batampos— Penanganan korban tragedi ledakan kapal MT Federal II di galangan PT ASL Shipyard, Tanjunguncang, terus menjadi perhatian berbagai pihak. Hingga Kamis (16/10/2025), tercatat 19 korban masih dirawat di tiga rumah sakit berbeda di Kota Batam, yakni RS Mutiara Aini, RS Graha Hermine, dan RS Elisabeth. Para korban umumnya mengalami luka bakar dan trauma berat akibat ledakan yang mengguncang industri galangan kapal terbesar di Batam tersebut.
Di RS Mutiara Aini, terdapat 11 pasien yang masih menjalani perawatan, terdiri dari lima di ruang ICU dan enam rawat inap. Salah satunya, Edison Baktiar Napitupulu, mengalami luka bakar hingga 86 persen dan masih dalam kondisi kritis.
“Beberapa pasien sudah mulai stabil dan ada kemungkinan dua atau tiga hari ke depan bisa pulang, tapi yang luka berat masih kami pantau ketat,” ujar Lia, Humas RS Mutiara Aini.
Sementara itu, di RS Graha Hermine, sebanyak enam pasien juga masih dirawat, satu di antaranya di ICU. “Semua dalam kondisi stabil, lima pasien lainnya sudah mulai membaik,” kata Fitri, Humas RS Graha Hermine.
Salah satu korban, Dani Darusman, mengalami luka bakar 45 persen dan trauma inhalasi. Korban lain seperti Ceni Sihombing, Krisna Ramadan, dan Abdul Munir masih menjalani pemulihan di ruang rawat inap. Seorang korban, Alfito Dinova, dirujuk ke RS Awal Bros Botania untuk menjalani operasi bedah toraks dan plastik.
Di RS St. Elisabeth Sagulung, tiga korban dirawat, dua di antaranya telah menjalani operasi, yakni Fikri Krisnawan dengan luka bakar 30 persen dan Thomas Alfa Edisin Siburian akibat patah kaki kiri. Sementara Majrebel Siregar yang mengalami luka ringan sudah diperbolehkan pulang sehari setelah kejadian.
Kapolresta Barelang Kombes Pol. Zaenal Arifin memastikan bahwa situasi di rumah sakit tetap aman dan terkendali. “Polsek Batuaji terus berkoordinasi dan memantau kondisi pasien secara umum,” ujarnya.
Zaenal menegaskan, penyelidikan atas insiden ini masih berjalan dengan memeriksa sejumlah pihak terkait. “Sudah ada enam saksi dari pihak subkontraktor, mainkon, dan karyawan yang kami mintai keterangan. Rencananya akan ada tambahan saksi untuk memperjelas kronologi dan penyebab pasti insiden tersebut,” jelasnya.
Ia menambahkan, Labfor Mabes Polri telah diterjunkan untuk melakukan olah TKP lanjutan guna memastikan sumber api dan potensi kelalaian di lokasi kebakaran.
Kunjungan Wakil Gubernur Kepri Nyanyang Haris Pratamura dan Wali Kota Batam Amsakar Achmad ke RS Mutiara Aini menjadi bentuk dukungan moral bagi korban dan keluarga.
“Kami berdoa agar seluruh korban cepat pulih. Yang luka berat masih dirawat intensif, sementara yang ringan diharapkan segera bisa pulang,” ucap Haris. Usai menjenguk korban, Wagub langsung melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke lokasi kejadian di PT ASL Shipyard untuk meninjau penerapan standar keselamatan kerja.
Haris menegaskan bahwa pemerintah akan melakukan audit menyeluruh terhadap sistem keselamatan di PT ASL bersama Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker). “Kami sudah minta klarifikasi soal SOP dan sistem safety mereka. Meski diklaim sesuai standar, tetap saja kecelakaan terjadi. Kami akan audit ulang dan cari tahu penyebab pastinya,” tegasnya. Ia juga mengingatkan pentingnya disiplin dalam prosedur kerja berisiko tinggi, seperti pengelasan dan pembersihan tangki yang harus dipastikan bebas gas berbahaya sebelum dikerjakan.
Aktivitas di kawasan galangan kini berjalan terbatas. Kapal MT Federal II masih diberi garis polisi, sementara proyek lain tetap beroperasi dengan pengawasan ketat. Pemerintah memastikan akan terus memantau penanganan korban dan hak-hak pekerja, termasuk jaminan BPJS Ketenagakerjaan bagi korban luka maupun meninggal dunia. “Kami ingin kejadian ini menjadi pelajaran besar agar industri galangan memperketat keselamatan kerja,” ujar Haris.
Tragedi ini menjadi insiden kedua di PT ASL Shipyard dalam lima bulan terakhir, setelah peristiwa serupa yang menewaskan sejumlah pekerja pada pertengahan tahun. Pemerintah daerah menegaskan akan meningkatkan pengawasan menyeluruh terhadap semua galangan kapal di Batam, agar tragedi serupa tidak kembali terulang.
Polisi memastikan bahwa proses penanganan dan penyelidikan dilakukan secara transparan dan tuntas. Sementara masyarakat Batam berharap, insiden yang menelan korban jiwa ini menjadi momentum bagi semua pihak untuk lebih serius menegakkan budaya keselamatan kerja di industri galangan kapal yang menjadi tulang punggung ekonomi kota industri tersebut. (*)
Editor : Tunggul Manurung