Batampos - Pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei menyerukan negaranya tetap solid di tengah tekanan konflik dengan Amerika Serikat (AS). Ia membantah klaim Presiden AS Donald Trump yang menyebut kepemimpinan Iran sedang kacau.
"Persatuan akan semakin kuat, sementara musuh akan semakin lemah," ujar Khamenei dalam pernyataannya seperti dikutip dari Reuters, Jumat (24/4/2026).
Ketegangan meningkat setelah Iran menggunakan taktik kapal cepat dalam jumlah besar untuk menangkap kapal kargo di Selat Hormuz. Aksi ini menunjukkan perubahan strategi militer Teheran dalam menghadapi tekanan AS.
Sementara itu, konflik juga terus berlanjut di selatan Libanon. Militer Israel melaporkan serangan roket dan drone oleh Hezbollah, yang dibalas dengan serangan udara yang menewaskan tiga militan.
Baca Juga: Tanjung Banon Disiapkan Jadi Pusat Ekonomi Baru, Bukan Sekadar Kawasan Transmigrasi
Meski gencatan senjata diperpanjang, bentrokan masih terjadi dan menjadi salah satu yang paling mematikan sejak kesepakatan sebelumnya pada 16 April 2026 lalu.
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, bahkan mengatakan, pihaknya siap melancarkan serangan lanjutan ke Iran jika mendapat lampu hijau dari AS.
Di tengah situasi tersebut, hubungan antara Amerika Serikat dan sekutu NATO juga mengalami ketegangan. Washington D.C mempertimbangkan langkah tegas terhadap negara-negara yang dinilai tidak mendukung operasi militer AS.
Dalam kesempatan itu, Trump mengatakan tidak akan menggunakan senjata nuklir dalam konflik Timur Tengah ini, meskipun mengklaim AS telah melemahkan Iran dengan kekuatan militer konvensional.
Konflik berkepanjangan selama delapan pekan ini terus memberi tekanan pada stabilitas global, khususnya pasar energi dan keamanan kawasan Timur Tengah. (*)
Editor : Chahaya Simanjuntak