batampos – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Jerman kian terbuka. Presiden AS, Donald Trump, melontarkan kritik keras terhadap Kanselir Jerman, Friedrich Merz, menyusul perbedaan pandangan terkait konflik Iran.
Melalui media sosial, Trump menegur Merz agar tidak mencampuri kebijakan luar negeri AS dan lebih fokus pada persoalan domestik Jerman.
Ia bahkan membela kebijakan militernya dengan menyebut langkah terhadap Iran sebagai upaya menjaga keamanan global.
Baca Juga: Iran Tuduh Pentagon Bohongi Publik soal Biaya Perang, Klaim Beban Konflik Tembus Rp1.600 Triliun
Pernyataan tersebut merupakan respons atas kritik Merz sebelumnya yang menilai Washington terlibat dalam konflik tanpa strategi keluar yang jelas.
“Anda tidak hanya harus masuk, tetapi juga harus keluar,” kata Merz, merujuk pada pengalaman panjang AS di Afghanistan dan Irak.
Saling kritik ini menandai meningkatnya ketegangan dalam hubungan transatlantik, terutama di tengah konflik Iran yang terus berkembang.
Di tengah situasi tersebut, Trump juga membuka kemungkinan pengurangan jumlah pasukan AS di Jerman. Langkah ini memicu kekhawatiran terhadap stabilitas aliansi NATO, yang selama ini menjadi pilar keamanan Eropa.
Baca Juga: Sidang Perdana, Eks Sales Manager Hotel Batam Didakwa Gelapkan Rp393 Juta
Pemerintah Jerman berupaya meredam ketegangan. Menteri Luar Negeri Jerman, Johann Wadephul, menyatakan pihaknya tetap berkomitmen pada kerja sama dalam NATO.
“Kami menunggu keputusan dari pihak Amerika dan tetap berkoordinasi dalam kerangka NATO,” ujarnya.
Konflik Iran kini tidak hanya berdampak pada kawasan Timur Tengah, tetapi juga menguji soliditas aliansi Barat. Sejumlah langkah militer AS bersama Israel disebut dilakukan tanpa konsultasi luas dengan sekutu, memperlebar perbedaan pandangan di antara negara-negara Barat.
Meski demikian, Merz menegaskan Jerman tetap berpegang pada kemitraan transatlantik.
Baca Juga: Dinkes Batam: Hipertensi Dominasi Kasus Penyakit Januari-Maret 2026
“Komitmen kami tetap pada NATO yang kuat dan kerja sama yang dapat diandalkan,” ujarnya.
Dengan perbedaan sikap yang semakin tajam, hubungan antara AS dan Eropa kini memasuki fase penuh tekanan, sekaligus menjadi ujian serius bagi masa depan aliansi Barat. (*)
Editor : M Tahang