus ditingkatkan kewaspadaannya dalam mendeteksi gejala dini agar pasien tidak terlambat mendapatkan penanganan medis. “Kami juga mengimbau masyarakat segera membawa anggota keluarga ke rumah sakit bila mengalami demam tinggi disertai tanda-tanda khas DBD,” jelas Ellin.
Dari pengamatan pihak rumah sakit, pasien terbanyak berasal dari Kecamatan Sagulung, Batuaji, dan Sekupang. Ketiga wilayah tersebut dikenal cukup padat penduduk dan memiliki tingkat sanitasi lingkungan yang masih perlu ditingkatkan. “Distribusi pasien memang tidak merata, tapi dominasi dari wilayah hinterland sangat terlihat,” kata Ellin.
Untuk kasus yang dirujuk ke RSUD Embung Fatimah, sebagian pasien datang dalam kondisi ringan hingga sedang. Namun, tidak sedikit pula yang harus mendapatkan perawatan intensif di ruang isolasi. “Ada pasien yang sempat mengalami penurunan trombosit drastis sehingga harus mendapat transfusi darah,” ujarnya.
Sekilas, Dinas Kesehatan Kota Batam juga mencatat tren serupa. Dalam laporan mingguan, jumlah kasus DBD tahun ini meningkat dibanding periode yang sama tahun lalu. Meski demikian, Dinkes menilai situasi masih terkendali asalkan masyarakat tetap menjaga pola hidup bersih dan rutin melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN).
Ellin menekankan, peran serta masyarakat tetap menjadi kunci utama dalam menekan penyebaran DBD. “Rumah sakit hanya menerima dan merawat pasien. Pencegahan yang paling efektif ada di lingkungan masyarakat sendiri,” katanya. Ia juga mengingatkan kembali pentingnya gerakan 3M Plus: menguras, menutup, mengubur, dan menambahkan langkah pencegahan lain seperti menggunakan lotion anti nyamuk.
Dengan meningkatnya kasus DBD di Batam, pihak RSUD Embung Fatimah mengajak seluruh warga untuk tidak mengabaikan gejala awal, terutama pada anak-anak. Kewaspadaan dini diharapkan mampu menekan risiko fatal sekaligus mencegah terjadinya ledakan kasus lebih besar di kemudian hari. (*)
Editor : Tunggul Manurung