batampos – Harga emas di Batam melonjak Rp70 ribu pada Senin (23/2), memicu lonjakan aktivitas di sejumlah toko emas, terutama di pusat perbelanjaan. Warga ramai membeli emas sebagai investasi sekaligus menjual atau menukar emas untuk kebutuhan jelang Ramadan dan Idul Fitri.
Di kawasan Mega Mall Batam Centre, suasana toko emas tampak lebih ramai dari biasanya. Pengunjung datang silih berganti sejak siang hingga sore hari.
Akbar, salah seorang penjaga toko, mengatakan kenaikan harga mengikuti penyesuaian dari pusat di Jakarta.
“Perbandingan naik dari semalam itu kenaikan Rp70 ribu. Kita di cabang menyesuaikan harga dari pusat,” ujarnya.
Menurutnya, harga emas sempat stabil pada pekan lalu sebelum kembali melonjak di awal pekan. Meski harga naik, minat masyarakat tidak surut. Mayoritas pembeli datang untuk investasi jangka panjang.
Pola transaksi pun beragam. Ada yang membeli sedikit demi sedikit saat memiliki dana, ada pula yang melakukan tukar tambah.
“Misalnya dia jual emas kecil lalu beli yang lebih besar. Atau kalau butuh uang, dia jual yang besar ambil yang kecil,” jelas Akbar.
Fenomena ini menunjukkan emas masih dipandang sebagai aset aman (safe haven), terutama menjelang Ramadan saat kebutuhan likuiditas meningkat. Selain investasi, emas juga menjadi cadangan dana darurat yang mudah dicairkan.
Akbar menyebut pembelian dalam jumlah besar relatif jarang. Kebanyakan konsumen membeli bertahap sesuai kemampuan. Jenis emas 24 karat menjadi yang paling diminati, termasuk di kalangan generasi muda.
“Yang paling laris itu emas 24 karat. Banyak diminati Gen Z,” katanya.
Adapun daftar harga emas per Senin (23/2) di toko tersebut antara lain logam mulia bersertifikat Rp2,778 juta per mayam (plus upah), emas bahan Rp2,751 juta, emas 24 karat lebih dari 45 gram Rp2,888 juta, emas 24 karat 18–40 gram Rp2,915 juta, emas 24 karat hingga 4 gram Rp2,970 juta, emas 750 Rp2,530 juta, dan emas 700 Rp2,338 juta.
Di tengah fluktuasi harga dan kebutuhan musiman, emas tetap menjadi pilihan utama warga Batam. Kenaikan Rp70 ribu tak menyurutkan minat pembeli, justru dianggap sebagai pengingat bahwa investasi bisa dimulai sedikit demi sedikit. (*)
Editor : Jamil Qasim