Batampos - Menteri Urusan Perang Amerika Serikat, Pete Hegseth, menyambut Menteri Pertahanan Republik Indonesia (RI) Sjafrie Sjamsoeddin, di Gedung Pertahanan AS, Pentagon, Selasa (14/4/2026). Pertemuan itu sebagai puncak dari pengumuman Kerja Sama Pertahanan Utama (Major Defense Cooperation Partnership) antara kedua negara.
Kedua negara mengklaim, kerjasama bilateral ini bertujuan menjaga perdamaian dan stabilitas kedua negara, khususnya di kawasan Indo-Pasifik.
"Kunjungan Anda menunjukkan pentingnya hubungan keamanan yang terus berkembang serta aktif dan bertumbuh antara Departemen Urusan Perang dan Pemerintah Indonesia," ujar Hegseth kepada Menhan Sjamsoeddin, kemarin.
Dalam pembicaraan itu, Dia juga menambahkan bahwa kedua negara ternyata melaksanakan lebih dari 170 latihan militer bersama setiap tahunnya.
"Kemitraan ini mencerminkan kekuatan dan potensi hubungan keamanan kita, memperkuat daya tangkal kawasan, serta memajukan komitmen bersama terhadap perdamaian melalui kekuatan bersama. Ini menjadi sejarah bagi AS dan Indonesia," tambah Hegseth.
Dalam pernyataan singkatnya, Sjamsoeddin menegaskan pandangan Hegseth mengenai kuatnya hubungan bilateral.
"Hari ini, kami hadir sebagai delegasi Indonesia. Dengan semangat besar untuk terus mengembangkan hubungan pertahanan, yang harus berkelanjutan bagi generasi mendatang di Indonesia dan AS," ujar Sjamsoeddin.
Baca Juga: Gagal Curanmor, Pelarian Residivis Pencuri Angpau Rp 20 Juta Berakhir
"Kita bekerja atas dasar saling menghormati dan saling menguntungkan untuk meningkatkan nilai kepentingan nasional masing-masing," tambahnya.
Ada pun kerjasama pertahanan kedua negara ini terdiri dari tiga pilar utama, yakni organisasi militer dan peningkatan kapasitas, pelatihan dan pendidikan militer profesional, serta pelatihan dan kerjasama operasional. "Prinsip ini didasarkan pada kedaulatan nasional dan saling menghormati antar dua negara," ujar Hegseth.
Dalam kerangka perjanjian tersebut, baik Indonesia maupun AS menjajaki inisiatif mutakhir, termasuk pengembangan bersama kemampuan asimetris yang canggih, pelopor teknologi pertahanan generasi berikutnya di bidang maritim, bawah laut, dan sistem otonom udara, serta kerja sama dalam dukungan pemeliharaan, perbaikan, dan sistem overhaul guna meningkatkan kesiapan operasional, sebagaimana tertuang dalam pernyataan bersama.
Dalam sejarah kerjasama militer di masa lampu, Hegseth menyampaikan Indonesia berjasa membantu AS dalam proses pemulangan jenazah prajurit yang gugur pada saat itu. (*)
Editor : Chahaya Simanjuntak