Batampos - Perdana Menteri (PM) Singapura Lawrence Wong mengungkapkan komitmennya untuk memperkuat dan mempererat hubungan dengan Malaysia, negara yang dulu "Memaksa" Singapura memisahkan diri. Hubungan ini fokus kerjasama dalam berbagai isu strategis dua negara, seperti kualitas air Sungai Johor, batas maritim, hingga kerjasama ekonomi.
Hal ini diungkapkan saat PM Lawrence Wong bertemu dengan PM Malaysia Anwar Ibrahim dalam acara Singapore-Malaysia Leaders Retreat ke 12 memperingati 60 tahun hubungan bilateral kedua negara di The Ritz-Carlton Millenia, Singapura, Kamis (4/12/2025) malam.
Wong mengatakan, kedua negara patut berbangga atas pencapaian bersama selama 60 tahun hubungan diplomatik. "Kami mampu berdiskusi secara terbuka dan konstruktif, fokus pada apa yang bisa kami capai sebagai tetangga dekat dan sahabat baik," ujar Wong dalam channel WhatsAppnya.
PM Anwar menyebut kunjungannya ke Singapura yang singkat namun sangat substantif, dan menyoroti eratnya komunikasi antara kedua negara yang selalu memperbarui perkembangan isu dan memperhatikan kesejahteraan masyarakat.
Dalam pertemuan tersebut, Singapura dan Malaysia menandatangani dua nota kesepahaman terkait kerja sama kesehatan dan upaya memerangi perdagangan narkoba. Selain itu, kedua negara juga menandatangani perjanjian terkait proyek Johor–Singapore Rapid Transit System Link (RTS).
Malaysia juga secara resmi menyetujui usulan Singapura membuka konsulat di Sabah dan Sarawak, yang disambut baik oleh Wong.
Baca Juga: Blue Sky Rescue Malaysia Kirim Dua Ton Obat dan Alat Medis untuk Korban Banjir Aceh
Meski kerja sama menguat, Wong mengakui masih ada isu kompleks yang belum terselesaikan dengan Malaysia. Ini meliputi pengaturan ruang udara, kualitas air Sungai Johor, dan delimitasi batas maritim.
Dengan meningkatnya trafik udara di kawasan, kedua negara sepakat melakukan studi bersama untuk mengoptimalkan pengelolaan lalu lintas udara, yang disebut bukan persoalan kedaulatan.
Soal air Sungai Johor, Wong menyebut kedua negara memiliki kepentingan bersama untuk menjaga kualitas air dan meningkatkan kapasitas pasokan.
Terkait delimitasi maritim, beberapa putaran diskusi telah meningkatkan pemahaman kedua pihak, tetapi memerlukan waktu lebih panjang untuk mencapai kesepakatan. Anwar menyebut isu ini “lebih kompleks” namun tetap yakin penyelesaian bertahap dapat dicapai. " Semua isu bilateral ini memang tidak mudah. Tapi sebagai tetangga yang baik, kita akan terus berdialog dengan itikad baik," ujar Wong. (*)
Editor : Chahaya Simanjuntak