batampos – Aktivitas pemotongan bukit (cut and fill) di kawasan Kavling Sei Tering, Sengkuang, Batuampar, memicu protes warga setelah lumpur diduga mengalir hingga ke sekitar rumah mereka, Jumat (20/2). Perusahaan yang disebut-sebut bertanggung jawab, PT Jutam, mengakui adanya kegiatan tersebut.
Penanggung jawab saluran PT Jutam, Akbarsyah, membenarkan aktivitas cut and fill berlangsung di sekitar lokasi perumahan warga. Ia mengaku telah menerima keluhan dan menemui warga terdampak.
“Aktivitas itu kontraktor, tapi memang ada Jutam juga,” ujarnya, Minggu (22/2).
Saat ditanya soal tanggung jawab, Akbarsyah menegaskan baik pihak kontraktor maupun PT Jutam sama-sama bertanggung jawab atas dampak yang terjadi. “Dua-duanya yang bertanggung jawab,” katanya.
Warga sebelumnya mendesak adanya ganti rugi atas kerusakan perabot rumah tangga, pencemaran lingkungan, serta dampak lain akibat limpahan lumpur. Akbarsyah menyebut pihaknya sudah bertemu warga dan kini tengah menghitung total kerugian.
“Semalam sudah jumpa dengan warga, sekarang lagi meeting sama pimpinan. Lagi dihitung kerugian yang mau dibayar, tapi belum tahu totalnya,” ujarnya.
Ia mengakui jenis kerugian cukup beragam dan masih dalam pendataan. “Banyaklah, susah juga mau di-list-kan,” tambahnya.
Terkait legalitas kegiatan, Akbarsyah mengklaim perusahaan telah mengantongi izin lingkungan termasuk AMDAL. Ia menyebut izin kegiatan cut and fill diterbitkan oleh Badan Pengusahaan Batam.
Menurutnya, insiden limpahan lumpur terjadi di luar perkiraan setelah hujan deras mengguyur kawasan tersebut selama dua hari. Saluran air yang telah dibuat disebut sempat tersumbat hingga menyebabkan lumpur melimpah.
“Saluran sudah dibuat, tapi ternyata mampet dan akhirnya melimpah,” jelasnya.
Pihak perusahaan memastikan akan berkoordinasi dengan warga dan instansi terkait untuk menyelesaikan persoalan tersebut serta mencegah kejadian serupa terulang. (*)
Editor : Jamil Qasim