Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

Korea Selatan Bikin Lomba Tidur Siang, Cara Unik Lawan Budaya Kerja Ekstrem

Juliana Belence • Selasa, 5 Mei 2026 | 18:15 WIB
Korea Selatan adakan lomba tidur siang. (x.com/PhilippineStar)
Korea Selatan adakan lomba tidur siang. (x.com/PhilippineStar)

batampos - Sebuah pemandangan tak biasa terlihat di kawasan Sungai Han, Seoul, ketika ratusan orang berkumpul untuk tidur bersama dalam sebuah kompetisi. Kegiatan ini merupakan “Power Nap Contest”, yang menjadi acara tahunan yang kini viral secara global karena konsepnya yang unik.

Lomba ini justru menilai kemampuan seseorang untuk benar - benar rileks dan tertidur. Ratusan peserta dari berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa hingga pekerja kantoran berkumpul di ruang terbuka untuk melakukan aktivitas yang jarang mereka dapatkan. 

Para peserta mengenakan kostum unik bertema tidur sebelum berbaring di atas matras dan bean bag yang telah disediakan panitia.

Lomba memiliki aturan yang tidak biasa. Peserta diwajibkan datang dalam kondisi lelah dan sudah makan agar lebih mudah tertidur. 

Penilaian dilakukan menggunakan metode ilmiah, yakni pemantauan detak jantung untuk mengukur tingkat relaksasi dan kualitas tidur. Semakin stabil detak jantung, semakin tinggi peluang peserta untuk menang.

Baca Juga: Ledakan Pabrik Kembang Api di China Tewaskan 21 Orang, Puluhan Lainnya Luka-Luka

Panitia juga menguji konsentrasi tidur peserta dengan gangguan ringan seperti suara atau sentuhan lembut untuk melihat apakah mereka tetap bisa tidur nyenyak di tengah distraksi. 

Pemenang lomba tahun ini adalah seorang pria berusia 80-an tahun. Ia mengalahkan peserta lain yang sebagian besar merupakan pekerja muda yang mengalami kelelahan akibat rutinitas kerja.

"Korea Selatan termasuk negara dengan tingkat kurang tidur tertinggi di antara anggota Organisation for Economic Co-operation and Development," tulis Data, dikutip dari Reuters, Selasa (5/5).

Budaya kerja panjang, tekanan akademik, serta gaya hidup urban yang serba cepat membuat banyak warga hanya tidur 3 – 4 jam per malam dan mengandalkan kafein untuk bertahan.

Seorang mahasiswa peserta lomba bahkan mengaku hanya tidur beberapa jam setiap malam karena harus membagi waktu antara kuliah dan pekerjaan paruh waktu. 

Pekerja kantoran mengatakan kelelahan akibat lembur dan perjalanan kerja panjang menjadi alasan utama mereka mengikuti kompetisi ini.

Pemerintah kota ingin mengubah persepsi masyarakat bahwa tidur bukanlah tanda kemalasan, tetapi kebutuhan vital untuk kesehatan fisik dan mental. 

Ajang tersebut juga menjadi simbol perlawanan terhadap budaya kerja tanpa henti yang telah lama melekat di masyarakat Korea Selatan.(*)

Editor : Juliana Belence
#Power Nap Contest #korea selatan #peserta bpjs #tidur #lomba